Kediri (tahukediri.id) – Keberadaan Museum Sri Aji Jayabaya di Kabupaten Kediri terus dipoles. Selain penataan fisik kompleks museum, Pemerintah Kabupaten Kediri juga menyiapkan pengembangan Museum Etnografi yang ditargetkan mulai dikerjakan pada akhir tahun 2026.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri Mustika Prayitno mengatakan, saat ini proses pengembangan museum masih berjalan. Sejumlah pekerjaan fisik di kompleks museum juga tengah dilakukan oleh Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim).
“Kalau museum ini sedang dalam proses ya. Kalau kompleks museum sendiri ini sedang dikerjakan oleh rekan-rekan dari Perkim. Ada perbaikan fasad dan ampiteater,” katanya, Jumat (11/9/2026).
Selain itu, lanjut Mustika, Pemkab Kediri juga tengah menyiapkan pengembangan koleksi baru berupa Museum Etnografi. Saat ini, tahapan perencanaan tengah dilakukan dan pengerjaannya ditargetkan berlangsung pada akhir tahun ini.
“Ini sedang dalam proses perencanaan. Kami akan kerjakan,” ujarnya.
Menurut Mustika, koleksi etnografi nantinya akan memiliki karakter berbeda dengan koleksi arkeologi yang saat ini telah dipamerkan di Museum Sri Aji Jayabaya.
Jika koleksi arkeologi lebih banyak menampilkan benda-benda peninggalan budaya masa lampau, seperti arca dan benda bersejarah lainnya, koleksi etnografi akan lebih mengarah pada kehidupan dan kebudayaan masyarakat, termasuk kesenian.
Lokasinya hanya terpisah jarak beberapa meter dari ruang koleksi arkeologi.
Edukator Museum Sri Aji Jayabaya, M. Ipung Zainul Islam Sumarwoto, menambahkan, Museum Etnografi akan menjadi bagian dari rangkaian alur kunjungan Museum Sri Aji Jayabaya. Pengunjung nantinya tidak hanya melihat peninggalan sejarah dari masa lampau, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai perkembangan budaya masyarakat Kediri.
Ipung menjelaskan, alur kunjungan museum dimulai dari pengenalan tentang Kediri. Selanjutnya pengunjung akan diajak melihat koleksi dari sejumlah periode sejarah, mulai dari masa Mataram, Panjalu Kediri, Singosari hingga Majapahit.
“Museum etnografi ini terusan dari museum koleksi. Jadi kan alur masuk itu dari pintu masuk pengenalan tentang Kediri kemudian, koleksi masa periode Mataram, Panjalu Kediri, Singosari, Majapahit trus nanti baru ke koleksi etnografi,” jelasnya.
Museum Sri Aji Jayabaya sendiri memiliki 54 koleksi. Koleksi tersebut akan mengalami pembaruan atau rotasi secara berkala.
“Koleksi ini ada pembaharuan atau rotasi setiap lima tahun sekali,” jelasnya.
Dengan pengembangan tersebut, Museum Sri Aji Jayabaya diharapkan tidak hanya menjadi tempat menyimpan benda-benda bersejarah, tetapi juga diproyeksikan menjadi ruang edukasi dan wisata budaya yang mampu menceritakan perjalanan sejarah sekaligus kekayaan budaya Kediri secara lebih lengkap.
Kehadiran koleksi etnografi nantinya diharapkan semakin mendekatkan museum dengan kehidupan masyarakat, terutama dalam mengenalkan kesenian dan kebudayaan lokal kepada generasi muda maupun wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Kediri. [nik/ang]

