Kediri (tahukediri.id) – Suasana kawasan museum Sri Aji Joyoboyo tampak lebih ramai dari biasanya. Puluhan siswa SMP se-Kabupaten Kediri terlihat fokus mengikuti Reksa Budaya Panji, Sabtu (26/9/2026).
Bertajuk Ekspresi Lentera Panji, lomba melukis yang diinisiasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan ini diikuti sedikitnya 50 pelajar mengikuti lomba melukis tersebut. Mereka terdiri dari 35 siswa SMP dan 15 siswa madrasah yang berasal dari sejumlah sekolah di Kabupaten Kediri.
Salah satunya dari MTsN Hasan Muchyi yang hadir dengan dua siswa dan satu guru sebagai pendamping dalam mengikuti lomba tersebut.
Pendamping peserta MTsN Hasan Muchyi, Giovani, mengatakan siswa yang mengikuti kegiatan merupakan pelajar yang ditunjuk dari kelas VIII dan IX.
Dalam lomba melukis tersebut, timnya mendapatkan tema Joko Bowo, tokoh dalam cerita Panji yang berkaitan dengan kisah Panji dan Dewi Sekartaji, putri Kerajaan Kediri.
“Sudah ditentukan dari pihak panitia bahwa tema-tema ini seperti ini, tema Joko Buwo. Joko Bowo itu tadi Panji. Seorang tokoh Dia itu menceritakan seorang guru lupa yang meminang Raja Putri Kediri, Raja Putri Sekartaji, Dewi Sekartaji,” jelasnya.
Giovani menilai kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi siswa, terutama dalam mengasah kreativitas anak.
“Menurut saya ini bagus untuk ajang event tahunan karena dapat memacu kreativitas pada anak,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Mustika Prayitno Adi, mengatakan budaya Panji tidak hanya hadir dalam karya sastra. Warisan tersebut juga berkembang dalam berbagai bentuk kesenian, seperti seni lukis, seni pahat, seni tari, dan berbagai ekspresi budaya lainnya.

“Ini bukan hanya sekedar karya sastra, tapi seni lukis, seni pahat, seni tari, seni budaya. Kita tuh harus berbangga karena Kediri salah satu pusat dari tari tersebut,” katanya.
Mustika menegaskan, kegiatan tersebut tidak berhenti pada persoalan kompetisi. Lebih jauh, pemerintah ingin agar generasi muda memahami bahwa budaya merupakan bagian dari identitas yang perlu dijaga.
“Makanya melalui budaya kegiatan pada hari ini kita memberikan ruang bagi generasi muda untuk melahirkan bahkan melakukan kreativitasnya agar dapat memuaskan dan memberikan makna terhadap seni dan budaya ini dengan tema yang tentu tidak lepas dari Pancasila,” jelasnya.
Ia berharap generasi muda tidak hanya mengenal Panji sebagai cerita masa lalu, tetapi juga mampu mengambil peran dalam menjaga keberlangsungannya.
“Supaya mereka paham, kita punya budaya dan sejarah yang demikian besar. Bagaimana kita ikut melestarikannya,” lanjut Mustika.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya Pemkab Kediri dalam menghidupkan kembali ruang-ruang kebudayaan. Salah satunya melalui revitalisasi amphitheater yang berada di kawasan Museum Sri Aji Joyoboyo yang hingga kini masih berlangsung.
Mustika menyebut pengerjaan amphitheater ditargetkan selesai pada November dan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan pada Desember mendatang.
“Monggo nanti kalau dari bapak/ibu yang ingin menyalurkan kegiatannya, tempat ini ada ruang untuk berekspresi, yakni amphitheater yang ada di sini,” katanya.
Selain amphitheater, Pemkab Kediri juga tengah mengembangkan museum secara bertahap. Pemerintah telah menyiapkan blueprint pengembangan museum tersebut agar nantinya dapat menjadi salah satu destinasi wisata budaya di Kabupaten Kediri.
Mustika mengatakan kegiatan Rupa Panji: Ekspresi Lentera Panji merupakan kali pertama digelar dengan konsep lomba melukis bertema Panji. Ke depan, kegiatan serupa masih terbuka untuk dikembangkan dengan konsep yang lebih beragam.
“Intinya bagaimana kita merawat budaya Panji agar terus berkembang dan hidup. Yang paling penting adalah keterlibatan generasi muda untuk memajukan budaya dan kesenian,” pungkasnya. [nik/ang]

