Kediri (tahukediri.id) – Suasana di Panti Sosial Tresna Wedha Pare terasa lebih hangat dari biasanya. Hal ini terlihat ketika Generasi Baru Indonesia (GenBi) UIN Syekh Wasil Kediri 2026 bersama Yayasan Lumbung Kebaikan menggelar GenBi Care Movement pada Kamis, (8/10/2026).
Bertajuk “Sharing Love, Spreading Joy” kegiatan sosial tersebut tidak hanya diisi dengan penyerahan bantuan, tetapi juga berbagai aktivitas, mulai dari senam, permainan hingga memasak dan makan bersama para lansia di panti sosial yang berlokasi di Jl. Jend A. Yani No. 46, Plongko, Pare ini menjadi lebih semarak dan penuh keakraban.
Ketua Yayasan Lumbung Kebaikan, Fuad Fauzi, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian lembaganya yang bergerak di bidang sosial dan keagamaan.
“Iya, jadi kami dari Lumbung Kebaikan selaku lembaga yang bergerak di bidang sosial dan juga keagamaan. Hari ini kita kolaborasi sama teman-teman GenBI, teman-teman mahasiswa yang Member programnya Bank Indonesia ya,” katanya.
Menurutnya, kegiatan bersama para lansia sengaja dikemas dengan konsep yang lebih interaktif. Tujuannya agar para penghuni panti tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga mendapatkan hiburan dan kebahagiaan melalui kebersamaan.
“Harapan para Mbah-mbah yang ada di panti sosial lanjut usia ini bisa mendapatkan manfaat, mendapatkan kebahagiaan, terus makin sehat juga di masa senjanya, begitu,” terangnya.
Dalam kesempatan tersebut, Yayasan Lumbung Kebaikan menyerahkan sejumlah bantuan yang memang dibutuhkan para penghuni panti. Di antaranya berupa pampers lansia sebagai kebutuhan personal hygiene, sembako untuk diolah di dapur panti, serta pakaian busana muslim untuk Mbah Kakung dan Mbah Putri.
Fuad menyebut kegiatan bersama GenBI UIN Syekh Wasil Kediri ini merupakan kolaborasi perdana antara kedua pihak. Namun ia berharap
“Kalau dengan Lumbung Kebaikan dengan GenBI ini baru pertama. Harapannya bisa berlanjut nanti di program-program berikutnya,” ujarnya.
Ketua GenBI UIN Syekh Wasil Kediri 2026, Nova Tri Wulandari, mengungkapkan kegiatan tersebut berawal dari keinginan untuk menghadirkan pengalaman berbeda bagi para anggota GenBI.

“Jadi agenda kita setiap periode itu menyesuaikan kepengurusan gitu. Jadi mau mengadakan apa itu sesuai sama teman-teman gitu,” ujarnya.
Nova menjelaskan, GenBI tidak hanya ingin mendorong mahasiswa untuk berkembang secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat.
“Kebetulan untuk tahun ini saya tuh pengen ada euphoria baru gitu loh. Jadi teman-teman itu enggak hanya berfokus pada akademiknya teman-teman. Jadi teman-teman itu juga aku pengennya saya sendiri ya, saya pribadi itu punya rasa yang berbeda gitu loh,” ujarnya.
Nova melanjutkan, bukan tanpa alasan pihaknya mengemas kegiatan tersebut menjadi lebih hangat, dan seru. Dari hasil survei yang dilakukan sebelum kegiatan, pihaknya mendapatkan informasi bahwa kebutuhan para lansia di panti relatif telah tercukupi.
Karena itu, kegiatan kemudian diarahkan pada aktivitas yang dapat memberikan hiburan dan membangun interaksi.
“Bahkan waktu ke sini itu Mbahnya curhat sini itu mbahnya curhat ke saya kalau aku waleh mangan ayam, bilang gitu. Soale saking seringnya makan ayam. Nah, maka dari itu teman-teman tuh menggagas, kayaknya diadain kegiatan yang seru-seru aja deh,” ujarnya.
Ia pun mengaku mendapat pengalaman berkesan setelah berinteraksi langsung dengan para lansia.
“Dan ternyata mbahnya seru banget, ramah banget, asli. Enggak bohong, jujur,” katanya sambil tersenyum.
Nova berharap kolaborasi tersebut tidak berhenti pada satu kegiatan saja. Ia ingin hubungan antara GenBI, Yayasan Lumbung Kebaikan, dan pihak panti terus terjalin melalui kegiatan sosial berikutnya.
Harapan yang sama juga diutarakan Kepala PSTW Pare, Agustin Nurul Hasana. Menurutnya, kegiatan seperti ini memberikan suasana berbeda bagi para penghuni panti. Apalagi sebagian lansia yang tinggal di sana merupakan mereka yang sudah tidak memiliki keluarga atau membutuhkan pendampingan.
“Saya sangat senang sekali karena mereka semua bisa datang ke PSTW yang ada di Pare ini,” ungkap Agustin.
Ia menilai bantuan berupa kebutuhan sehari-hari tentu sangat bermanfaat. Namun, kehadiran mahasiswa yang ikut beraktivitas bersama para lansia juga memiliki nilai tersendiri.
“Dengan datangnya mereka semua menjadikan kangen, mungkin yang kangen dengan saudara-saudara yang dulu-dulu bisa terobati,” ujarnya.
Seperti kegiatan memasak bersama ini, lanjutnya, para lansia dapat berinteraksi langsung dengan mahasiswa.
“Tahun-tahun dulu juga ada hiburan sedikit seperti diajak nyanyi itu, Mbah juga senang. Tapi yang bikin sekarang bisa bergabung bersama itu ya contohnya seperti ini bikin salad. Jadi antara Mbah Putri dan mahasiswa maupun Lumbung Kebaikan bisa berkolaborasi lah. Bisa guyub rukun ya, bisa guyub rukun. Jadi senang gitu loh,” tuturnya.
Saat ini, PSTW Pare dihuni sekitar 85 lansia. Penghuni panti tidak hanya berasal dari Kediri, tetapi juga sejumlah daerah lain seperti Blitar, Nganjuk, Batu, hingga Bojonegoro.
Secara umum, usia penerimaan lansia di panti berada di sekitar 60 tahun. Namun, pihak panti tetap memberikan kebijakan tertentu bagi mereka yang berada dalam kondisi mendesak, seperti tidak memiliki keluarga dan membutuhkan pertolongan segera.
Agustin berharap kegiatan yang menggabungkan bantuan sosial dan aktivitas bersama seperti ini dapat terus dilakukan.
“Harapan ke depan dengan kegiatan seperti ini saya penginnya nanti ada lagi, ada lagi, dan ada lagi. Karena kegiatan tersebut saya anggap sangat bagus,” pungkasnya. [nik/ang]

