Kediri (tahukediri.id) – Persoalan sampah rumah tangga di Desa Wonocatur, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Universitas Kadiri dari Fakultas Teknik Prodi Teknik Sipil menghadirkan inovasi tempat pembakaran sampah berbasis struktur bata ringan (hebel).
Tempat pembakaran yang dirancang mahasiswa tersebut menjadi salah satu program kerja Kukerta untuk membantu masyarakat menangani sampah rumah tangga yang selama ini belum memiliki sistem pengelolaan secara terorganisasi.
Bendahara Kelompok Kukerta Universitas Kadiri Desa Wonocatur, Agastian, mengatakan ide pembuatan insinerator berawal dari pengamatan mahasiswa terhadap kondisi lingkungan sekitar.
Menurutnya, sebagian masyarakat selama ini menggunakan beton bis untuk membakar sampah. Namun, metode tersebut dinilai kurang optimal karena material beton bis tidak dirancang untuk menahan panas pembakaran secara terus-menerus.
“Kita melihat dari warga sekitar yang lingkungannya banyak sampah belum teroperasi dengan baik, makanya kita punya ide yang bagus atau ide yang inovatif, untuk membangun rocket stove atau insenerator,” ungkapnya saat mendapat kunjungan Lembaga Penelitian, Pengembangan dan Pengabdian masyarakat (LP3M) Universitas Kadiri.
Dirancang Agar Pembakaran Lebih Optimal
Mahasiswa kemudian membuat struktur tempat pembakaran menggunakan bata ringan. Material tersebut dipilih untuk membentuk desain yang dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan pembakaran sampah.
Agastian menjelaskan, beton bis yang sebelumnya digunakan masyarakat relatif mudah mengalami kerusakan akibat paparan panas.
“Kita memikirkan inseneratof ini cukup baik untuk masyarakat. Karena pembakarannya lebih optimal dan penyerapan panasnya juga bagus. Jadi sangat bermanfaat untuk masyarakat,” paparnya.
Desain insinerator juga memperhatikan sirkulasi udara. Mahasiswa membuat jalur masuk udara serta ruang pembakaran sehingga asap dapat bergerak ke bagian atas.
Di bagian bawah dipasang besi penyaring. Komponen tersebut berfungsi membantu proses pengeringan dan pembakaran sampah. Sementara abu atau sisa pembakaran yang telah terkumpul dapat dikeluarkan melalui bagian belakang.
Mahasiswa mengakui belum melakukan pengukuran secara detail mengenai kapasitas maksimal sampah yang dapat dibakar. Namun, berdasarkan dimensinya, struktur tersebut dinilai cukup besar untuk menampung sampah dalam jumlah relatif banyak.
Tujuh Mahasiswa Rampungkan dalam Sehari
Pembuatan satu struktur insinerator tersebut melibatkan tujuh mahasiswa Fakultas Teknik Prodi Teknik Sipil. Pengerjaan fisiknya dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu hari.
Menurut Agastian, bagian yang cukup membutuhkan ketelitian justru proses pemotongan bata ringan karena harus mengikuti desain tertentu.
“Yang lamanya motong batanya itu pakai gergaji. Kemudian kita mendesain juga cukup memikirkan bagusnya seperti apa,” terangnya.
Untuk satu struktur, mahasiswa memperkirakan kebutuhan material sekitar satu meter kubik atau kurang lebih 40 bata ringan.
Desain dibuat dengan sejumlah bagian miring sehingga pemotongan bata harus disesuaikan agar struktur dapat dibangun sesuai rancangan sekaligus memiliki tampilan yang rapi.
Berangkat dari Persoalan Nyata di Desa
Kepala Bidang Penelitian LP3M Universitas Kadiri, Dr. Hendy, S.Si., M.Si mengatakan program tersebut menarik karena mahasiswa terlebih dahulu mengidentifikasi persoalan di masyarakat sebelum menentukan bentuk kegiatan.
Mahasiswa berdiskusi dengan pemerintah Desa Wonocatur dan mendapatkan informasi bahwa desa belum memiliki sistem pengelolaan sampah secara terorganisasi.
Selama ini, masyarakat cenderung menangani sampah rumah tangga secara mandiri.
“Dari informasi itu, setiap kepala keluarga membakar sendiri-sendiri sampahnya. Kemudian berdiskusi dengan kepala desa, bagaimana kalau dibuatkan sistem pembakaran sampah yang ramah lingkungan,” jelas Dr. Hendy.
Menurutnya, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa program Kukerta tidak hanya berorientasi pada kegiatan seremonial. Mahasiswa mencoba menerapkan keilmuan yang dimiliki untuk menjawab kebutuhan konkret masyarakat.
“Jadi mereka sudah melakukan inovasi yang berbasis masalah yang ada di Wonocatur. Dibuatkan sebuah desain untuk tempat pembakaran sampah, tetapi bangunannya dibuat sedemikian rupa, tidak terhirup oleh masyarakat sendiri,” tambahnya.
Kapasitas Masih Perlu Dikaji
Meski mengapresiasi inovasi mahasiswa, dosen Fakultas Teknik Prodi Teknik Sipil Universitas Kadiri ini menilai masih terdapat aspek yang perlu diteliti lebih lanjut, terutama mengenai kapasitas pembakaran.
Menurutnya, ukuran bangunan perlu dibandingkan dengan jumlah kepala keluarga di Desa Wonocatur untuk mengetahui apakah fasilitas tersebut mampu memenuhi kebutuhan pengelolaan sampah masyarakat secara lebih luas.
“Yang perlu diteliti lebih lanjut kapasitas, karena kita lihat dengan lebar luas dimensinya apakah bisa memenuhi seluruh kepala rumah tangga di desa tersebut, dikatakan belum ada kajian lebih lanjut,” ujar dosen sekaligus peneliti Universitas Kadiri itu.
Lokasi pembangunan juga telah dikoordinasikan dengan pemerintah desa. Sejumlah pohon yang berada di bagian depan lokasi rencananya akan ditangani agar keberadaan fasilitas tidak mengganggu lingkungan sekitar.
Peraih gelar Doktor dalam bidang Ilmu Matematika Komputasi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada April 2025 itu menyebut pemerintah desa telah memberikan persetujuan terhadap lokasi tersebut dan menyiapkan kondisi lingkungan agar fasilitas pembakaran sampah dapat dimanfaatkan.
Inovasi mahasiswa Fakultas Teknik Prodi Teknik Sipil Universitas Kadiri tersebut diharapkan menjadi langkah awal bagi Desa Wonocatur untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terarah. Namun, pengembangan berikutnya tetap membutuhkan kajian kapasitas, keamanan operasional, pengendalian emisi, serta pengelolaan residu agar manfaatnya benar-benar berkelanjutan bagi masyarakat. [nik/ang]

