Close Menu
tahukediri.idtahukediri.id
    What's Hot

    Berdiri Sejak 1920, SMPN 4 Pare Menyimpan Kisah Pendidikan Teknik dan Perjuangan Kemerdekaan

    17 Agustus 2026 - 12:35

    Kecewa Tak Ada Kepastian, Warga Sekoto Pasang Banner Protes Dampak TPA

    16 Agustus 2026 - 11:20

    Korsleting Listrik Diduga Picu Kebakaran Pabrik Kayu di Pare, Kerugian Rp400 Juta

    15 Agustus 2026 - 00:08
    Facebook X (Twitter) Instagram
    tahukediri.id
    • Beranda
    • News
    • Travel
      • Wisata
      • Kuliner
      • Seni & Budaya
    • Multimedia
      • Foto
      • Video
    • Tentang Kami
    • Kontak
    • Arsip
    Facebook X (Twitter) Instagram
    tahukediri.idtahukediri.id
    Home»News»Berdiri Sejak 1920, SMPN 4 Pare Menyimpan Kisah Pendidikan Teknik dan Perjuangan Kemerdekaan

    Berdiri Sejak 1920, SMPN 4 Pare Menyimpan Kisah Pendidikan Teknik dan Perjuangan Kemerdekaan

    Nanik Dwi JayantiNanik Dwi Jayanti News 17 Agustus 2026 - 12:35
    WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Pinterest Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Kediri (tahukediri.id) – Tak banyak yang tahu, di balik aktivitas belajar mengajar di SMP Negeri 4 Pare, Kabupaten Kediri, tersimpan sejarah panjang yang berkaitan dengan pendidikan teknik masa Belanda, hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

    Sekolah yang kini dikenal sebagai SMPN 4 Pare itu telah berdiri sejak 22 Mei 1920. Cikal bakalnya bermula dari sekolah teknik logam atau Ambaschool yang didirikan berdasarkan Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda Nomor 776 Tahun 1918. Sekolah tersebut diperuntukkan bagi masyarakat pribumi Pare.

    Namun, istilah “pribumi” pada masa itu tidak berarti seluruh masyarakat bisa mengenyam pendidikan.

    Pengurus Ikatan Keluarga Besar Eks Tenaga Genie Pelajar (IKB eks TGP) Cabang Kediri Hendro Widjonarko mengatakan, siswa yang diterima umumnya berasal dari keluarga yang memiliki keterkaitan dengan pemerintahan, perkebunan, maupun perusahaan milik Belanda.

    “Jadi benar-benar bagi pribumi Pare. Tapi ingat, yang namanya pribumi itu bukan rakyat jelata, yang pada waktu boleh sekolah hanya anak-anaknya orang kelasnya bangsawan yaitu mereka yang sudah bekerja di kantornya Belanda, yang sudah bekerja di pabriknya Belanda,” ujar Hendro.

    Menurutnya keberadaan sekolah teknik tersebut tak bisa dilepaskan dari kepentingan ekonomi kolonial di Kediri. Kala itu, wilayah Kediri berkembang sebagai kawasan perkebunan dan industri, terutama gula dan kopi.

    Jaringan kereta api pun juga sudah berkembang untuk menunjang aktivitas tersebut, seperti mengangkut berbagai hasil perkebunan, termasuk gula dan kopi, dari sejumlah kawasan di Kediri.

    “Perusahaan yang sangat-sangat luar biasa prioritasnya itu apa? KSM. Apa itu KSM? Kediri Stoomtramp Maatscappij. Kereta api. Perusahaan kereta api yang menghubungkan Pasar Pahing sana, stasiun sampai Jombang,” terangnya.

    Kebutuhan tenaga teknis untuk mengoperasikan pabrik dan perusahaan itulah kemudian mendorong Belanda mendidik tenaga pribumi. Yang boleh sekolah di sekolah

    “Dulu mesin-mesin yang di sekolah kita itu rencana Belanda digunakan untuk membuat produk lulusan yang menjadi kulinya di pabrik-pabrik Belanda,” ujarnya.

    Memasuki masa pendudukan Jepang, sekolah tersebut mengalami perubahan. Ambaschool kemudian diubah menjadi Kogyo Gakko, sekolah teknik pertukangan dan pembangunan.

    Di sekolah tersebut, para siswa tidak hanya mendapatkan keterampilan teknik. Mereka juga mendapat latihan yang berkaitan dengan persiapan perang, termasuk keterampilan membuat senjata. Struktur sekolah bahkan berada di bawah pengawasan perwira Jepang dan memiliki keterkaitan dengan sekolah teknik di Madiun.

    Situasi tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan sekolah. Keterampilan teknik yang dimiliki para siswa kemudian menjadi modal ketika Indonesia memasuki masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

    Setelah Indonesia merdeka, sekolah berubah menjadi sekolah teknik. Sejumlah siswanya kemudian bergabung dalam Tentara Genie Pelajar (TGP), kelompok tentara pelajar yang memiliki kemampuan khusus di bidang teknik.

    Berbeda dengan kelompok tentara pelajar lainnya, para pelajar teknik memiliki kemampuan untuk membuat dan memperbaiki persenjataan. Sekolah tersebut bahkan pernah digunakan sebagai markas komando TGP.

    Selain sekolah, sejumlah fasilitas industri di sekitar Pare juga disebut ikut dimanfaatkan dalam mendukung perjuangan, termasuk untuk penyimpanan persenjataan.

    “Di kafe (Garasi Pare) itu, tahun 1959, Pak Dirman dengan Mayor Sugono merumuskan strategi perang gerilya, penghancuran, penghapusan, penghangusan, dan penghadangan. Caranya perang gitu, gerilya. Ditindaklanjuti oleh Mayor Sunandar Priyosudarmo, komandan batalion perang yang bermarkas di Badas, akhirnya bermarkas di Sidomulyo,” kata Hendro.

    Perjalanan sejarah itu berlangsung puluhan tahun. Sekolah teknik tersebut kemudian bertahan hingga 1993 sebelum berubah menjadi SMP Negeri 4 Pare seperti yang dikenal saat ini.

    Warisan sejarah tersebut kini coba dirawat melalui keberadaan museum mini di lingkungan SMPN 4 Pare.

    Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 4 Pare, Puji Sriani menjelaskan, siswa dilibatkan dalam perawatan lingkungan museum. Salah satunya melalui kegiatan Jumat Bersih yang dilakukan secara berkala.

    “Kalau setiap Jumat ke pertama, ketiga itu ada Jumat bersih. Lah ini anak-anak kita ajak ke sana untuk membersihkan museum dan sekitarnya,” ujarnya.

    Bangunan lama sekolah juga masih dipertahankan. Pihak sekolah menyebut bangunan tersebut termasuk situs sejarah dan cagar budaya sehingga tidak boleh sembarangan diubah. Sementara ruang museum yang berada di bagian belakang merupakan bangunan yang relatif baru.

    Museum mulai dikembangkan sejak 2024, kemudian pembangunan ruang museum di bagian belakang dilanjutkan pada 2025. Saat ini, pengunjung yang datang masih didominasi rombongan sekolah.

    Sebelum memiliki ruang museum, sejumlah benda bersejarah sekolah disimpan di ruang kelas maupun bengkel. Kondisi tersebut terjadi karena keterbatasan tempat untuk menampung koleksi sejarah yang ada.

    Menurut Sriani, memberikan edukasi kepada siswa menjadi salah satu cara yang dilakukan agar sebanyak 1.006 siswa di dalamnya bisa memahami nilai penting peninggalan dan turut menjaga bangunan bersejarah tersebut.

    “Sampai sekarang ini kita masukkan di materi pelajaran ini kan lewat kokurikuler. Ini untuk kelas 7 ini sudah mulai kita perkenalkan tentang sejarah TGP yang ada di sekolah kita,” imbuhnya.

    Pihak sekolah berharap museum mini tersebut ke depan semakin dikenal masyarakat, terutama warga Pare dan Kabupaten Kediri.

    “Harapannya itu. Ya mungkin kita bisa berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata nggih untuk memperkenalkan ini. Salah satunya memperkenalkan ke paling tidak generasi penerus mengetahui kalau di SMP 4 ada sejarah,” pungkasnya. [nik/ang]

    Berita Kediri Kabupaten Kediri SMP Negeri 4 Pare
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleKecewa Tak Ada Kepastian, Warga Sekoto Pasang Banner Protes Dampak TPA

    Info Lainnya

    Kecewa Tak Ada Kepastian, Warga Sekoto Pasang Banner Protes Dampak TPA

    16 Agustus 2026 - 11:20

    Korsleting Listrik Diduga Picu Kebakaran Pabrik Kayu di Pare, Kerugian Rp400 Juta

    15 Agustus 2026 - 00:08

    Dugaan Perusakan Fasilitas Kafe di Pare Diselesaikan Kekeluargaan, Ini Kesepakatannya

    14 Agustus 2026 - 18:32

    BPK Jatim Ungkap Tantangan Bersihkan Vandalisme Cikar Mbah Gleyor: Satu Roda Bisa 3 Jam

    14 Agustus 2026 - 17:55

    Dengarkan Pidato Kenegaraan, Wali Kota Kediri Serukan Persatuan dan Gotong Royong

    14 Agustus 2026 - 17:49

    Kukuhkan Paskibraka 2026, Mas Dhito Soroti Bullying hingga Pernikahan Dini di Kalangan Pelajar

    14 Agustus 2026 - 07:28
    Leave A Reply Cancel Reply

    Info Menarik!

    Berdiri Sejak 1920, SMPN 4 Pare Menyimpan Kisah Pendidikan Teknik dan Perjuangan Kemerdekaan

    17 Agustus 2026 - 12:35

    Kecewa Tak Ada Kepastian, Warga Sekoto Pasang Banner Protes Dampak TPA

    16 Agustus 2026 - 11:20

    Korsleting Listrik Diduga Picu Kebakaran Pabrik Kayu di Pare, Kerugian Rp400 Juta

    15 Agustus 2026 - 00:08

    Dugaan Perusakan Fasilitas Kafe di Pare Diselesaikan Kekeluargaan, Ini Kesepakatannya

    14 Agustus 2026 - 18:32

    BPK Jatim Ungkap Tantangan Bersihkan Vandalisme Cikar Mbah Gleyor: Satu Roda Bisa 3 Jam

    14 Agustus 2026 - 17:55
    © 2026 TahuKediri.ID | serba tahu soal Kediri

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.