Close Menu
tahukediri.idtahukediri.id
    What's Hot

    319 Atlet Ikuti Kejuaraan Pencak Silat Piala Bupati Kediri 2026

    18 Juli 2026 - 18:54

    Universitas Kadiri Lepas 770 Wisudawan, Targetkan Rintisan Program S3 dan Perluas Jaringan Global

    18 Juli 2026 - 18:49

    Apel Akbar Pramuka di Kediri Libatkan 10 Ribu Peserta, Dorong Generasi Muda Cinta Pertanian

    18 Juli 2026 - 08:50
    Facebook X (Twitter) Instagram
    tahukediri.id
    • Beranda
    • News
    • Travel
      • Wisata
      • Kuliner
      • Seni & Budaya
    • Multimedia
      • Foto
      • Video
    • Tentang Kami
    • Kontak
    • Arsip
    Facebook X (Twitter) Instagram
    tahukediri.idtahukediri.id
    Home»News»Kisah Pilu Agus dan Lika-Liku Badut Jalanan di Pare, Kediri

    Kisah Pilu Agus dan Lika-Liku Badut Jalanan di Pare, Kediri

    Nanik Dwi JayantiNanik Dwi Jayanti News 28 Oktober 2025 - 10:14
    WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Pinterest Email
    Agus, abang becak di Pare Kediri yang memilih menjadi badut jalanan. [Nanik/tahukediri.id]
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Kediri (tahukediri.id) – Di balik senyum topeng dan kostum warna-warni, tersimpan cerita pilu para badut jalanan yang membanjiri sudut lampu merah di Kediri. Mereka adalah potret nyata dari persinggungan antara tradisi dan modernitas, antara bertahan hidup dan tergusur zaman.

    Salah satunya adalah Agus. Pria 40 tahun ini dengan lugas bercerita tentang transisi pahit dalam hidupnya: dari tukang becak menjadi badut jalanan di daerah Pare. Profesinya yang lama perlahan tak lagi mampu menyambung hidup, kalah bersaing dengan derasnya arus transportasi online.

    “Kira-kira tahun 80-an lah saya sudah mangkal (tukang becak) di sini. Ternyata sekarang ada Gojek, Grab gituh lah, kan kalah saingan tuh, terus akhirnya pindah ke jadi Badut sini,” ujarnya, menggambarkan sebuah titik balik yang dipaksa oleh keadaan.

    Dalam perjuangannya, Agus tidak sendirian. Ia menemukan semacam sistem pendukung dalam bentuk komunitas. Komunitas inilah yang mengatur ritme kerja harian mereka dan berfungsi sebagai sistem peringatan dini.

    “Ketua nya itu cuman ini, mengkoordinasi jam segini sampai jam segini. Iya, ngasih saran, gitu tadi, nanti ada apa (penertiban dari Satpol PP). Dari atasan enggak boleh ngamen ya, disuruh minggir semua,” terangnya.

    Menurut Agus, di wilayah Pare saja terdapat 12 badut jalanan yang tersebar, sebuah komunitas kecil yang lahir dari kesamaan nasib. Latar belakang mereka beragam, mencerminkan luasnya spektrum orang yang terdampak oleh perubahan ekonomi.

    “Macam-macam (latar belakangnya), tukang batu juga ada, lulusan SMA, masih muda juga ada. Paling muda, ini di bawah saya kira-kira ya baru nikah kemarin. Umur 20-an kira-kira, 19 sudah nikah,” imbuhnya.

    Potret ini menunjukkan bahwa fenomena badut jalanan bukan sekadar pilihan, melainkan sering kali menjadi jalur pengangguran terselubung bagi berbagai lapisan masyarakat.

    Namun, kehidupan di jalanan penuh dengan ketidakpastian dan risiko. Razia Satpol PP adalah ancaman harian. Agus berbagi pengalaman pahitnya saat sekali kali diamankan.

    “Pernah (diamankan). Iya, dikasih saran-saran tok. Habis itu didiamkan, nggak diantar pulang. Pulang sendiri-sendiri. Waktu itu untung masih ada uang ngumpul Rp15.000, eh Rp12.000, jadi ya ikut truk-truk itu,” kenangnya, menggambarkan betapa rapuhnya posisi mereka.

    Musim juga mempengaruhi geliat pekerjaan mereka. Menurut Agus, tekanan ekonomi menjelang hari-hari besar justru memperbanyak jumlah pemain.

    “Kalau dilihat biasanya yang menghadapi lebaran atau puasa, itu keluar semua. Pemain lama-lama itu ada,” jelasnya. Ironisnya, di balik seringnya penertiban, mereka merasa hanya dihukum, bukan dibina.

    “Dikasih saran aja, enggak ada pelatihan kerja atau bantuan,” kata Agus, menyiratkan harapan yang tak pernah terpenuhi akan sebuah jalan keluar yang lebih permanen. ***

    Reporter : Nanik Dwi Jayanti

    Badut jatim kediri
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleAura Ramadhani: dari Jujitsu Kini Bintang Sambo Kabupaten Kediri
    Next Article Pemkab Kediri Komitmen Tekan Angka Stunting, Targetkan di Bawah 5 Persen

    Info Lainnya

    Universitas Kadiri Lepas 770 Wisudawan, Targetkan Rintisan Program S3 dan Perluas Jaringan Global

    18 Juli 2026 - 18:49

    Apel Akbar Pramuka di Kediri Libatkan 10 Ribu Peserta, Dorong Generasi Muda Cinta Pertanian

    18 Juli 2026 - 08:50

    Rumah di Purwoasri Kediri Terbakar Saat Pemilik Terlelap, Kerugian Capai Rp250 Juta

    18 Juli 2026 - 08:06

    Tak Sekadar Lulus, Mas Bup Ingatkan Peserta PBK 2026 Harus Mampu Berkarya di Dunia Kerja

    17 Juli 2026 - 22:38

    Labfor Polda Jatim Olah TKP Pembakaran Rumah Janda di Plosoklaten Kediri

    17 Juli 2026 - 22:25

    Kasus Kekerasan Anak Meningkat, Pemkab Kediri Intensifkan Edukasi Anti-Bullying di Sekolah

    16 Juli 2026 - 20:26
    Leave A Reply Cancel Reply

    Info Menarik!

    319 Atlet Ikuti Kejuaraan Pencak Silat Piala Bupati Kediri 2026

    18 Juli 2026 - 18:54

    Universitas Kadiri Lepas 770 Wisudawan, Targetkan Rintisan Program S3 dan Perluas Jaringan Global

    18 Juli 2026 - 18:49

    Apel Akbar Pramuka di Kediri Libatkan 10 Ribu Peserta, Dorong Generasi Muda Cinta Pertanian

    18 Juli 2026 - 08:50

    Rumah di Purwoasri Kediri Terbakar Saat Pemilik Terlelap, Kerugian Capai Rp250 Juta

    18 Juli 2026 - 08:06

    Tak Sekadar Lulus, Mas Bup Ingatkan Peserta PBK 2026 Harus Mampu Berkarya di Dunia Kerja

    17 Juli 2026 - 22:38
    © 2026 TahuKediri.ID | serba tahu soal Kediri

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.