Kediri (tahukediri.id) – Tradisi jamasan Arca Totok Kerot di Dusun Kunir, Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, kembali menjadi daya tarik wisata budaya. Tidak hanya diikuti masyarakat setempat, ritual yang digelar setiap Bulan Suro atau Muharram ini juga menarik perhatian wisatawan mancanegara. Salah satunya adalah mahasiswi asal Jepang, Saki Maeta (26), yang datang khusus untuk mempelajari pelestarian budaya dan cagar budaya di Kediri.
Mahasiswi Program Doktor (S3) Antropologi Budaya Kobe University, Jepang, tersebut mengikuti langsung prosesi jamasan Arca Totok Kerot yang berlangsung pada Kamis (9/7/2026). Kehadirannya menjadi bukti bahwa tradisi budaya lokal Kediri mulai mendapat perhatian akademisi internasional.
“Saya ke Kediri karena saya memang tertarik budaya-budaya yang ada di Kediri, terutama bagaimana masyarakat melestarikan peninggalan zaman dahulu,” ujar Saki usai mengikuti prosesi siraman Arca Totok Kerot.
Selama berada di Kediri, Saki tidak hanya mengunjungi Arca Totok Kerot. Ia juga mendatangi sejumlah situs bersejarah lainnya, seperti Pamuksan Sri Aji Jayabaya dan Gua Selomangleng untuk mempelajari sejarah serta hubungan masyarakat dengan warisan budaya yang masih terjaga hingga kini.
Menurutnya, upaya pelestarian yang dilakukan masyarakat Kabupaten Kediri sudah berjalan dengan baik. Ia berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang mempelajari sejarah di balik setiap situs budaya sehingga kesadaran menjaga warisan leluhur terus tumbuh.
“Mungkin saya merasa sudah cukup dilestarikan dan mungkin tinggalnya banyak masyarakat belajar sejarah atau ceritanya dan melestarikan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Eko Priyatno, menjelaskan bahwa kegiatan jamasan merupakan inisiatif para Juru Pelihara (Jupel) Cagar Budaya yang mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Kediri.
“Jadi ini adalah salah satu bentuk inisiatif dari teman-teman juru pelihara Cagar Budaya Kabupaten Kediri. Dan kemarin sudah sempat saya laporkan ke Pak Kepala Dinas, Pak Kepala Dinas sangat mendukung,” ujarnya.
Menurut Eko, kegiatan Merti Cagar Budaya di Arca Totok Kerot telah memasuki tahun kedua setelah sempat terhenti selama pandemi Covid-19.
Momentum Bulan Suro dipilih karena bertepatan dengan awal Tahun Baru Jawa 1960 Be yang memiliki makna spiritual sebagai waktu untuk bersyukur sekaligus memohon keselamatan dan kelancaran hidup pada tahun yang baru.
“Momentumnya adalah bulan Suro sekaligus sebagai wujud rasa syukur terhadap datangnya bulan tahun baru, tahun Jawa 1960 Be, sekaligus memohonkan keselamatan. Mudah-mudahan di tahun yang baru ke depan mendapatkan keselamatan, kemudian kelancaran dalam setiap hal dalam perjalanannya,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, jamasan dilakukan sesuai standar konservasi cagar budaya. Para juru pelihara hanya menggunakan air bersih dan sikat berbahan ijuk tanpa sabun maupun bahan kimia agar struktur batu tetap terjaga.
“Perawatan cagar budaya itu memang tidak diperkenankan adanya cairan apapun kecuali air. Jadi air dan sikat, tidak ada sabun, tidak ada apapun. Jadi murni air dengan sikat. Sikatnya pun sikat ijuk, tidak boleh sikat plastik atau sikat kawat,” terang Eko.
Sebelum prosesi pembersihan dimulai, masyarakat terlebih dahulu menggelar kenduri atau selamatan, kemudian dilanjutkan pembacaan legenda Arca Totok Kerot. Setelah prosesi simbolis selesai, para peserta bersama masyarakat bergotong royong memandikan arca sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.
Secara arkeologis, Arca Totok Kerot merupakan arca Dwarapala yang diperkirakan berasal dari masa akhir Kerajaan Kediri pada sekitar abad ke-13. Namun di tengah masyarakat, arca tersebut juga dikenal melalui legenda rakyat tentang seorang putri yang jatuh cinta kepada Prabu Jayabaya.
Dalam cerita yang diwariskan turun-temurun, sang putri terus mengejar Prabu Jayabaya meski telah diperingatkan. Akibat sikapnya tersebut, ia dikutuk menjadi raksasa hingga akhirnya berubah menjadi batu. Kisah inilah yang kemudian melahirkan nama “Totok Kerot” yang masih dikenal masyarakat hingga sekarang.
Eko menegaskan, baik nilai sejarah maupun legenda yang hidup di masyarakat memiliki kedudukan yang sama penting sebagai bagian dari identitas budaya Kabupaten Kediri.
Ke depan, para juru pelihara berharap kegiatan Merti Cagar Budaya tidak hanya dilaksanakan di Arca Totok Kerot, tetapi juga dapat diperluas ke berbagai situs cagar budaya lain di Kabupaten Kediri sebagai upaya memperkuat pelestarian sejarah sekaligus mengembangkan wisata budaya.
“Yang penting adalah makna nilainya. Kita mencari piwulang leluhur, apa yang sudah diajarkan oleh leluhur kita tentang kebaikan, tentang gotong royong, itu yang harus kita jaga bersama-sama,” pungkas Eko. [nik/ang]

