Kediri (tahukediri.id) – Semangat perjuangan dan pengabdian kepada bangsa tidak mengenal batas usia. Hal itu tercermin dari sosok Karyono, veteran asal Kota Kediri yang hingga diusianya yang menginjak 96 tahun ini masih dikenal sebagai pribadi produktif dan memiliki semangat belajar serta bekerja.
Dalam momentum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengunjungi kediaman Karyono di Jalan Wilis Mulya, Kelurahan Campurejo, Kecamatan Mojoroto, pada Senin (17/8).
Kunjungan tersebut menjadi bentuk perhatian Pemerintah Kota Kediri kepada para veteran yang telah memberikan pengabdian bagi bangsa dan negara.
Karyono merupakan salah satu pejuang pascakemerdekaan yang pernah terlibat dalam operasi Trikora. Ia menjadi bagian dari Angkatan Laut dan pernah menjalankan tugas di kapal dalam masa perjuangan mempertahankan kepentingan Indonesia di Irian Barat.
Salah satu pengalaman yang paling membekas dalam perjalanan hidupnya adalah keterlibatannya dalam pertempuran Laut Aru pada tahun 1962. Saat itu, Karyono berada di kapal KRI Harimau. Ia menuturkan, peristiwa tersebut terjadi pada siang hari dan berlangsung dalam situasi yang sangat menegangkan.
“Ya pada waktu itu, itu di laut ini ya. Lain sama di darat. Di laut itu sedikit. Begitu kapal datang, kumbang, harimau, dan macan tutul (Nama Kapal Indonesia yang patroli laut waktu itu), Nah, persamaan itu kan yang telah ditembak itu adalah macan tutul. Yang lainnya itu bisa berubah. Jadi, alhamdulillah saya kebetulan di Harimau,” kenangnya.
Karyono menjelaskan, sebelum bergabung secara penuh sebagai anggota Angkatan Laut, dirinya telah dipercaya membantu komandan sebagai sekretaris. Ia mengurus berbagai pekerjaan administrasi, termasuk surat-menyurat dan kebutuhan operasional.
Di kapal, Karyono bertugas sebagai sekertaris yang membantu menyiapkan peta perjalanan sebagai penunjuk arah pelayaran. Kemampuannya dalam mengerjakan berbagai tugas membuat dirinya dipercaya oleh para atasannya.
“Jadi, kalau ada apa-apa pasti saya dipanggil saya,” ujarnya.
Pengalaman di Laut Aru menjadi salah satu fase paling bersejarah dalam hidupnya. Karyono mengaku hanya bisa bersyukur setelah berhasil selamat dari pertempuran tersebut. Ia kemudian pulang ke Kediri sekitar satu bulan setelah kejadian.
Kepulangannya bahkan sempat membuat keluarga terkejut. Sebab, sebelumnya keluarga telah menerima kabar bahwa kapal yang ditumpangi Karyono mengalami serangan. Keluarga bahkan sempat menggelar selamatan karena mengira dirinya telah gugur.
Setelah masa perjuangan tersebut, pengabdian Karyono di Angkatan Laut terus berlanjut. Ia dipercaya menjalankan berbagai tugas di lingkungan militer, termasuk di Garnisun Surabaya. Kemampuan dan ketekunannya membuat Karyono tetap dipercaya membantu meski telah memasuki masa pensiun.
Namun, bagi Karyono, pensiun bukan berarti berhenti berkarya. Ia tetap bekerja dan berusaha memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan setelah pensiun, ia masih menjalankan berbagai aktivitas produktif dan membuat berbagai barang dari bahan yang menurut orang lain sudah tidak terpakai.
Bahkan setelah pensiun, ia masih menjalankan berbagai aktivitas produktif dan membuat berbagai barang dari bahan yang menurut orang lain sudah tidak terpakai.
“Yang penting saya cari uang untuk anak saya,” ujarnya.
Kebiasaan untuk terus belajar dan bekerja juga telah melekat sejak masa mudanya. Karyono pernah belajar mengetik dan stenografi. Ia dikenal memiliki keinginan kuat untuk terus menambah kemampuan dan tidak malu mengerjakan berbagai pekerjaan.
Kini, di usia sekitar 95 tahun, semangat tersebut masih terlihat. Karyono tetap berusaha produktif dari rumah. Ia mengumpulkan berbagai barang yang masih dapat dimanfaatkan dan mengolahnya menjadi sesuatu yang berguna.
Kepada generasi muda, Karyono berpesan agar memiliki sikap disiplin dan fokus terhadap apa yang sedang dikerjakan.
“Kalau masih sekolah, ya sekolahnya saja. Kalau kerja, ya kerjanya saja. Tidak usah yang ini, yang itu. Akhirnya semrawut,” pesannya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Kediri Imam Muttakin mengatakan kunjungan tersebut merupakan salah satu bentuk kepedulian pemerintah kepada para veteran.
Menurutnya, Karyono merupakan salah satu pejuang pascakemerdekaan yang pernah terlibat dalam perjuangan Trikora. Dalam kunjungan tersebut, Pemkot Kediri menyerahkan tali asih serta sejumlah paket sembako kepada Karyono.
“Jadi ini salah satu bentuk kepedulian pemerintah tadi kepada para legiun veteran ya. Jadi hari ini Mbak Wali mengunjungi salah satu veteran kita. Beliau adalah Pak Karyono. Beliau adalah salah satu pejuang pasca kemerdekaan. Jadi beliau itu dulunya pernah berjuang di masa-masa Trikora,” jelasnya.
Imam menambahkan, Pemerintah Kota Kediri terus menggandeng Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), terutama untuk memperkuat wawasan kebangsaan di kalangan generasi muda. Para veteran yang masih sehat juga kerap dilibatkan sebagai narasumber dalam kegiatan wawasan kebangsaan untuk membagikan pengalaman perjuangan mereka kepada generasi penerus.
Menurut Imam, di Kota Kediri terdapat sekitar 98 veteran. Sementara untuk perintis kemerdekaan, saat ini tinggal satu orang yang masih hidup, sedangkan tiga lainnya telah meninggal dunia dan meninggalkan istri yang kemudian disebut sebagai janda kemerdekaan.
“Yang masih sehat seringkali kita minta untuk menjadi narasumber ketika ada kegiatan wawasan kebangsaan seperti itu kita sering kerja sama dengan LVRI,” kata Imam.
Kisah Karyono menunjukkan bahwa perjuangan tidak selalu berhenti ketika seseorang meninggalkan medan tugas. Semangat untuk terus bekerja, belajar, membantu sesama, dan memberikan manfaat bagi lingkungan menjadi bentuk perjuangan lain yang tetap hidup hingga usia senja.
Di tengah peringatan kemerdekaan, kisah tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan yang dinikmati generasi sekarang lahir dari pengorbanan orang-orang yang pernah berada di garis perjuangan dan nilai perjuangan itu perlu terus diwariskan. [nik/ang]

