Kediri (tahukediri.id) – Kemarau panjang membuat wajah Sumber Podang, Desa Joho, Kecamatan Semen untuk sementara berubah. Jika biasanya pengunjung dapat menikmati aliran air yang lebih tinggi, kini bebatuan sungai justru mendominasi pemandangan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian warga yang selama ini ikut mengelola kawasan wisata Sumber Podang. Widayanti (35), salah satu pedagang di kawasan Sumber Podang, mengatakan kondisi kali saat ini tergolong lebih parah dibandingkan musim kemarau pada tahun-tahun sebelumnya. Aliran sungai yang biasanya mencapai lutut kini hanya menyisakan aliran dangkal hingga bebatuan di dasar sungai terlihat jelas.
“Kalau musim kemarau itu airnya memang sedikit, kalau musim hujan itu airnya bening, batu-batu itu nggak keliatan. Tapi ini paling parah, sebelum-sebelumnya ndak sampai kering, batunya kelihatan semua,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi debit air Sumber Podang sangat dipengaruhi musim. Saat musim hujan, aliran air biasanya lebih banyak dan jernih. Bahkan, bebatuan di dasar sungai tidak terlihat karena tertutup aliran air.
Namun, kemarau panjang yang terjadi kali ini membuat debit air menyusut lebih jauh. Selain akibat minimnya hujan, sebagian aliran air juga dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian.
Meski begitu, lanjutnya, kondisi tersebut tidak sampai membuat warga sekitar mengalami kekurangan air. Bendungan yang berada di bagian atas kawasan Sumber Podang memang turut mengalami penyusutan, tetapi kebutuhan air masyarakat setempat masih relatif aman.
“Tapi meski begitu, Alhamdulillah warga sini ndak sampai kekurangan air. Bendungan di atas itu meski menyusut tapi Alhamdulillah air warga sini aman, ndak sampai kekurangan,” katanya.

Meski debit air menurun drastis, kawasan tersebut masih menjadi pilihan masyarakat untuk berlibur, terutama saat akhir pekan dan hari libur.
Salah satunya, Nita, pengunjung asal Ngasem, mengaku mengetahui Sumber Podang setelah kawasan tersebut ramai diperbincangkan di TikTok. Ia kemudian datang bersama keluarganya untuk melihat langsung kondisi sumber air sekaligus menghabiskan waktu bersama keluarga.
“Saya pertama kali ke sini karena ramai di TikTok. Jadi ingin tahu bagaimana kondisi sumber airnya saat musim kemarau,” kata Nita.
Menurutnya, Sumber Podang masih memiliki daya tarik meski debit air sedang rendah. Lingkungan yang masih bersih serta keberadaan warung dengan harga makanan yang relatif terjangkau menjadi nilai tambah bagi wisatawan.
“Sumbernya bagus dan masih terjaga kebersihannya. Ditambah kulinernya ramah di kantong. Jadi sekalian bersama keluarga, family time,” tuturnya.
Di Kabupaten Kediri sendiri terdapat sejumlah daerah yang mengalami rawan kekeringan sepanjang tahun 2026. Data Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Kediri mencatat setidaknya ada 14 desa yang rawan kekeringan.
Di antaranya, Desa Ponggok dan Desa Ngetrep di Kecamatan Mojo, Desa Babadan dan Desa Sempu di Kecamatan Ngancar, Desa Sepawon dan Desa Wonorejo-Trisulo Kecamatan Plosoklaten, Desa Bobang Kecamatan Semen, Desa Kalipang Kecamatan Grogol, Desa Kepung dan Besowo Kepung, Desa Manyaran Kecamatan Banyakan, Kelurahan Sumberbendo, Sampirejo dan Pelem Kecamatan Pare.
“Dari 14 desa ini, yang darurat air bersih di Ponggok Mojo,” terang Kepala Markas PMI Kabupaten Kediri Triatmono Wahyoe, saat dikonfirmasi Rabu (26/8/2026).
Sehingga, lanjutnya pihaknya mengirimkan bantuan air bersih yang dijadwalkan sejak 12 Agustus sampai 30 September 2026. Sementara, desa lainnya, lanjut Triatmono, masih terbilang aman.
“Kita hanya membantu untuk kebutuhan warga masyarakat. PMI pada dasarnya membantu pemerintah/ BPBD sesuai kemampuan anggaran di PMI, selanjutnya akan dilanjutkan BPBD,” pungkasnya. [nik/ang]

