Kediri (tahukediri.id) – Sesuai namanya, Masjid Besar At-Taqwa adalah masjid dengan aksitektur megah yang terbesar di Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. Lokasinya berada di Jl. Raya Kediri, Jayaraya, Wates, Kec. Wates, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Masjid Besar At-Taqwa berdiri sejak tahun 1950 dan terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman, tanpa meninggalkan perannya sebagai pusat ibadah dan kegiatan keagamaan masyarakat.
“Itu berdiri, menurut cerita tiang-tiang sepuh, itu tahun 1950. Terus untuk bentuk masjid itu sudah mengalami perubahan dari bangunan awal,” terang Ketua Takmir Masjid Besar At-Taqwa, Ahmad Sultan, Senin (23/2/2026).
Pada era 2000-an terjadi perubahan besar yang membawa wajah baru bagi masji yang menyandang “Masjid Besar” itu. Namun jika masjid-masjid lama di Jawa umumnya mengusung filosofi arsitektur tradisional seperti yang terinspirasi dari Masjid Agung Demak dengan nuansa joglo dan filosofi Jawa, maka Masjid Besar At-Taqwa Wates lebih mengikuti tren arsitektur masjid modern yang berkembang saat itu.
Menurut Ahmad Sultan, desain bangunan hasil renovasi cenderung mengikuti model yang sedang populer pada masanya. Atap masjid menyerupai sebuah bukit, di atas pintu terdapat ornamen kaca warna-warni berbentuk segitiga. Pasalnya kaca warna-warni tersebut tampak lebih menyala dan eksotis ketika malam hari.
“Kalau dilihat tren masjid hari ini, masjid yang baru itu juga hampir mirip-mirip bangunannya. Mengikuti arsitek Turki yang hari ini. Kalau dulu kan masjid kayak musala ini, susun begitu, lebih disesuakan dengan masjid Demak ada filosofi jawanya,” jelas Gus Tata, sapaan akrabnya.

Lebih lanjut Gus Tata menjelaskan, masjid tersebut dulunya didirikan oleh seorang lurah yang dikenal dengan nama Mbah Lurah Temboro pada masa itu.
“Mesjid itu waqafnya Mbah Lurah Temboro.Saya nama resminya lupa. Tapi Mbah Lurah Temboro. Terus, diteruskan, ini anak turunnya,” ujarnya.
Kini Masjid Besar At-Taqwa terdapat pengembangan masjid yang berada tepat di sisi timurnya. Bagian masjid tersebut terdiri dari dua lantai, dan lebih luas dibanding masjid utama, lantai satu. Meski proses penyempurnaan masih berlangsung hingga kini, tapi lantai dua telah dikeramik dan siap digunakan.
Jika bangunan bagian barat merepresentasikan konsep generasi tahun 2000-an, sementara pengembangan terbaru di sisi timur mengadopsi gaya yang lebih modern.
Pada malam hari, masjid ini tampil memukau dengan pencahayaan penuh. Kaca-kaca berwarna biru, merah, dan kuning di bangunan baru menyala indah, menambah kesan megah sekaligus hangat.
“Kalau malam, itu lampunya nyala semua. Jadi yang di di bangunan baru itu ada kaca biru, merah, kuning itu nyala. Kalau siang bagus, tapi lebih eksotis malam,” tambah Gus Tata.
Sebagai masjid besar tingkat kecamatan, Masjid Besar At-Taqwa Wates menjadi pusat kegiatan umat Islam di wilayah tersebut. Dalam struktur kelembagaan, masjid besar berada satu tingkat di bawah masjid agung (tingkat kabupaten) dan di atas masjid jami (tingkat desa).
Dari segi kapasitas, masjid ini mampu menampung sekitar 1.500 jemaah saat Salat Idul Futri, mencakup lantai satu, lantai dua, serta area sekeliling masjid.

Tak hanya menjadi tempat salat lima waktu, Masjid Besar At-Taqwa Wates juga aktif menggelar berbagai kegiatan keagamaan sepanjang tahun. Tercatat ada delapan kelompok pengajian rutin yang berlangsung di masjid ini.
Kegiatan tersebut, meliputi, pengajian warga sekitar, TPQ untuk anak-anak, pengajian ibu-ibu dan guru ngaji (setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu), kajian anak muda setiap malam Kamis, kegiatan Alma Wadah (majelis ibu-ibu) setiap minggu kedua dengan anggota hampir 300 orang, selawatan bapak-bapak setiap malam Jumat,
Sementara selama bulan suci Ramadan, aktivitas masjid semakin padat. Selain salat berjemaah lima waktu, masjid menggelar kajian sore menjelang berbuka puasa, dilanjutkan buka bersama setiap hari. Tak kurang dari 100 porsi makanan disediakan setiap harinya bagi jemaah dan musafir yang beribadah di masjid.
“Minimal 100 porsi setiap hari kami sediakan untuk berbuka bersama,” kata Ahmad Sultan.
Malam harinya, kegiatan dilanjutkan dengan salat tarawih dan tadarus Al-Qur’an. Bahkan selepas Subuh pun masih ada kegiatan rutin yang diikuti jemaah.
Dengan sejarah panjang sejak 1950, dukungan wakaf para tokoh desa, serta semangat pembaruan yang terus berjalan, Masjid Besar At-Taqwa Wates tidak hanya berdiri sebagai bangunan fisik, tetapi juga sebagai pusat peradaban, pendidikan, dan kebersamaan umat Islam di Kecamatan Wates. [Nik/ang].

