Kediri (tahukediri.id) – Menyusul Aditya Firmansyah, warga Dusun Nanas, Desa Manggis, yang berpulang pada Jumat (25/9/2026), kakak ipar Tri Sutrisno (30) yang juga korban penumpang KMP Virgo Transport juga tiba di rumah duka pada Selasa (29/9/2026) pagi sekitar pujul 10.30 WIB.
Sepupu Tri, Nuyen Fauzi mengatakan, pihak keluarga mendapat kabar ditemukannya korban dari Victim Identification (DVI) Polri di Banjarmasin pada Senin (28/9/2026) sore sekitar pukul 16.00 WIB.
“Kemarin sore sekitar jam 16.00 kami dari keluarga itu mendapat kabar dari pihak di DVI Polri Banjarmasin itu ditemukan teridentifikasi,
itu bahwasanya jenazah atas nama Tri Sutrisno kakak kami sudah ditemukan,” katanya.
Fauzi melanjutkan, kepastian tersebut menjadi titik akhir dari penantian keluarga yang sebelumnya diliputi kecemasan. Mmeski harus menerima kenyataan pahit kehilangan anggota keluarga, namun pihak keluarga merasa lebih lega karena keberadaan Tri telah diketahui.
“Ya, pasti keluarga itu sangat-sangat cemas dan eh sebelumnya kan kita bingung keadaan beliau itu seperti apa. Nah, akhirnya dengan kondisi seperti ini sudah ditemukan, kami sekeluarga sudah lega walaupun sebenarnya keadaan seperti ini pun tidak diinginkan dengan pihak keluarga,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dusun Nanas, Sukarji, mengatakan, menerima informasi tersebut sekitar pukul 16.30 WIB dari pihak Jasa Raharja.
Menurut Sukarji, informasi itu kemudian langsung disampaikan kepada pihak keluarga. Keluarga juga melakukan konfirmasi melalui kerabat yang berada di Banjarmasin untuk memastikan kebenaran kabar tersebut.
“Jam 16.30 WIB saya mendapat informasi dari Jasa Raharja, langsung komunikasi sama saya. Langsung saya sampaikan pada keluarga,” jelas Sukarji.
Sukarji menambahkan, sejumlah dokumen yang diperlukan untuk proses administrasi telah disiapkan oleh pihak desa dan keluarga, termasuk identitas orang tua serta dokumen rekening yang diperlukan.
Bagi keluarga, Tri Sutrisno bukan hanya seorang pekerja ekspedisi. Ia dikenal sebagai sosok yang baik, humoris, dan memiliki kedekatan erat dengan para kerabatnya.
Fauzi mengaku memiliki hubungan dekat dengan Tri, bahkan seperti saudara kandung.
“Baik, kemudian humoris. Kami dari sepupu pun cukup dekat sebenarnya dengan beliau, seperti saudara kandung,” tuturnya.
Keluarga juga mengenang kebiasaan Tri yang sering berkunjung dan menghabiskan waktu bersama kerabat ketika berada di rumah.
Tri merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Selama bekerja di bidang ekspedisi, ia menjalani perjalanan dengan rute Surabaya-Banjarmasin. Kepulangannya ke rumah tidak selalu terjadwal, bergantung pada ketersediaan muatan.
“Biasanya sebulan sekali pasti pulang,” kata Fauzi.
Fauzi melanjutkan, oertemuan terakhirnya dengan Tri berlangsung sekitar dua bulan sebelumnya. Setelah itu, Tri tidak sempat kembali ke rumah karena menjalankan pekerjaannya.
Peristiwa yang menimpa Tri turut menimbulkan harapan keluarga agar aspek keselamatan dalam perjalanan menjadi perhatian utama.
Keluarga berharap prosedur keselamatan dalam transportasi dapat dijalankan sebagaimana mestinya, sehingga kejadian serupa tidak terulang.
“Yang jelas kita berharap keamanan, keselamatan penumpang itu nomor satu,” tegasnya.
Ia menyampaikan bahwa keluarga tidak mengetahui secara pasti bagaimana peristiwa tersebut terjadi dan berharap evaluasi terhadap aspek keselamatan dapat dilakukan oleh pihak terkait.
Di tengah suasana duka, keluarga berupaya mengikhlaskan kepergian Tri. Mereka berharap almarhum mendapat ampunan dan tempat terbaik di sisi Tuhan.
“Semoga amal ibadah beliau diterima dan kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja semoga dimaafkan,” ujar Fauzi. [nik/ang]

