Kediri (tahukediri.id) – Siapa sangka, masjid yang kini berdiri dengan megahnya merupakan masjid pertama di Kecamatan Pare. Masjid Sholihin di Tarunsakti, Pare ini berdiri sejak tahun 1868. Jauh sebelum Indonesia merdeka.
Penasehat Takmir Masjid Sholihin, Muhsin (72), menuturkan bahwa, masjid ini didirikan oleh seorang tokoh masyarakat bernama H. Mampuro. Meski informasi mengenai sosok beliau tidak banyak diketahui generasi sekarang, perannya dalam mendirikan masjid pertama di Pare menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan Islam di daerah tersebut.
“Kalau berdirinya tahun 1868 ya jelas lebih satu abad,” katanya, Sabtu (28/2/2026).
Menurut penuturan para sesepuh, lanjut Muhsin, Masjid Sholihin merupakan masjid pertama di Pare. Masjid kedua yang berdiri setelahnya adalah Masjid di daerah Singgahan, disusul Masjid Taqwa, kemudian Masjid Agung An-Nur. Awalnya, masjid ini dikelola secara perorangan dan turun-temurun oleh keluarga pendiri. Namun sekitar tahun 1962, karena pengelolaan yang kurang terurus, masjid kemudian diserahkan kepada Muhammadiyah Cabang Pare untuk dikelola secara resmi.
“Terus sampai 1962, itu sepertinya tidak terurus. Sepertinya begitu. Terus akhirnya 1962, Masjid ini diberikan kepada Persyarikatan Muhammadiyah,” jelasnya.
Seiring usia bangunan yang semakin tua, Masjid Sholihin telah beberapa kali mengalami pemugaran. Renovasi pertama dilakukan sekitar awal 1960-an. Sayangnya, dokumentasi foto bangunan asli sudah tidak ditemukan lagi.
Muhsin menyebut, pemugaran kedua dilakukan pada tahun 1993, setelah dirinya mulai aktif menggerakkan generasi muda di sekitar masjid. Renovasi terakhir dan terbesar dilakukan pada 2025, dengan perubahan signifikan pada struktur dan desain bangunan.
“Alasannya yang pertama sudah sangat keropos lah ya, sudah kekuatannya udah enggak anu. Terus yang kedua, ya hasil rapat dari itu ya, di-puger saja menurut sekarang,” terangnya.
Dahulu, masjid memiliki soko guru (empat pilar utama) dengan material kayu bendo. Meski kayu tersebut sebenarnya masih cukup kuat, material akhirnya diganti dalam proses pembaruan. Bentuk awal masjid pun sempat hampir menjorok ke jalan sebelum kemudian digeser ke belakang seperti posisi saat ini.
Ketua Takmir Masjid Sholihin, Muhammad Waliudin Abdul Rohman, mengatakan, bahwa hingga saat ini masjid masih dalam tahap pembangunan lanjutan, khususnya untuk tempat wudhu.
“Sudah kami ikhtiarkan sekitar empat bulan lalu, tapi dananya belum sampai separuh, jadi belum berani mulai,” ungkapnya.
Selain memiliki sejarah tak tertulis, keistimewaan lain dari Masjid Sholihin yakni mempunyai layanan perawatan jenazah muslim yang telah berjalan lebih dari 10 tahun. Fasilitas ini melayani proses lengkap mulai dari memandikan, mengkafani, menyalatkan, hingga mengantarkan ke pemakaman atau kembali ke rumah duka sesuai permintaan keluarga.
“Jadi orang kampung atau orang yang di luar sana yang mau, silakan. Syaratnya muslim. Ya di makam, di apa, disucikan, dikafani, disholatin, dibawa lagi ke rumahnya kalau dia menghendaki seperti itu. Kalau enggak, ya dari masjid ini ke makam,” ujarnya.
Selama bulan Ramadan, Masjid Sholihin tetap aktif menggelar berbagai kegiatan keagamaan seperti pengajian dan salat tarawih berjamaah. Meski bangunan telah berubah mengikuti gaya modern, semangat pelayanan dan peran sosialnya tetap dipertahankan.
Kini, memasuki generasi ketiga hingga keempat pengelolaan, Masjid Sholihin terus bertransformasi tanpa meninggalkan jejak sejarahnya. Dari bangunan kayu sederhana hingga konstruksi modern, masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga simbol perjalanan panjang dakwah dan kebersamaan umat Islam di Pare. [nik/ang]

