Kediri (tahukediri.id) – Aisyah Nur Asyifa, siapa sangka balik keceriaannya, tersimpan perjuangan panjang melawan penyakit Splenomegali dan Varises Esofagus sejak usia dua tahun.
Bocah yang akrab disapa Syifa itu tetap aktif bersekolah, Ngaji dan bermain seperti anak-anak seusianya, meski harus menjalani pengobatan rutin ke Surabaya.
Di rumah kontrak sederhananya di Jl. Hasyim Asyari Gang Kenanga, Kelurahan Banjarmlati, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Syifa tinggal bersama sang ibu Rizzatuddiniyah (28) dan ayahnya Abu Rohman (34), serta kakak perempuannya yang berusia 12 tahun dan adiknya yang masik berumur 3,5 tahun.
Rizzatuddiniyah mengatakan, Syifa bisa dibilang bayi ajaib, ia terlahir prematur dan menginjak usia dua tahun ia mengalami Splenomegali, yakni kondisi limpa membesar dari batas normal.
“Kalau adek ini, ya, kayak ceria gitu ya. Anaknya emang ceria. Cuma ya itu, dalamnya itu yang bengkak itu kayak dalamnya gitu loh,” kata Riza.
Riza mengingat awal mula mengetahui kondisi putrinya. Saat itu, perut Syifa terlihat semakin membesar meski berat badannya justru sulit bertambah.
“Pertama ngerasa ada benjolan gitu. Ibu yang tahu. Habis itu diperiksa ternyata ketahuan penyakitnya. Diperiksa itu kan kayak mag gitu modelnya. Terus habis itu dibawa ke rumah sakit Gambiran sini. Sekarang jadi Splenomegali,” kenangnya pada reporter tahukediri.id, Senin (12/10/2026).
Setelah melalui pemeriksaan lebih lanjut, Syifa kemudian dirujuk ke Surabaya karena membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Perjalanan pengobatan itu tidak mudah. Pada awalnya, Syifa harus menjalani kontrol ke Surabaya setiap pekan. Kondisi tersebut mengharuskan ibu dan anak itu menempuh perjalanan jauh sekaligus menyiapkan biaya transportasi dan tempat menginap.
“Kalau dulu saya satu minggu sekali ke Surabaya. Sekarang satu bulan sekali,” ujarnya.
Meski pengobatan Syifa telah mendapatkan dukungan jaminan kesehatan BPJS, keluarga masih harus memikirkan berbagai kebutuhan selama menjalani perawatan di luar kota.
Kondisi tersebut ekonomi yang tidak menentu membuatnya harus memutar otak agar pengobatan Syifa tetap berjalan. Bahkan harus menjalani kontrol sesuai jadwal dokter.
Rizzatuddiniyah sehari-hari merupakan ibu rumah tangga, sedangkan suaminya bekerja serabutan.
“Jadi rutin setiap bulan sekali. Kalau misalnya lewat dari kontrol itu enggak bisa, enggak berani saya. Soalnya dulu pernah saya telat satu hari saja balik dari awal. Jadi kayak di-lab lagi, dilihat penyakitnya lagi. Maksudnya dilihat dari awal lagi gitu loh. Jadi ndak berani. Satu hari telat itu loh ndak berani,” terangnya.
Riza mengungkapkan, dirinya pernah menerima bantuan dari Dinas Sosial sekitar Rp2 juta untuk kebutuhan akomodasi atau perjalanan pengobatan. Namun, bantuan tersebut menurutnya hanya diterima satu kali dalam setahun.
Nominal itu juga diras belum cukup untuk menutup seluruh kebutuhan perjalanan yang harus dipenuhi secara berulang.
“Cuma perjalanannya saja. Kalau belum kayak makannya, belum apanya gitu. Kan sekarang kalau bis kan orang dua kan, seumpama kan bis kan enggak bisa di apa, enggak bisa dipantau hari ini dapat yang bis biasa apa yang bis apa,” ungkapnya.
Selama beberapa tahun, berat badan Syifa disebut sulit bertambah. Namun, belakangan sang ibu mulai bersyukur karena berat badan putrinya perlahan menunjukkan peningkatan.
Meski tampak ceria, kondisi Syifa masih membutuhkan pemantauan medis. Terlebih saat ini kondisi penyakitnya telah memasuki grade 2.
Selain keuangan, menjaga pola makan Syifa menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga. Mengingat syifa termasuk bocah aktif.
“Sebenarnya enggak ada pantangan apa-apa ya cuma itu tok, pedas, kecut, sama kayak coklat-coklatan gitu enggak boleh. Ya cuma itu tok, lainnya enggak,” jelasnya.
Riza mengaku pengawasan di luar rumah seperti di sekolah maupun di tempat ngaji lebih sulit dibanding di rumah.
“Anaknya kan juga sudah bisa jalan sendiri ya. Kalau beli jajanan itu, enggak bisa dikontrol makan apa gitu, enggak bisa dikontrol gitu loh. Kalau di rumah saya sayurin sendiri. Kalau di luar, jajannya sekolahan itu yang susah,” ungkapnya.
Di tengah kondisi tersebut, Syifa tetap menjalani aktivitas sehari-hari. Ia kini bersekolah di TK B Al Misbah dan tidak ingin terus-menerus diperlakukan sebagai anak yang sedang sakit.
Sikap Syifa yang tetap aktif dan ceria menjadi kekuatan tersendiri bagi keluarganya untuk terus mendampingi proses pengobatan.
Di usia enam tahun, Syifa telah melewati perjalanan pengobatan yang panjang. Namun, semangatnya untuk tumbuh dan meraih cita-cita tetap ada.
“Saya cita-citanya mau jadi polisi” ucapnya dengan semangat dan penuh keceriaan.
Harapan sederhana itu menjadi penyemangat bagi keluarganya untuk terus mengupayakan pengobatan. Rizzatuddiniyah berharap putrinya dapat menjalani kontrol dan memperoleh penanganan medis secara berkelanjutan tanpa terkendala biaya perjalanan.
“Ya, mudah-mudahan bisa lanjut terus pengobatannya,” harapnya. [nik/ang]

