Kediri (tahukediri.id) – Proses penataan pedagang di Pasar Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, mulai memasuki tahap pengundian lapak pada Selasa (3/10/2026).
Sebanyak 523 pedagang yang telah terdata dan mendapat sosialisasi sebelumnya dipastikan mendapatkan alokasi tempat berjualan dengan total sekitar 664 lapak.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih mengatakan, pengundian dilakukan secara bertahap berdasarkan zona dan jenis dagangan.
“Ini kita memulai terkait dengan pengundian lapak sesuai dengan zona jualan. Kalau hari ini kami mengundang 75 pedagang mulai dari aksesoris, kemudian kerupuk, kemudian abrak, plastik,” katanya.
Tutik melanjutkan, pengundian sengaja tidak dilakukan sekaligus. Selain menyesuaikan kelompok jenis dagangan, tahapan tersebut memberikan kesempatan kepada pedagang untuk mempersiapkan diri dan berkoordinasi dengan sesama pedagang.
“Jadi memang tidak bersamaan, mengingat teman-teman juga perlu mempersiapkan lokasi dan juga biar teman-teman antarzonasi bisa diskusi masing-masing terkait dengan tindak lanjut tempat jualan masing-masing,” ujarnya.
Pengundian selanjutnya menyasar pedagang buah, tahu, tempe, dan telur sebanyak Kemudian disusul perancangan sebanyak kurang lebih 125 orang pada tahap berikutnya. Dilanjut kelompok pedagang lainnya hingga pedagang kios sebanyak 47 orang dan pedagang daging 39 orang untuk jadwal selanjutnya.
Dari total 523 pedagang yang sudah dipastikan, jumlah lapak yang disiapkan mencapai sekitar 664 unit. Namun, Disdagperin masih menerima tambahan pendaftar yang masuk daftar tunggu. Bahkan, jumlahnya hampir mencapai 80 orang.
Meski belum semuanya bisa difasilitasi, Tutik menyebut sebagian pedagang masih memiliki alternatif berjualan di pelataran, pada hari-hari tertentu, maupun pada sore hari sehingga kebutuhan tempat berjualan mereka dapat diakomodasi.
“Kemarin dari teman-teman sebagian memang ada yang jualan di hari, jadi enggak perlu lapak, mereka di pelataran bisa, dan juga yang sore hari. Jadi beberapa sudah ter-cover untuk jualannya” katanya.
Tutik menegaskan, mekanisme undian dipilih agar seluruh pedagang memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh lokasi sesuai hasil undian.
“Yang pertama, kita betul-betul berusaha seadil-adilnya dengan teman-teman pedagang. Jadi kalau misalkan satu petak itu isinya 20 pedagang, misalkan, kita tidak bisa menentukan langsung tempat A, Bu, ini di sini, nggak. Biar mereka memang sesuai dengan keadilan ya, itu biar adil betul,” tegasnya.
Untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya persoalan setelah pengundian, Disperdagin Kabupaten Kediri memberi kesempatan pada pedagang yang memiliki hubungan keluarga, seperti suami-istri atau orang tua dan anak yang sama-sama berjualan jenis dagangan serupa untuk memperoleh lapak yang berdekatan.
Begitu juga pedagang yang memiliki lebih dari satu lapak. Mereka diperbolehkan mengambil nomor secara bersamaan sesuai jumlah alokasi yang dimiliki, dengan ketentuan maksimal empat lapak untuk satu orang.
Untuk memudahkan proses penempatan, meja pengundian juga dilengkapi peta lokasi. Dengan demikian, setelah memperoleh nomor, pedagang bisa langsung mengetahui posisi lapak dan melakukan konfirmasi sebelum pengecekan di lapangan.
Disperdagin juga mengantisipasi adanya potensi
penyalahgunaan lapak, terutama praktik penyewaan maupun jual beli tempat berjualan.
Tutik mengingatkan bahwa lapak yang sudah diberikan kepada pedagang tidak boleh dialihkan begitu saja kepada orang lain.
Pihaknya juga telah menyiapkan kartu pedagang yang berkaitan dengan data pembayaran parkir dan retribusi. Identitas pedagang akan menjadi salah satu instrumen pengawasan saat pasar mulai beroperasi.
Jika ditemukan pedagang yang terdaftar tetapi dalam waktu cukup lama tidak lagi berjualan dan posisinya justru ditempati orang lain, pihak dinas akan melakukan konfirmasi.
“Di Ngadiluwih nanti ada kartu sesuai dengan bayarnya masing-masing. Itu yang pertama untuk parkir dan juga retribusi, itu yang pertama.
Kemudian kalau misalkan tempat yang sebelumnya diisi, katakanlah Bu Tutik, kemudian besoknya kok sudah ganti orang, itu pasti ada konfirmasi dari teman-teman. Ini siapa? Kalau sehari dua hari, seminggu kita masih maklum, tapi begitu sebulan, 2 bulan itu kita konfirm. Ini siapa dan nanti datanya seperti apa. Itu yang pengalaman kami sampai ketemu ada sewa-menyewa sebelumnya itu ya seperti itu,” jelasnya.
Tutik menegaskan, apabila ditemukan pengalihan lapak yang tidak sesuai ketentuan, Disdagperin akan melakukan penertiban melalui mekanisme yang berlaku.
Pedagang yang tidak lagi membutuhkan lapak harus mengembalikannya kepada dinas. Mereka tidak diperbolehkan menyerahkan langsung kepada orang lain karena berpotensi membuka praktik transaksi terselubung.
“Kembalikan dulu ke kami, nanti kami proses untuk daftar. Seperti itu. Jadi tidak bisa langsung diambil alih kan, itu tidak bisa seenaknya,” tegasnya.
Di tengah proses pengundian, para pedagang juga mulai merasakan kepastian mengenai lokasi usaha mereka.
Salah satunya Endang, pedagang kerupuk mentah berusia 48 tahun asal Purwokerto. Dalam pengundian tersebut, ia mendapatkan lapak nomor 61.
Endang mengaku sempat merasa deg-degan ketika mengikuti proses pengundian. Namun, ia bersyukur karena akhirnya mendapatkan nomor lapak dan proses berjalan aman.
“Deg-degan. Tapi aman, sudah dapat lapak,” ungkap Endang sambil tertawa.
Endang bukan pedagang baru di kawasan tersebut. Sebelum pembangunan pasar, ia sudah berjualan di lokasi yang sama, meski selama proses pembangunan harus menempati tempat penampungan sementara (TPS) di bagian depan pasar, dekat pintu masuk.
Disdagperin menargetkan para pedagang mulai menempati lokasi baru pada Desember mendatang. Jadwal perpindahan akan disesuaikan dengan kesiapan pasar dan agenda peresmian oleh Bupati Kediri.
Tutik berharap seluruh proses pengundian hingga penempatan lapak dapat berjalan lancar sehingga tidak terjadi persoalan ketika pasar mulai beroperasi.
“Insyaallah Desember minggu 1 minggu 2, mereka harus sudah jualan. Kalau nanti misalkan minggu kesatunya sudah peresmian, sesuai dengan nanti jadwalnya Mas Bupati dan juga kesiapan semuanya nggih, teman-teman pedagang, minggu kedua berarti harus sudah pindah. Kalau misalkan nanti peresmiannya akhir November ini, berarti awal Desember sudah mulai persiapan pindah. Totally semuanya pindah, minggu ketiga Desember harus sudah masuk. Jadi nanti malam tahun baru minimal sudah masuk di sini semu,” tandasnya. [nik/ang]

