Kediri (tahukediri.id) – Koperasi Konsumen Unit Desa (KKUD), salah satu koperasi binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kediri yang terus menunjukkan perkembangan positif dalam menggerakkan ekonomi masyarakat pedesaan.
Hingga kini koperasi yang berada di Kecamatan Sawahan, Kabupaten Madiun ini berhasil mengembangkan lima unit usaha sekaligus memperkuat perannya dalam mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan petani. Mulai dari simpan pinjam, pengadaan pupuk, penggilingan padi (Rice Milling Plant/RMP), perdagangan atau pertokoan, hingga pelayanan jasa.
Ketua KUD Tani Jaya, Suparno, mengatakan, perkembangan tersebut tidak lepas dari upaya pengurus dalam melakukan inovasi dan memperluas pelayanan kepada anggota. Bahkan, melalui pendampingan dan pembinaan Bank Indonesia (BI), unit usaha pertokoan KUD Tani Jaya mencatatkan pertumbuhan omset SHU mencapai lebih dari Rp1 miliar per tahun.
“Kami berupaya agar KUD terus berkembang dan bisa memberikan pelayanan terbaik kepada anggota. Karena tujuan utama koperasi adalah memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya pada kesempatan kunjungan KpwBI Kediri bersama Media, Kamis (5/11/2011).
KKUD Tani Jaya sendiri berdiri sejak tahun 1975 dan saat ini memiliki 32 karyawan-karyawati yang menjalankan berbagai kegiatan usaha untuk melayani kebutuhan anggota maupun masyarakat umum.
Menurut Suparno, dari kelima unit tersebut, sektor pertokoan dan simpan pinjam menjadi penopang utama aktivitas usaha koperasi.

Sementara unit penggilingan padi memiliki peran strategis dalam mendukung ketersediaan beras sekaligus memperkuat rantai pasok pangan.
Manager KUD Tani Jaya, Sarwana, menjelaskan, dalam perkembangannya, unit ini tidak sekadar membeli gabah, tetapi juga melakukan pengeringan, pengolahan hingga pengemasan beras untuk dipasarkan.
Beras jenis mediun hasil produksi KUD kemudian dipasarkan melalui gerai pertokoan milik koperasi dan didistribusikan kepada sejumlah koperasi mitra, termasuk koperasi wanita di wilayah Kabupaten Madiun.
“Kami mengambil gabah, kemudian diproses dan dikemas sendiri. Dengan begitu, beras yang dijual di toko KUD bisa memiliki daya saing harga. Untuk kelas medium, kami upayakan harganya lebih terjangkau dibandingkan produk sejenis di pasaran,” terang Sarwana.
Keberadaan penggilingan padi tersebut juga menjadi strategi koperasi dalam menjaga ketersediaan stok beras. KKUD Tani Jaya melakukan penampungan gabah untuk memastikan kegiatan produksi tetap berjalan, termasuk ketika pasokan dari wilayah sekitar mengalami perubahan.
Kembangkan Pertokoan, Siapkan Gerai Baru
Selain memperkuat sektor pertanian, KKUD Tani Jaya juga terus memperluas jaringan perdagangan. Saat ini koperasi telah memiliki empat gerai pertokoan yang tersebar di sejumlah wilayah Kabupaten Madiun.
Pengelolaan toko sudah menggunakan sistem komputerisasi dengan konsep pelayanan ritel modern. Koperasi juga terus melakukan pembenahan manajemen dan strategi pemasaran untuk menghadapi persaingan usaha yang semakin ketat.
Bahkan, KKUD Tani Jaya tengah mempersiapkan pengembangan gerai baru di Desa Wungu, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun.
Sarwana menyebut, salah satu strategi utama untuk memenangkan persaingan adalah menjaga harga kebutuhan pokok tetap kompetitif, terutama beras, minyak goreng, dan gula.
“Kuncinya di toko besar itu kebutuhan sembako harus punya daya saing. Beras, minyak, gula harus bisa memberikan harga yang menarik bagi konsumen. Kami juga terus mengembangkan strategi promosi dan pemasaran,” jelasnya.

Sarwana menuturkan, KUD Tani Jaya mendapatkan dukungan pendampingan dan pembinaan dari Bank Indonesia sejak 2023–2024.
Program tersebut menyasar penguatan ketahanan pangan, peningkatan kapasitas petani, serta pengembangan pemasaran berbasis digital.
Di sektor pertanian, Bank Indonesia memfasilitasi pelatihan bagi kelompok tani, termasuk penerapan pemupukan ramah lingkungan dan pengembangan demplot budidaya padi.
Petani juga diperkenalkan dengan teknologi digital farming berupa perangkat untuk mengukur tingkat keasaman tanah atau pH, mengetahui kebutuhan pupuk, serta membantu menentukan langkah budidaya yang lebih efektif.
Dengan penerapan teknologi tersebut, petani diharapkan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk sekaligus menjaga produktivitas pertanian.
Sementara di sektor perdagangan, pendampingan diarahkan pada penguatan digital marketing agar pertokoan KUD mampu mengikuti perkembangan pola belanja masyarakat dan menghadapi persaingan ritel modern.
Sarwana mengungkapkan, dampak pembinaan tersebut mulai terlihat pada perkembangan usaha pertokoan.
“Alhamdulillah, setelah mendapatkan pendampingan dan pembinaan, perkembangannya cukup baik. Kalau dihitung, ada kenaikan omzet kurang lebih 15 sampai 20 persen,” ungkapnya.
Suparno bersama jajaran pengurus berharap KUD Tani Jaya semakin berkembang, mampu memperluas manfaat usaha, serta terus menjadi mitra strategis petani dan masyarakat dalam membangun perekonomian pedesaan.
Perkembangan KUD Tani Jaya sekaligus memperlihatkan bahwa koperasi memiliki potensi besar untuk menjadi penghubung antara sektor pertanian, perdagangan, dan pelayanan masyarakat dalam mendukung ketahanan pangan daerah. [nik/ang]

