Kediri (tahukediri.id) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri kembali menggelar Parade Cikar sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya sekaligus mengangkat potensi ekonomi peternakan masyarakat, Sabtu (22/8/2026).
Memasuki tahun kelima pelaksanaan, Parade Cikar 2026 berlangsung meriah dengan diikuti 43 peserta dari sekitar 10 kecamatan di Kabupaten Kediri. Bahkan, satu peserta datang dari luar daerah, yakni Yogyakarta.
Sekretaris Daerah Kabupaten Kediri, Mohamad Solikin, mengatakan Parade Cikar bukan sekadar kegiatan budaya. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi pengingat bagi masyarakat terhadap keberadaan cikar sebagai sarana transportasi tradisional yang dahulu memiliki peran penting dalam aktivitas ekonomi masyarakat.
“Ini adalah sarana transportasi tradisional, bisa mengingatkan memori kolektif kita yang terkait dengan pemanfaatan cikar untuk kegiatan ekonomi masyarakat. Tapi kita juga mengingatkan ke generasi muda kita bahwa memelihara sapi, ternak sapi itu juga potensi ekonomi yang luar biasa,” jelasnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk mengenalkan potensi peternakan sapi kepada generasi muda. Sebab, kebutuhan terhadap daging dan susu masih tinggi, sehingga sektor peternakan dinilai memiliki peluang ekonomi yang besar.
“Kita juga mengingatkan ke generasi muda kita bahwa memelihara sapi, ternak sapi itu juga potensi ekonomi yang luar biasa. Hari ini terus terang kita kekurangan daging, susu, dan itu adalah potensi yang luar biasa. Belum olahan dari produksi eh yang bersumber dari ternak sapi,” katanya.
Pihaknya berharap Parade Cikar ke depan dapat dilaksanakan semakin baik dengan melibatkan lebih banyak pihak. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, komunitas budaya dan peternak diharapkan mampu membuat kegiatan tersebut memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.
Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri, Tutik Purwaningsih, mengatakan Parade Cikar tahun ini merupakan rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Hari ini kami Pemkab Kediri melaksanakan kegiatan parade Cikar merupakan rangkaian daripada HUT Kemerdekaan RI ke-81,” katanya.
Tutik menjelaskan, tema Parade Cikar tahun ini lebih melibatkan masyarakat umum untuk ikut parade. Salah satunya dengan mengajak sekitar 50 SDN 1 Wonosari, Kecamatan Pagu untuk mengikuti parade serta beberapa masyarakat umum yang beruntung.
“Sebetulnya permintaannya banyak, tapi mengingat pertimbangan jumlah cikarnya 43, per cikar kurang lebih hanya empat ataupun lima tambahan, sehingga baru 50 anak yang kami libatkan ditambah tadi beberapa
dari masyarakat yang langsung ikut,” imbuhnya.

Namun sebelum itu, para siswa mendapatkan edukasi mengenai pentingnya mengonsumsi produk peternakan sebagai bagian dari pemenuhan gizi. Mereka juga dikenalkan dengan berbagai produk peternakan, seperti telur, telur asin, daging olahan, abon dan susu.
Tak hanya itu, panitia juga membagikan sekitar 2.000 butir telur rebus gratis kepada masyarakat di sepanjang jalur parade dari depan taman Totok Kerot hingga finish di depan PD BPR Bank Daerah Kabupaten Kediri.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk dukungan terhadap para peternak dan upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap konsumsi produk peternakan.
Lebih jauh Tutik menuturkan, jumlah peserta parade tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 40 cikar. Dari 46 peserta yang mengajukan terdapat 43 cikar dengan jumlah sapi sekitar 86 ekor yang dinyatakan memenuhi persyaratan untuk mengikuti parade.
“Jadi pada deadline terakhir pendaftaran H-10 sebelum kita close seluruh petugas kesehatan hewan kami cek ke lokasi masing-masing. Awal kemarin ada 46, yang tiga sepertinya tidak memenuhi syarat untuk ikut, sehingga yang ikut tinggal 43,” jelasnya.
Tutik melanjutkan, pemeriksaan kesehatan tersebut dilakukan untuk memastikan keamanan dan kesehatan hewan karena parade berlangsung di ruang publik.
Hasilnya, seluruh sapi yang mengikuti parade dapat menyelesaikan perjalanan sekitar 5,5 kilometer dengan baik. Tidak ada laporan sapi sakit maupun ambruk selama kegiatan berlangsung.
Sapi yang digunakan didominasi jenis Peranakan Ongole (PO), Brahman dan beberapa hasil persilangan. Bobotnya rata-rata berada di kisaran 700 hingga 900 kilogram. Meski begitu, menurut Tutik sapi-sapi tersebut bukan sapi ekstrem, melainkan sapi yang memang telah terlatih untuk menarik cikar.
Dalam Parade Cikar 2026, terdapat sejumlah aspek yang menjadi penilaian juri. Di antaranya kondisi sapi, kreativitas cikar serta aksesori tambahan yang digunakan.
Peserta juga dituntut menampilkan unsur muatan lokal, terutama produk pertanian dan peternakan Kabupaten Kediri.
Produk yang dibawa peserta bahkan dibagikan kepada masyarakat sepanjang perjalanan. Hal tersebut membuat parade sekaligus menjadi sarana promosi produk lokal Kabupaten Kediri.
Tutik menyebut perkembangan komunitas cikar di Kabupaten Kediri cukup positif. Jumlah peserta terus bertambah dari tahun ke tahun.
“Kalau kami melihat respon awal sebelum persiapan nggih, ternyata dari teman-teman masih antusias dibuktikan juga tambahan anggota. Kalau sebelumnya kan 35, kemudian 40, per hari ini 46. Bahkan teman-teman yang baru-baru, anak-anak muda yang apa ya, kebetulan orang tuanya punya sudah mulai meneruskan sepertinya,” ungkapnya.
Menurutnya, munculnya generasi muda yang mulai tertarik meneruskan tradisi keluarga menjadi hal yang patut diapresiasi. Sebab, keberadaan mereka tidak hanya membantu melestarikan budaya cikar, tetapi juga menjaga keberlanjutan peternakan sapi.
Parade Cikar tahun ini sendiri diikuti peserta dari 10 kecamatan. Kecamatan Wates dan Ngadiluwih menjadi wilayah dengan jumlah peserta terbanyak, yakni sekitar 10 hingga 11 peserta.
Salah satunya, Yudiono peserta dari Mbah Lurah Farm, Desa Kunjang yang berhasil menjadi juara bertahan sejak tahun lalu ini berharap pemerintah daerah terus memberikan dukungan terhadap komunitas cikar di Kabupaten Kediri.
“Harapannya kami dari pihak kami komunitas Cikar yang ada di Kediri kita tetap mohon difasilitasi dan didampingi setiap tahun eh kalau bisa diadakan parade Cikar terus biar kita enggak ketinggalan, kita tetap semangat untuk nguri-nguri tinggalan para leluhur kita,” ujarnya.
Yudiono sendiri selalu mengikuti kontes sejak pertama kali kontes tersebut digelar.
Selain peserta dari berbagai wilayah Kabupaten Kediri, antusiasme masyarakat luar daerah juga terlihat dengan hadirnya peserta dari Yogyakarta yang menjadi sapi tunggal.
Melalui Parade Cikar, Pemkab Kediri berharap budaya lokal tetap hidup dan dikenal generasi muda. Di sisi lain, kegiatan tersebut juga menjadi pengingat bahwa budaya, pertanian dan peternakan dapat menjadi bagian penting dalam menggerakkan perekonomian masyarakat. [nik/ang]

