Kediri (tahukediri.id) – Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) terus melakukan pengembangan pada wisata Gunung Kelud.
Selain jalan parkir puncak Gunung Kelud, Disparbud Kabupaten Kediri juga menyiapkan food court di puncak gunung setinggi 1.731 mdp tersebut.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Mustika Prayitno Adi mengatakan pihaknya tengah menyiapkan skema pengelolaan food court di kawasan wisata dengan melibatkan paguyuban pedagang.
“Iya, kita rencana mau sosialisasi kita kumpulkan nanti skema yang paling anu kita tawarkan gitu, kita sebenarnya ada beberapa skema. Salah satunya yang sedang kita godok itu,” katanya.
Mustika melanjutkan, skema tersebut disiapkan agar pengelolaan tidak hanya dinikmati oleh pihak tertentu, tetapi dapat memberikan manfaat secara bersama-sama bagi para pedagang yang telah beraktivitas di kawasan tersebut.
Salah satu skema yang tengah digodok adalah pengelolaan melalui paguyuban atau koperasi.
“Mungkin secara paguyuban bukan perorangan yang mengelola. Ininya gitu rencana kemarin demikian. Jadi tidak perorangan tapi paguyuban mungkin koperasi, bisa ada yang menjaga biar mereka menikmati bersama. ujarnya,” terangnya.
Menurutnya, paguyuban yang sudah ada saat ini dinilai menjadi pihak yang paling memungkinkan untuk mengelola lapak-lapak tersebut.
Para pedagang nantinya dapat membahas mekanisme pengelolaan, termasuk kemungkinan sistem patungan, pembagian hasil, maupun pembagian jadwal penjagaan lapak.
Mustika menjelaskan, ukuran lapak yang tersedia memang relatif kecil. Karena itu, konsep yang disiapkan lebih diarahkan untuk usaha ringan seperti kedai kopi atau usaha kuliner skala kecil.
“Lapaknya kecil-kecil, mungkin fungsinya untuk kedai kopi aja semacam itu aja,” terangnya.
Namun demikian, pemerintah daerah juga masih mempertimbangkan keberadaan pedagang lain yang selama ini telah berjualan di sekitar area parkir. Penataan akan dilakukan dengan memperhatikan keberadaan pedagang lama agar tidak menimbulkan resistensi.
“Itu nanti ya perlu komunikasi juga agar jangan sampai ada resistensi dengan pedagang yang lama di situ dan itu perlu penataan juga soalnya. Jangan sampai nanti akhirnya terkesan liar. Nah itu yang perlu kita hindari,” tegasnya.
Ia menambahkan, pihaknya akan melakukan sosialisasi dan mengumpulkan para pedagang untuk membahas skema pengelolaan yang paling sesuai. Beberapa alternatif masih disiapkan sebelum nantinya diputuskan mekanisme yang akan diterapkan.
“Rencana mau sosialisasi, kita kumpulkan. Nanti skema yang paling sesuai kita tawarkan. Sebenarnya ada beberapa skema, salah satunya yang sedang kita godok adalah paguyuban,” imbuhnya.
Mustika melanjutkan, pertemuan dengan para pedagang direncanakan dalam waktu dekat, setelah proses serah terima pekerjaan selesai. Ia memperkirakan sosialisasi dapat dilakukan pada Oktober.
Sementara itu, pembangunan food court yang berada di area tersebut saat ini disebut telah selesai. Setidaknya ada delapan unit yang siap untuk digunakan.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan tinggal menunggu proses serah terima pekerjaan sebelum melakukan penataan dan pengelolaan lebih lanjut.
Sementata untuk pengembangan fasilitas ke depan, pemerintah daerah masih akan melihat perkembangan kawasan wisata tersebut. Jika jumlah pengunjung dan kebutuhan parkir meningkat, penambahan fasilitas penunjang, termasuk food court, tetap terbuka untuk dipertimbangkan.
“Kalau nanti dengan perkembangan waktu dinilai perlu penambahan tempat parkir, sehingga perlu amenitas yang lain seperti food court lagi, mungkin bisa kita pertimbangkan,” terang Mustika.
Sementara kios-kios yang berada di kawasan parkir lama tetap beroperasi tanpa merubah bentuk.
Untuk diketahui, parkir wisata Gunung Kelud terbagi menjadi tiga lokasi dengan fungsi saling melengkapi. Area parkir dekat loket disebut sebagai parkir satu.
Area yang saat ini digunakan untuk aktivitas pedagang, termasuk saat kegiatan Larung Saji, disebut parkir dua. Sementara area parkir baru di sekitar kawah akan menjadi parkir tiga.
Dengan konsep tersebut, penataan kawasan diharapkan dapat berjalan beriringan dengan pengembangan fasilitas wisata, sekaligus tetap memberikan ruang bagi para pedagang yang selama ini menggantungkan aktivitas ekonominya di kawasan tersebut. [nik/ang]

