Close Menu
tahukediri.idtahukediri.id
    What's Hot

    319 Atlet Ikuti Kejuaraan Pencak Silat Piala Bupati Kediri 2026

    18 Juli 2026 - 18:54

    Universitas Kadiri Lepas 770 Wisudawan, Targetkan Rintisan Program S3 dan Perluas Jaringan Global

    18 Juli 2026 - 18:49

    Apel Akbar Pramuka di Kediri Libatkan 10 Ribu Peserta, Dorong Generasi Muda Cinta Pertanian

    18 Juli 2026 - 08:50
    Facebook X (Twitter) Instagram
    tahukediri.id
    • Beranda
    • News
    • Travel
      • Wisata
      • Kuliner
      • Seni & Budaya
    • Multimedia
      • Foto
      • Video
    • Tentang Kami
    • Kontak
    • Arsip
    Facebook X (Twitter) Instagram
    tahukediri.idtahukediri.id
    Home»Seni dan Budaya»Ungu dan Tenun Ikat: Makna Filosofis di Balik Pakaian Khas Kota Kediri yang Diluncurkan Mbak Wali

    Ungu dan Tenun Ikat: Makna Filosofis di Balik Pakaian Khas Kota Kediri yang Diluncurkan Mbak Wali

    Mohamad EdyMohamad Edy Seni dan Budaya 27 Mei 2025 - 22:02
    WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Pinterest Email
    Wali Kota Kediri Vinanda dan wakilnya Gus Qowim mengenakan pakaian khas berwarna ungu dan dari tenun ikat.
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Kediri (tahukediri.id) – Warna ungu yang mencolok tampak membalut tubuh Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati dan Wakil Wali Kota KH Qowimuddin Thoha saat mereka melangkah mantap dalam sebuah acara peluncuran yang sarat makna.

    Di tengah program kerja 100 hari pertamanya, Mbak Wali, sapaan akrab Vinanda Prameswati memperkenalkan pakaian khas Kota Kediri sebagai simbol identitas, sejarah, sekaligus penggerak ekonomi lokal.

    Busana daerah tersebut tak hanya menampilkan kekayaan visual berupa motif tenun ikat, tetapi juga menggambarkan kedalaman filosofi dari sebuah kota yang berdiri di antara dua gunung dan dialiri Sungai Brantas.

    Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kota Kediri, Zachri Ahmad, menegaskan bahwa peluncuran ini merupakan langkah nyata pelestarian warisan budaya tak benda Indonesia.

    “Filosofinya pakaian khas ini adalah kita selaku pemerintah melakukan pengembangan terhadap warisan budaya tak benda. Tenun ikat ini merupakan salah satu warisan budaya tak benda Indonesia yang sudah ditetapkan oleh Menristekdikti Tahun 2022. Sehingga kita kembangkan,” ungkap Zachri.

    Motif tirto dan motif telur ceplok menjadi dua elemen utama dalam desain pakaian tersebut. Tirto melambangkan unsur air, sedangkan telur ceplok merepresentasikan kekayaan pola tradisional masyarakat. Keduanya dipilih tidak sembarangan, melainkan hasil riset mendalam bersama akademisi sejarah dan pelestari budaya lokal.

    Pemilihan warna ungu pun bukan tanpa alasan. Dalam Kidung Harsawijaya, warna ini disebut sebagai warna pilihan para raja Kediri pada masa lalu. Kini, ungu menjadi benang merah yang menghubungkan masa kejayaan sejarah dengan semangat modernitas dalam wujud pakaian khas.

    “Sisi lain pengembangan warisan budaya ini adalah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi para pengrajin. Penjahit di Kota Kediri, terus para pelaku usaha pengrajin udeng di Kediri,” lanjut Zachri.

    Semua proses pembuatan dilakukan oleh masyarakat Kediri, mulai dari pencarian bahan baku hingga proses menjahit. Hal ini menjadi bukti bahwa inisiatif pelestarian budaya tidak berjalan sendiri, tetapi sekaligus menghidupkan roda perekonomian lokal.

    Tak kalah menarik, bagian udeng alias ikat kepala khas, dalam pakaian ini membawa simbol geografis yang kuat. Dua gundukan pada udeng menggambarkan posisi Kota Kediri yang berada di antara Gunung Kelud dan Gunung Wilis, dengan Sungai Brantas yang mengalir membelah kota.

    Wilayah Bandar Kidul, yang telah lama dikenal sebagai sentra tenun ikat, kembali menjadi sorotan. Belasan perajin aktif di sana terus memproduksi kain tenun berkualitas tinggi yang telah dikenal hingga ke pasar internasional, menjadikan Kediri tidak hanya berbicara soal sejarah dan budaya, tapi juga soal kreativitas dan daya saing ekonomi. ***

    Kota Kediri Makna Filosofis Pakaian Khas
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticlePetani Kediri Kirim Cabai ke Surabaya, Mas Dhito Pastikan Pasar Aman lewat Kerja Sama Antar Daerah
    Next Article ATM Beras Kediri Tuai Pujian Danrem: Terobosan Mbak Wali Dinilai Realisasikan Program Presiden

    Info Lainnya

    Candi Tegowangi Jadi Panggung Sastra Saraswati Sewana Yatra 2026

    16 Juli 2026 - 20:07

    Kirab Agung Budaya Dorok Tutup Rangkaian Bulan Suro, Toleransi Jadi Pesan Utama

    12 Juli 2026 - 17:45

    Ratusan Warga Semarakkan Tradisi Unduh-Unduh GKJW Sidorejo, Lelang Hasil Panen Jadi Daya Tarik

    12 Juli 2026 - 17:30

    Bullying Anak di Kediri Meningkat Tajam, Korban Didominasi Pelajar SMP hingga SMK

    10 Juli 2026 - 17:40

    Lawan Fenomena Fatherless, Pemkot Kediri Perkuat Peran Ayah dalam Keluarga

    10 Juli 2026 - 17:32

    Wisatawan Jepang Ikut Jamasan Arca Totok Kerot Kediri, Tertarik Pelestarian Budaya dan Sejarah Lokal

    9 Juli 2026 - 19:41
    Leave A Reply Cancel Reply

    Info Menarik!

    319 Atlet Ikuti Kejuaraan Pencak Silat Piala Bupati Kediri 2026

    18 Juli 2026 - 18:54

    Universitas Kadiri Lepas 770 Wisudawan, Targetkan Rintisan Program S3 dan Perluas Jaringan Global

    18 Juli 2026 - 18:49

    Apel Akbar Pramuka di Kediri Libatkan 10 Ribu Peserta, Dorong Generasi Muda Cinta Pertanian

    18 Juli 2026 - 08:50

    Rumah di Purwoasri Kediri Terbakar Saat Pemilik Terlelap, Kerugian Capai Rp250 Juta

    18 Juli 2026 - 08:06

    Tak Sekadar Lulus, Mas Bup Ingatkan Peserta PBK 2026 Harus Mampu Berkarya di Dunia Kerja

    17 Juli 2026 - 22:38
    © 2026 TahuKediri.ID | serba tahu soal Kediri

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.