Kediri (tahukediri.id) – Museum Sri Aji Jayabaya di Kabupaten Kediri kini menghadirkan pengalaman baru bagi para pengunjung melalui program Museum Passport. Program yang digagas Kementerian Kebudayaan tersebut memungkinkan pengunjung mengoleksi stempel dari berbagai museum di Indonesia, sehingga kunjungan ke museum menjadi lebih interaktif dan menarik.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Mustika Prayitno Adi, melalui Staf Bidang Sejarah dan Purbakala, Achmad Khudori, mengatakan Museum Sri Aji Jayabaya bersama Museum Airlangga menjadi bagian dari program nasional yang diikuti museum-museum di berbagai daerah.
“Karena programnya, program menyeluruh, berarti kita juga bergabung di situ. Berarti untuk tadi itu, untuk membuat sensasi berkunjung ke museum lebih lebih menarik,” jelasnya, Rabu (8/7/2026).
Melalui program tersebut, setiap pengunjung dapat membawa Museum Passport, sebuah buku koleksi yang digunakan untuk mengumpulkan stempel dari museum yang dikunjungi. Buku tersebut tidak memiliki batas waktu penggunaan sehingga dapat dipakai kapan saja hingga seluruh halamannya terisi.
Khudori menjelaskan konsep Museum Passport mengusung sensasi “hunting stempel”, layaknya mengoleksi cap perjalanan dari berbagai destinasi wisata edukasi di Indonesia.
“Buku nanti itu untuk pengunjung itu membawa buku. Lah nanti setelah pengunjung itu mendapat stempel. Lah, tujuan stempel itu adalah untuk ya itu tadi mengumpulkan berburu stempel seperti itulah. Hunting-hunting stempel. Enggak ada ketentuan. Iya, jurnal pribadi. Itu itu berlaku selamanya. Mungkin kalau habis nanti bisa beli lagi,” jelasnya.
Program tersebut mulai diterapkan di Museum Sri Aji Jayabaya sejak 16 Juni 2026 dan mendapat respons positif dari masyarakat. Hingga awal Juli, tercatat lebih dari lima pengunjung telah mengumpulkan stempel di museum tersebut. Para pengunjung berasal dari Kabupaten Kediri maupun kawasan Kampung Inggris.
Untuk mengikuti program ini, masyarakat dapat membeli Museum Passport di toko Gramedia. Buku tersebut dibanderol sekitar Rp89 ribu, namun masih tersedia harga promosi sekitar Rp84 ribu hingga akhir bulan.
Khudori menambahkan seluruh museum yang telah memiliki nomor registrasi nasional secara otomatis masuk dalam program Museum Passport. Setiap museum memiliki desain stempel dan logo yang berbeda sesuai pedoman yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kebudayaan.
“Jadi semua museum yang sudah mendapatkan nomor registrasi itu sudah tercantum di situ. Dan untuk stempelnya saja itu juga ada aturan tertentu untuk ukuran-ukurannya. Untuk logonya itu kita membuat sendiri, tapi untuk ketentuan-ketentuannya sudah ada dari sana dengan ukuran sekian, sekian, seperti itu ada,” terangnya.
Museum Sri Aji Jayabaya sendiri saat ini menyimpan sekitar 300 koleksi artefak. Sebagian besar koleksi merupakan peninggalan Kerajaan Kediri dan Kerajaan Majapahit yang ditemukan di wilayah Kabupaten Kediri. Koleksi tersebut menjadi daya tarik utama museum sebagai destinasi wisata edukasi sejarah yang memperkenalkan kekayaan budaya dan peradaban masa lampau kepada masyarakat, khususnya generasi muda. [nik/ang]

