Kediri (tahukediri.id) – Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Sosial menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) buruh Pabrik Rokok Gudang Garam & Dua Dewi Kota Kediri yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), Sabtu (3/10/2026).
Tahun ini, total terdapat 4.245 penerima BLT DBHCHT di Kota Kediri. Jumlah tersebut terdiri dari 3.292 buruh pabrik rokok Gudang Garam dan 953 penerima dari non-Gudang Garam.
Penyaluran dilakukan di beberapa wilayah Kota Kediri, salah satunya di Kelurahan Banjaran yang melayani 1.622 orang penerima dari 28 Kelurahan.
Kepala Dinas Sosial Kota Kediri, Imam Muttakin, mengatakan penyaluran bantuan dilakukan melalui sejumlah tahapan. Penerima terlebih dahulu melihat nomor urut, kemudian menjalani proses verifikasi kelengkapan dokumen sebelum diarahkan ke loket Bank Jatim untuk pencairan bantuan.
“Pertama melihat nomor urut, kemudian masuk tahap verifikasi kelengkapan yang harus dibawa. Setelah diverifikasi, diarahkan ke loket Bank Jatim untuk melakukan pencairan dana,” ujar Imam.
Imam menjelaskan, bantuan tersebut diberikan kepada individu buruh pabrik rokok, sehingga jika dalam satu KK terdapat lebih dari satu anggota keluarga yang memenuhi kriteria sebagai buruh pabrik rokok, masing-masing tetap dapat menerima bantuan.
“Ya, pokoknya yang bersangkutan bekerja di buruh pabrik rokok, walaupun satu KK lebih dari satu,” terangnya.
Nilai bantuan tahun ini tetap dipertahankan sebesar Rp1 juta per penerima. Menurut Imam, jumlah tersebut tidak mengalami perubahan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kita pertahankan, Mbak. Jadi tetap kita pertahankan Rp1 juta walaupun di beberapa kabupaten kan ada penurunan tapi untuk Kota Kediri tetap dipertahankan 1 juta,” terangnya.
Jumlah penerima juga relatif stabil dari tahun ke tahun, yakni berada pada kisaran 4.200 hingga 4.500 orang.
Imam menyebut, penerima BLT DBHCHT tidak hanya berasal dari pabrik rokok yang berada di wilayah Kota Kediri. Dinas Sosial juga menjangkau buruh pabrik rokok yang bekerja di luar daerah, selama yang bersangkutan masih tercatat sebagai penduduk Kota Kediri.
“Jadi tidak hanya pabrik rokok di kota saja, ini pabrik rokok di luar kota juga kita jangkau tapi yang ber-KTP kota buruhnya. Jadi Tulungagung, Blitar, Pasuruan, beberapa itu yang ber-KTP kota kita jangkau pabriknya, kemudian kita apa namanya masukkan ke penerima,” jelasnya.
Imam menyebut, hingga kini terdapat tiga pabrik rokok yang masih aktif di wilayah Kota Kediri. Meski begitu, pihaknya juga melakukan pendataan terhadap buruh yang bekerja di sejumlah daerah seperti Tulungagung, Blitar hingga Pasuruan.
Dalam proses pendataan, pihak pabrik rokok turut berperan aktif mengusulkan calon penerima. Dinas Sosial kemudian melakukan verifikasi terhadap status kependudukan sebelum bantuan diberikan.
Lebih jauh Imam menjelaskan, sejauh ini tidak ada kendala berarti dalam penyaluran tersebut. Hanya saja persoalan yang sering ditemukan adalah adanya penerima yang tiba-tiba pindah domisili ke luar Kota Kediri sehingga tidak lagi memenuhi ketentuan sebagai penerima.
“Cuma kalau yang ini ini kendalanya yang paling ini banyak masyarakat yang mendadak pindah gitu loh, Mbak. Jadi yang awalnya dia penduduk kota kemudian pindah kabupaten, kan itu kan enggak bisa kita berikan kalau sudah pindah kependudukan,” ungkapnya.
Dalam proses penyaluran tersebut, bagi penerima yang berhalangan mengambil bantuan secara langsung, pencairan dapat diwakilkan dengan catatan membawa surat kuasa yang ditandatangani dan dilengkapi materai.
Pencairan hari ini sendiri berlangsung hingga pukul 13.00 WIB. Namun bagi penerima yang belum mengambil bantuan, masih diberikan kesempatan untuk melakukan pencairan hingga Selasa melalui Bank Jatim Cabang Kediri.
Pencairan dana BLT DBHCT tersebut menjadi angin segar sendiri bagi buruh rokok. Salah satunya Diah, warga Kelurahan Rejomulyo, mengaku bantuan Rp1 juta tersebut sangat membantu memenuhi kebutuhan di tengah meningkatnya biaya hidup.
“Di tengah ekonomi yang sekarang ini, apa-apa mahal, terus gaji yang sangat mepet. Jadi menurut saya walaupun sekecil apa pun itu bisa sangat membantu untuk membeli kebutuhan,” kata Diah.
Diah yang bekerja di Gudang Garam tersebut mengaku sudah tiga kali menerima bantuan serupa. Ia juga mengapresiasi proses pencairan tahun ini yang dinilai lebih cepat dibandingkan tahun sebelumnya.
“Saya berterima kasih dengan kooperatifnya petugas di sini sama pemerintah kota juga. Alhamdulillahnya yang ini tuh lebih cepat daripada yang tahun kemarin, Mbak. Tahun kemarin itu kan hampir di akhir tahun ya. Ini alhamdulillah bulan 10 kok sudah cair gitu,” ujarnya.
Diah mengatakan uang bantuan tersebut rencananya akan digunakan untuk membantu kebutuhan orang tuanya.
“Buat bantu-bantu orang tua,” tuturnya.
Hal serupa juga diungkapkan, Prasetyo warga Kelurahan Ngletih. Ia merasa bahagian dengan pencarian dana bantuan tersebut.
“Ya cukup membantu Mbak buat tambah-tambah kebutuhan keluarga,” katanya.
Menurutnya, proses pencariannya cepat dan pelayanannya juga baik. “Prosesnya ya cepat, penanganannya juga enak,” ujarnya.
Imam berharap bantuan yang diterima para buruh dapat dimanfaatkan secara bijak sekaligus memberikan dampak terhadap perputaran ekonomi di Kota Kediri. Ia mendorong penerima untuk membelanjakan bantuan tersebut, termasuk melalui pelaku UMKM lokal.
Menurutnya, sasaran BLT DBHCHT ini memang bukan khusus masyarakat miskin, melainkan buruh pabrik rokok yang memenuhi kriteria sebagai penerima. Karena itu, penggunaan bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari diharapkan turut menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah.
“Harapannya bantuan dimanfaatkan dengan baik, terutama untuk berbelanja di UMKM Kota Kediri, supaya ada multiplier effect bagi perekonomian di Kota Kediri,” pungkas Imam. [nik/ang]

