Kediri (tahukediri.id) – Sejumlah Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) yang ditemukan di area persawahan Desa Sidomulyo, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri sejak tahun 1990 kini diserahkan ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Diaparbud) Kabupaten Kediri agar disimpan di Museum Sri Aji Jayabaya Kediri.
Sebanyak tiga fragmen yang berada di rumah warga bernama Mujiono ini dievakuasi oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, pada Rabu (7/10/2026).
Mujiono menceritakan, awal mula penemuan arca tersebut terjadi ketika dirinya masih menempuh pendidikan tinggi di bidang seni rupa di IKIP Surabaya, yang kini menjadi Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Saat itu, ia kerap mengunjungi sawah milik keluarganya yang ditanami padi, tebu, dan jagung. Di tengah aktivitas pertanian warga, ia melihat sebuah batu yang bentuknya menyerupai arca di kawasan candi.
Berbekal pengetahuan sejarah kebudayaan yang diperolehnya selama kuliah, Mujiono menduga benda tersebut memiliki nilai sejarah.
“Ada batu yang saya ndak tahu ya itu mirip apa, tapi saya kaitkan dengan saya mendapatkan ilmu di perguruan tinggi kan dapat ilmu sejarah kebudayaan, sejarah Indonesia. Kok ini mirip, jadi seperti temuan-temuan arca yang pada candi pada saat masa-masa mungkin kita ndak tahu ya, masa Kediri atau masa yang mana kita enggak tahu,” katanya, Jumat (9/10/2026).
Mujiono melanjutkan, menurutnya, saat itu batu tersebut masih dimanfaatkan untuk keperluan pertanian. Warga menggunakannya sebagai alas untuk memukul hasil panen padi maupun membantu memperkuat gagang peralatan seperti cangkul dan sabit.
“Saya lihat sendiri kadang teman-teman yang di pertanian itu ngeblok. Itu kalau ngeblok istilahnya itu nutup padi yang sudah panen itu dikebut-kebutkan di batu. Nah itu untuk itu. Bahkan ada lagi kadang untuk itu kalau cangkul itu tidak kurang rapat kan mudah lepas. Itu di untuk ditempatkan di situ supaya untuk kuat,” ungkapnya.
Melihat kondisi tersebut, Mujiono berinisiatif menyelamatkan benda itu. Bersama tetangganya, Suyo, ia membawa arca menggunakan sepeda motor dan menempatkannya di lingkungan rumahnya.
Selama puluhan tahun, arca-arca itu dibiarkan di pekarangan depan rumahnya, sehingga kondisinya sedikit keropos akibat terkena panas dan hujan.
“Dulu masih halus. Sekarang kan ya kena hujan, kena panas. Panas, hujan, panas, hujan, gitu, Nggih,” ucapnya.
Kabid sejarah dan kepurbakalaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri, Eko Priatno Triwarso, menyampaikan bahwa arca yang dievakuasi diperkirakan merupakan Arca Dewa Siwa.
Meski demikian, kondisi arca yang telah aus membuat identifikasi lebih lanjut diperlukan.
“Kalau nilai sejarahnya juga sebetulnya yang di Wates ini Arca Dewa. Prediksi saya itu Arca Dewa Siwa, tapi kan sudah aus sekali. Tapi nanti coba kita wait and see ketika nanti di sini kita konservasi nanti bisa kelihatan atributnya itu pakai apa aja,” jelas Eko.
Ia menjelaskan, identifikasi arca dapat dilakukan melalui kajian ikonografi, yakni ilmu yang mempelajari ciri visual dan atribut pada figur dewa.
Dalam tradisi Hindu, setiap dewa memiliki atribut tertentu. Trisula, misalnya, merupakan salah satu atribut yang berkaitan dengan Dewa Siwa. Selain itu, Nandi dikenal sebagai kendaraan Dewa Siwa.
Atribut yang masih tersisa pada arca nantinya akan menjadi salah satu petunjuk untuk membantu proses identifikasi. Karena itu, konservasi dan penelitian lebih lanjut diperlukan agar identitas serta nilai arkeologis benda tersebut dapat diketahui secara lebih pasti.
Mujiono mengungkapkan, benda yang ditemukannya bukan satu-satunya batu yang diduga menyerupai arca di kawasan tersebut. Ia mengingat pernah melihat sejumlah benda serupa di area persawahan sekitar Desa Sidomulyo, termasuk kawasan yang mengarah ke Dusun Kawinong dan Dusun Temburan.
Namun, benda-benda itu ditemukan secara terpisah dan sebagian telah berpindah tempat. Ia menduga beberapa di antaranya mungkin masih berada di lokasi lain atau tertimbun tanah.
“Ini yang lainnya di mana, ternyata lainnya itu dipindah ke mana terus mungkin saat ini juga masih ada tapi mungkin terpendam, mungkin hancur karena untuk tadi untuk tanding ya istilahnya nanding, nanding untuk satu,” terangnya.
Ia berharap dengan dikembalikannya ke museum, benda bersejarah itu dapat diteliti lebih lanjut sehingga memberikan informasi mengenai sejarah dan kebudayaan masa lampau di Kabupaten Kediri.
“Alhamdulillah, saya senang sekali. Saya apa istilahnya kalau situs ini bisa dirunut dari sejarahnya, alhamdulillah kan yang bisa itu kan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri. Biar nanti menjadikan suatu penelitian. Siapa tahu mungkin yang lainnya bisa dicari, digali. Kalau ada, kalau enggak, ini untuk pembelajaran anak-anak kita, anak cucu kita bahwa kita itu ada,” tuturnya.
Ia juga berharap generasi muda ikut menjaga peninggalan sejarah agar tidak hilang atau rusak. Menurutnya, pemahaman terhadap sejarah daerah penting untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam menghargai dan melestarikan warisan budaya.
“Karena kan dengan melek teknologi kan otomatis dia biar berkembang dan mengetahui cikal bakalnya dia dari mana dulu sehingga apa ya istilahnya ya, paling tidak dia mengerti sejarah muasalnya itu dari mana dan biar menghargai dari sejarah tersebut, menghargai budaya tersebut agar tidak apa hilang, tidak musnah dan bisa dijaga kelestariannya,” pungkasnya. [nik/ang]

