Close Menu
tahukediri.idtahukediri.id
    What's Hot

    Wisata Air Panas Gunung Kelud Bakal Dihidupkan Lagi, Pemkab Kediri Kejar Target Akhir Tahun

    12 September 2026 - 19:34

    Kemarau Bikin Petani Kediri Urung Tanam, Biaya Pengairan Jadi Kendala

    12 September 2026 - 19:29

    BRI Kediri melalui YBM BRILiaN Dampingi 20 Keluarga Mustahik, Perkuat Spiritual dan Kemandirian Finansial

    12 September 2026 - 19:11
    Facebook X (Twitter) Instagram
    tahukediri.id
    • Beranda
    • News
    • Travel
      • Wisata
      • Kuliner
      • Seni & Budaya
    • Multimedia
      • Foto
      • Video
    • Tahu Hukum
    • Tentang
    • Arsip
    Facebook X (Twitter) Instagram
    tahukediri.idtahukediri.id
    Home»News»Kemarau Bikin Petani Kediri Urung Tanam, Biaya Pengairan Jadi Kendala

    Kemarau Bikin Petani Kediri Urung Tanam, Biaya Pengairan Jadi Kendala

    Nanik Dwi JayantiNanik Dwi Jayanti News 12 September 2026 - 19:29
    WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Pinterest Email
    Kemarau panjang membuat sejumlah petani sayur di Kabupaten Kediri lebih berhati-hati dalam menentukan waktu tanam.
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Kediri (tahukediri.id) – Kemarau panjang membuat sejumlah petani sayur di Kabupaten Kediri lebih berhati-hati dalam menentukan waktu tanam. Kondisi cuaca dan keterbatasan air membuat sebagian petani memilih menunda menanam, terutama komoditas cabai.

    Di Desa Asmorobangun, Kecamatan Puncu, misalnya. Hingga saat ini mayoritas lahan petani masih dalam tahap pengolahan atau hanya sekitar 20-30 persen lahan yang mulai ditanami.

    Agus Widodo (39), petani sayur Desa Asmorobangun, mengatakan 20-30 persen laham itu rata-rata ditanami cabai besar dan cabai keriting. Sementara bawang merah hanya ditanam sebagian kecil petani.

    Banner Promo

    “Rata-rata cabai besar sama cabai keriting. Terus mungkin sebagian ada bawang merah, tapi sebagian kecil lah. Sekitar 5% ya, karena kan sudah melihat kondisi cuaca kayak gini,” ujarnya Sabtu (12/9/2026).

    Menurutnya, petani yang sudah berani menanam cabai pada puncak musim kemarau umumnya memiliki modal lebih besar. Sebab, kebutuhan air tanaman harus dipenuhi dengan biaya tambahan.

    “Yang nekat dan punya banyak modal itu bulan 7, 8 sudah tanam. Tapi sekitar 10 persen. Nanti mulai ramai tanam bulan 10,” ujarnya.

    Menurut Agus, pada dasarnya menanam tomat sebelum musim hujan justru memiliki potensi yang cukup baik. Namun, persoalannya terletak pada biaya pengairan.

    Petani yang tidak memiliki sumber air sendiri harus membeli air yang kemudian diangkut menggunakan kendaraan. Harga satu toren air berkisar Rp40 ribu hingga Rp50 ribu.

    Kebutuhan air pun cukup besar. Untuk sebagian lahan, kebutuhan pengairan bisa mencapai sekitar dua meter kubik per hari.

    “Karena kan kita airnya beli. Beli per kubik. Itu per toren sekitar Rp40 (ribu) sampai Rp50 (ribu). Ya sedangkan kebutuhan per hari katakanlah dari separuh lahan ini, pun, kebutuhan per baris sekitar 2 kibik. Berarti kan kurang lebih sekitar Rp80.000 per hari. Berarti kalau yang eh modal pas-pasan ya enggak berani tanam di awal. Mungkin nunggu hujan,” jelasnya.

    Agus sendiri tengah mempersiapkan lahannya untuk ditanami tomat dan bawang merah. Sebagian digunakan untuk tomat dan bawang merah, sedangkan cabai ditanam di lahan lainnya.

    Ia juga mengaku terbantu dengan adanya sumur bor submersible yang dibangun oleh pemodal besar di sekitar kawasan pertanian.
    Air dari sumur tersebut kemudian dialirkan menggunakan jaringan pipa untuk memenuhi kebutuhan pengairan lahan petani.

    “Alhamdulillah. Jadi, kan kita bisa menghemat sekitar Rp30.000 untuk kebutuhan yang lainnya,” ungkapnya.

    Kondisi serupa juga terjadi di wilayah Kecamatan Kepung. Rasidhi (76), petani sayur asal Dusun Jegeles, Desa Keling, mengatakan hasil sejumlah komoditas sayuran pada musim kemarau cenderung tidak maksimal.

    Ia saat ini menanam kacang panjang dan tomat. Namun, tanaman tomat yang ditanamnya tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan.

    “Tomat tidak berhasil karena harganya murah,” katanya.

    Sementara untuk kacang panjang, harga di tingkat petani saat ini sekitar Rp5.000. Menurut Rasidhi, harga tersebut masih cukup memberikan keuntungan. “Kalau di bawah itu baru rugi,” ujarnya.

    Rasidhi mengatakan pola tanam petani sangat bergantung pada kondisi musim. Saat hujan mulai turun, komoditas sayuran seperti kacang panjang, brokoli, tomat dan cabai biasanya kembali banyak ditanam.

    Sedangkan ketika musim kemarau, petani masih menanam jagung manis, tomat, brokoli, kacang panjang hingga buncis.

    Sementara itu, Plt.Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri, Sukadi, mengatakan petani pada dasarnya telah mampu beradaptasi dengan perubahan musim. Menurutnya, pemerintah terus mendorong petani menyesuaikan jenis tanaman dengan ketersediaan air.

    “Petani itu sudah pintar beradaptasi dan kita itu hampir sebulan memberikan info dari BMKG. Kalau pada saat tertentu, musim kemarau untuk daerah-daerah yang sumber airnya terbatas, ditanam jagung saja. Kalau untuk daerah-daerah yang itu sumber airnya enggak pernah habis, silakan tanam padi,” jelasnya.

    Untuk mengantisipasi dampak kemarau, Pemkab Kediri juga membangun sumur submersible di sejumlah wilayah.

    Sukadi menyebut, dari APBD Kabupaten Kediri tahun ini terdapat pembangunan sekitar 200 titik sumur submersible yang menyasar sektor pangan, perkebunan hingga hortikultura.

    “Jadi kita memetakan itu karena eh semua ini jadi program prioritas pemerintah, Mbak. Jadi swasembada pangan program prioritas, swasembada gula program prioritas, horti urusan cabai juga itu program prioritas karena cabai itu salah satu penyebab inflasi kan itu. sehingga kita harus memetakan mana daerah sumber kebun, mana daerah sumber horti, mana daerah sumber pangan,” jelasnya.

    Untuk sektor perkebunan, pembangunan sumur submersible mencapai 83 titik, terutama untuk tanaman tebu.

    Sedangkan sektor hortikultura mendapat sekitar tujuh titik, yang mayoritas berada di wilayah Kepung dan Puncu.

    Untuk sektor pangan, yakni padi dan jagung, terdapat dukungan pembangunan sumur dari APBN sebanyak 325 titik serta bantuan APBD sebanyak 68 titik.

    Selain itu, pemerintah juga mendapat bantuan pompa air atau diesel dari pemerintah pusat. Tahun ini direncanakan terdapat 245 unit bantuan diesel.

    Sukadi menegaskan, pemerintah terus berupaya agar kemarau tidak sampai menyebabkan petani mengalami gagal panen.
    Salah satunya dengan memberikan informasi prakiraan cuaca kepada petani secara berkala.

    Menurut Sukadi, informasi tersebut penting agar petani bisa menentukan waktu tanam sekaligus memilih komoditas yang sesuai dengan kondisi cuaca dan ketersediaan air.

    Hingga saat ini, pemerintah menilai kondisi pertanian di Kabupaten Kediri masih terkendali. Sejumlah komoditas seperti tebu, nanas, padi dan jagung masih diupayakan mendapatkan pasokan air yang cukup.

    “Komoditas lain baik air, baik itu perkebunan, tebu, baik itu nanas, baik itu padi maupun jagung, insyaallah sampai hari ini kebutuhan air terpenuhi, Mbak. Baik itu yang air sungainya masih cukup, baik air sungai yang enggak cukup, mereka pakai sumur satel atau pakai pompa air,” terangnya.

    Meski demikian, Sukadi mengakui belum seluruh kebutuhan air petani dapat dipastikan sepenuhnya tercukupi.

    Kami upayakan jangan sampai ada petani yang gagal panen itu pertama. Yang kedua kita berupaya supaya petani itu walaupun masih ada yang pakai diesel kita membantu untuk barcode solar bersubsidi sehingga Insyaallah semuanya berjalan dengan baik. Kalau maksud saya bicara semuanya tercukupi air enggak, saya enggak begitu,” ujarnya.

    Ia juga mengimbau petani untuk tidak ragu menyampaikan persoalan yang dihadapi di lapangan melalui petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL).

    “Harapan saya, petani tetap semangat, tetap bekerja keras. Kalau ada keluhan, silakan disampaikan kepada teman-teman PPL supaya bisa kita tindak lanjuti,” pungkasnya. [nik/ang]

    Berita Kediri Kemarau Kediri Waktu Tanam
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleBRI Kediri melalui YBM BRILiaN Dampingi 20 Keluarga Mustahik, Perkuat Spiritual dan Kemandirian Finansial
    Next Article Wisata Air Panas Gunung Kelud Bakal Dihidupkan Lagi, Pemkab Kediri Kejar Target Akhir Tahun

    Info Lainnya

    Wisata Air Panas Gunung Kelud Bakal Dihidupkan Lagi, Pemkab Kediri Kejar Target Akhir Tahun

    12 September 2026 - 19:34

    BRI Kediri melalui YBM BRILiaN Dampingi 20 Keluarga Mustahik, Perkuat Spiritual dan Kemandirian Finansial

    12 September 2026 - 19:11

    Hukum Kesepakatan dan Perjanjian dalam Hukum Perdata

    11 September 2026 - 22:11

    BRI Kediri Salurkan KUR Rp1,05 Triliun kepada 22 Ribu Nasabah, Dorong UMKM Naik Kelas

    11 September 2026 - 20:54

    Satu Dekade Bersama BRI, Dwi Astuti Kembangkan Usaha dan Layani Warga Kediri Lewat BRILink Agen

    11 September 2026 - 20:50

    Tuan Rumah Final Soeratin U-17, Inter Kediri Bidik Kemenangan atas Persebaya

    11 September 2026 - 19:28
    Leave A Reply Cancel Reply

    Info Menarik!

    Wisata Air Panas Gunung Kelud Bakal Dihidupkan Lagi, Pemkab Kediri Kejar Target Akhir Tahun

    12 September 2026 - 19:34

    Kemarau Bikin Petani Kediri Urung Tanam, Biaya Pengairan Jadi Kendala

    12 September 2026 - 19:29

    BRI Kediri melalui YBM BRILiaN Dampingi 20 Keluarga Mustahik, Perkuat Spiritual dan Kemandirian Finansial

    12 September 2026 - 19:11

    Hukum Kesepakatan dan Perjanjian dalam Hukum Perdata

    11 September 2026 - 22:11

    BRI Kediri Salurkan KUR Rp1,05 Triliun kepada 22 Ribu Nasabah, Dorong UMKM Naik Kelas

    11 September 2026 - 20:54
    © 2026 TahuKediri.ID | serba tahu soal Kediri

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.