Kediri (tahukediri.id) – Pemerintah Kabupaten Kediri kembali mengalokasikan anggaran sebesar Rp30 miliar untuk berbagai program beasiswa pada tahun 2026. Program tersebut menyasar peserta didik mulai jenjang SD, SMP, SMA hingga mahasiswa sebagai upaya memperluas akses pendidikan sekaligus mempercepat pengentasan kemiskinan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menegaskan pendidikan masih menjadi cara paling efektif untuk memutus rantai kemiskinan. Karena itu, seluruh anggaran beasiswa harus benar-benar diterima oleh anak-anak yang membutuhkan, bukan hanya berdasarkan data administratif.
“Ya karena saya percaya sampai dengan hari ini bahwa untuk memutus mata rantai kemiskinan paling cepat itu adalah dengan pendidikan,” ujar Mas Dhito.
Menurutnya, program beasiswa yang telah berjalan selama ini telah menghasilkan banyak kisah sukses. Salah satunya berasal dari SMA Dharma Wanita, di mana anak-anak dari keluarga buruh tani, penjual kelapa muda hingga kuli bangunan mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi ternama seperti Universitas Brawijaya (UB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
“Artinya mereka mengangkat derajat keluarganya dengan pendidikan,” imbuhnya.
Mas Dhito juga meminta Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri tidak hanya mengacu pada data desil kemiskinan saat menentukan penerima beasiswa. Ia meminta petugas melakukan survei langsung ke lapangan untuk memastikan kondisi ekonomi calon penerima benar-benar layak mendapatkan bantuan.
“Rp30 miliar ini harus betul-betul diterima oleh anak-anak yang ada dalam kondisi miskin atau miskin ekstrem. Saya enggak bicara desil hari ini untuk beasiswa. Kenapa? Ada anak yang sebenarnya dia miskin tapi masuknya di desil empat. Jadi cek ke lapangan, cek rumahnya, cek orang tuanya. Betul enggak dia membutuhkan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri Mokhamat Muhsin menjelaskan anggaran Rp30 miliar tersebut dialokasikan untuk sejumlah program, di antaranya Beasiswa Berdaya bagi siswa yang naik jenjang pendidikan, beasiswa mahasiswa, beasiswa guru PAUD, Beasiswa Berani bagi atlet berprestasi, serta beasiswa santri.
Untuk kategori mahasiswa, Pemkab Kediri menyediakan kuota sekitar 500 penerima, sedangkan jumlah pendaftar mencapai sekitar 1.200 orang. Kondisi tersebut membuat proses seleksi dilakukan secara ketat melalui verifikasi administrasi dan pengecekan langsung ke lapangan.
“Memang kita ada acuan desil 1 sampai 5, tetapi ketika ada pemohon, walaupun dia masuk desil 7 atau desil 6 secara administrasi, ketika kita cek di lapangan mereka lebih membutuhkan itu. Artinya sering terjadi orang tua ketika pendataan kemarin mampu, kemudian misalnya usahanya bangkrut, sekarang enggak punya apa-apa, rumahnya dijual atau sekarang rumahnya kontrak, padahal dulu punya rumah, ada terjadi seperti itu,” jelas Muhsin.
Ia menambahkan besaran bantuan disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Siswa yang melanjutkan ke SD memperoleh bantuan Rp1 juta, jenjang SMP Rp1,5 juta, jenjang SMA Rp2 juta, sedangkan mahasiswa baru menerima bantuan sebesar Rp5 juta.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Kediri juga membuka kesempatan beasiswa lanjutan bagi mahasiswa aktif yang memiliki prestasi akademik dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 3,6.
Saat ini, pendaftaran beasiswa untuk mahasiswa telah ditutup. Sementara pendaftaran Beasiswa Berdaya bagi siswa SD, SMP, dan SMA masih dibuka secara bertahap hingga 2 Agustus 2026 sesuai jadwal masing-masing jenjang.
Program beasiswa tersebut menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Kediri untuk memperluas akses pendidikan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memberikan kesempatan yang lebih besar bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu agar dapat melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. [nik/ang]

