Close Menu
tahukediri.idtahukediri.id
    What's Hot

    Persik Kediri Hentikan Tren Kemenangan Madura United, Eduardo Barbosa Borong Dua Gol

    9 Oktober 2026 - 21:34

    Gelap, Panik, dan Gelombang Besar: Perjuangan Sopir Asal Kediri Selamat dari Tragedi KMP Virgo

    9 Oktober 2026 - 21:30

    Pria Tanpa Identitas Tewas Tertemper KA Singosari, Jasad Ditemukan di Persawahan Gampengrejo Kediri

    8 Oktober 2026 - 20:08
    Facebook X (Twitter) Instagram
    tahukediri.id
    • Beranda
    • News
    • Travel
      • Wisata
      • Kuliner
      • Seni & Budaya
    • Multimedia
      • Foto
      • Video
    • Tahu Hukum
    • Tentang
    • Arsip
    Facebook X (Twitter) Instagram
    tahukediri.idtahukediri.id
    Home»News»Gelap, Panik, dan Gelombang Besar: Perjuangan Sopir Asal Kediri Selamat dari Tragedi KMP Virgo

    Gelap, Panik, dan Gelombang Besar: Perjuangan Sopir Asal Kediri Selamat dari Tragedi KMP Virgo

    Nanik Dwi JayantiNanik Dwi Jayanti News 9 Oktober 2026 - 21:30
    WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Pinterest Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Kediri (tahukediri.id) – Tragedi tenggelamnya KMP Virgo Transport 8 pada 13 September 2026 meninggalkan pengalaman yang tak bisa dilupakan bagi Irwan Mujiono, warga Dusun Sumberjo, Desa Sumberjo, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri.

    Ia menjadi salah satu korban selamat setelah berjuang menyelamatkan diri di tengah gelapnya malam, sementara rekannya, Aris, sesama warga Kandat hingga saat ini belum ditemukan.

    Irwan menuturkan, dirinya berangkat dari Surabaya pada Sabtu (12/9/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. Ia bersama Aris akan melakukan perjalanan menuju Buntok, Kalimantan Tengah, dengan membawa truk bermuatan suku cadang kendaraan atau sparepart Truk Shacman.

    Banner Promo

    Awalnya, perjalanan berlangsung biasa. Namun, memasuki sekitar pukul 19.00 WITA, Irwan mulai merasakan kapal bergoyang cukup kuat akibat gelombang laut. Kondisi tersebut membuat penumpang merasa tidak nyaman, meskipun menurut cuaca masih cerah.

    Situasi berubah drastis ketika memasuki dini hari, sekitar pukul 01.00 hingga 01.30 WITA pada 13 September 2026.

    “Jam 01.30 malam itu aku masih ingat, jam 01.30 malam itu masih ngantrin jatah makan yang ketiga, yang terakhir. Itu kan jatah makan tiga kali. Jatah makan yang terakhir itu, Teman saya yang belum ketemu ini, masih saya pijitin gini, Mas. Soalnya lagi sakit gigi. Setelah itu, saya sudah enggak tahu lagi jam 01.00 apa jam 01.00 lebih itu ada orang dari luar lari ke dalam itu, “Kapal miring, kapal miring”, gitu,” kenangnya.

    Begitu kapal miring, lanjutnya, orang-orang di dalam langsung panik. Yang sedang tidur banyak yang masih bengong, belum percaya dengan keadaan. Tapi gordennya sudah bergeser semua ke kiri.

    Menurut Irwan, tidak ada alarm darurat maupun pengumuman dari awak kapal yang ia dengar ketika situasi mulai memburuk. Informasi mengenai kondisi kapal justru diketahui dari sesama penumpang.

    “Itu kalau dari luar enggak ada orang yang masuk, kira-kira saya juga sudah nggak ada. Itu kejadiannya 15 menit tidak ada. Cepat,” ujarnya.

    Dalam waktu singkat, kemiringan kapal sudah mencapai 90 derajat. Lampu kemudian padam sehingga kondisi di dalam kapal menjadi gelap gulita.

    “Enggak ada jeda. Umpama ada jeda gitu ya, InsyaAllah masih banyak yang selamat,” ucapnya.

    Di tengah kepanikan tersebut, Irwan berusaha mencari jalan keluar. Ia sempat bergerak ke arah belakang kapal, tetapi jalur itu dipenuhi penumpang.

    Tak menyerah, ia kemudian kembali menuju bagian depan karena menilai jalur tersebut lebih memungkinkan untuk dilewati.

    Beruntung, di dekat pintu ruang istirahat sopir terdapat kotak berisi pelampung yang tidak terkunci. Irwan mengaku menerima pelampung dari seseorang yang berada di dekatnya dan sempat memberikan satu pelampung kepada Aris.

    Namun, ketika dinding bagian dalam kapal pecah dan posisi kapal semakin miring, keduanya akhirnya terpisah.

    Irwan melompat keluar dan sempat berpegangan pada bagian luar kapal. Menurutnya, di sekelilingnya, para penumpang berusaha bertahan hidup dalam situasi yang semakin tidak terkendali.

    “Itu di pinggir-pinggir pagar sebelah kanan itu, Mas. Orang itu sudah berdiri semua gini. Kayak film Titanic itu. Berdiri semua gini,” katanya sambil memperagakan kejadian waktu itu.

    Setelah terlepas dari kapal, Irwan berusaha berenang menjauh karena khawatir terseret ketika kapal tenggelam.

    Irwan sempat memanfaatkan sebuah galon untuk membuatnya tetap mengapung sembari mengatur napas dan tenaga di tengah gelombang air yang besar.

    “Saya lihat jelas itu, di sekitar kapal itu banyak sekali orang itu. Kayak semut disebar gitu loh, tolong tolong tolong tolong, yang di atas kapal, kan kapalnya masih kebalik gini. Itu yang di atas kapal itu saya lihat itu masih, Yang saya lihat itu senternya loh, senternya itu sekitar 5 sampai 6 orang itu,” terangnya.

    Sekitar 15 menit setelah berada di laut, Irwan menemukan sebuah sekoci dan berusaha meraih tali di sisinya. Ia sempat mengalami kesulitan lantaran tubuhnya yang sudah kehabisan tenaga.

    Dalam kondisi lemah, ia terus meminta pertolongan hingga seorang pria yang diketahui bernama Henius, asal Nusa Tenggara Timur (NTT), menariknya naik ke sekoci.

    Di dalam sekoci Irwan bertahan bersama kelima korban lainnya. Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti bagaimana sekoci tersebut sampai berada di lokasi itu maupun berapa lama mereka hanyut sebelum ditemukan.

    Sekitar pukul 10.00 WITA, Irwan dan lainnya diselamatkan KM Cahaya Bahari Jaya, kapal yang menurut keterangannya berasal dari Jawa Tengah.

    “Saya diselamatkan jam 10.00 siang.
    Kalau sekoci saya masih muter di area situ, mungkin diselamatkan masih gelap sudah diselamatin. Itu sudah jauh. Saya sama, kapal itu sudah jauh jaraknya,” katanya.

    Setelah dievakuasi, Irwan menjalani perjalanan penyelamatan lanjutan. Ia menyebut dirinya sempat berada di kapal nelayan selama sekitar dua hari satu malam sebelum dipindahkan ke kapal TNI. Selanjutnya, ia dibawa menggunakan kapal cepat menuju Banjarmasin untuk mendapatkan perawatan medis.

    Irwan menjalani perawatan dan tinggal di Banjarmasin selama kurang lebih dua minggu sebelum akhirnya kembali ke Kediri. Ia mengaku tidak mengalami cedera serius, tetapi tubuhnya sempat lemas akibat kelelahan dan ketegangan selama kejadian.

    Di balik keselamatannya, Irwan harus menerima kenyataan bahwa truk beserta muatan suku cadang yang dibawanya tenggelam bersama kapal. Ia juga kehilangan uang sekitar Rp2 juta yang disimpan di dalam truk dan handphone yang ditinggalkannya di bawah bantal saat kejadian.

    Namun, kerugian materi bukanlah hal yang paling membebani pikirannya. Hingga kini, Aris, rekan kerja yang berangkat bersamanya, masih belum ditemukan.

    “Mas Aris itu teman kerja saya, bahkan sopir saya. Sampai sekarang masih belum ditemukan,” ujarnya.

    Pengalaman tersebut menjadi pukulan berat bagi Irwan. Ia mengaku tidak pernah memiliki firasat buruk sebelum keberangkatan.

    Perjalanan menyeberangi laut jarak jauh itu bahkan merupakan pengalaman pertamanya, meskipun ia telah bekerja sebagai sopir selama sekitar tiga tahun.

    “Baru kali ini. Jadi saya juga agak shock di situ. Iya. Enggak ada firasat apa-apa,” imbuhnya.

    Pasca-kejadian, Irwan mengaku keluarganya melarang dirinya kembali menyeberang menggunakan kapal. Pengalaman menghadapi kemiringan kapal, kegelapan, gelombang besar, dan perjuangan bertahan hidup di laut meninggalkan ketakutan tersendiri.

    Meski demikian, ia menyadari pekerjaannya sebagai sopir terkadang menuntut perjalanan lintas pulau.

    “Kalau kalau tuntutan kerja ya gimana lagi gitu loh, Mas. Kalau dari keluarga pribadi sudah melarang. Ya, kayak enggak boleh gitu nyebrang,” ungkapnya.

    Irwan juga menyampaikan bahwa dirinya menerima santunan sebesar Rp5 juta dari pihak Virgo dan Rp5 juta. Pihak perusahaan juga menyampaikan permohonan maaf kepada para korban selamat.

    “Begitu ngasih santunan Rp5 juta itu bagi yang selamat, itu dari pihak Virgonya minta maaf dari Bu Dwi, Pak siapa itu. Itu minta maaf ya minta istilahnya permohonan yang teramat sangat permohonan maaf,” ujarnya.

    Ia juga mendapat santunan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan sebesar Rp 5 juta serta tiket pesawat untuk kembali ke tanah kelahiran.

    Bagi Irwan, tragedi KMP Virgo Transport 8 bukan sekadar perjalanan yang berakhir bencana. Peristiwa itu menjadi pengalaman yang akan terus diingatnya: tentang ketakutan, perjuangan mempertahankan hidup, pelajaran menjaga ketenangan di tengah kegentingan, dan seorang rekan kerja yang hingga kini masih dinantikan kabarnya.

    “Semua tenggelam. Udah enggak mikir lagi, Mas. Yang penting nyawa. Saya aja HP saya taruh di bawah bantal aja saya enggak bawa, Mas. Saya langsung lari waktu itu,” pungkasnya. [nik/ang]

    Berita Kediri Penumpang KMP VIrgo Transport 8 Warga Kediri
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticlePria Tanpa Identitas Tewas Tertemper KA Singosari, Jasad Ditemukan di Persawahan Gampengrejo Kediri
    Next Article Persik Kediri Hentikan Tren Kemenangan Madura United, Eduardo Barbosa Borong Dua Gol

    Info Lainnya

    Persik Kediri Hentikan Tren Kemenangan Madura United, Eduardo Barbosa Borong Dua Gol

    9 Oktober 2026 - 21:34

    Pria Tanpa Identitas Tewas Tertemper KA Singosari, Jasad Ditemukan di Persawahan Gampengrejo Kediri

    8 Oktober 2026 - 20:08

    Empat Benda Diduga Cagar Budaya Dievakuasi Disparbud Kediri dari Rumah Warga

    8 Oktober 2026 - 20:04

    Bupati Kediri Dorong Pengembangan Wisata Budaya, Museum Sri Aji Jayabaya Jadi Salah Satu Fokus

    8 Oktober 2026 - 19:59

    Sharing Love, Spreading Joy: GenBI dan Lumbung Kebaikan Hangatkan Hari Lansia di PSTW Pare

    8 Oktober 2026 - 17:45

    Polres Kediri Ungkap Kasus Aborsi di Bulupasar, 2 Pasangan Kekasih Ditetapkan Tersangka

    7 Oktober 2026 - 20:23
    Leave A Reply Cancel Reply

    Info Menarik!

    Persik Kediri Hentikan Tren Kemenangan Madura United, Eduardo Barbosa Borong Dua Gol

    9 Oktober 2026 - 21:34

    Gelap, Panik, dan Gelombang Besar: Perjuangan Sopir Asal Kediri Selamat dari Tragedi KMP Virgo

    9 Oktober 2026 - 21:30

    Pria Tanpa Identitas Tewas Tertemper KA Singosari, Jasad Ditemukan di Persawahan Gampengrejo Kediri

    8 Oktober 2026 - 20:08

    Empat Benda Diduga Cagar Budaya Dievakuasi Disparbud Kediri dari Rumah Warga

    8 Oktober 2026 - 20:04

    Bupati Kediri Dorong Pengembangan Wisata Budaya, Museum Sri Aji Jayabaya Jadi Salah Satu Fokus

    8 Oktober 2026 - 19:59
    © 2026 TahuKediri.ID | serba tahu soal Kediri

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.