Kediri (tahukediri.id) – Harga wortel di Pasar Banjaran, Kota Kediri, mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Pedagang menilai, meningkatnya permintaan sayuran, termasuk dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), ikut memengaruhi kondisi tersebut.
Salah satu pedagang kelontong Pasar Banjaran, Totok, mengatakan harga wortel kini mencapai Rp17 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya, komoditas tersebut rata-rata dijual di kisaran Rp10 ribu per kilogram.
“Sekarang wortel Rp17 ribu per kilo. Dulu rata-rata Rp10 ribu,” ujarnya.
Kenaikan harga tersebut juga berdampak pada jumlah penjualan. Totok menyebut, volume penjualan wortel yang biasanya bisa mencapai 15 kilogram per hari, kini turun menjadi sekitar 10 kilogram.
“Sekarang sehari sekitar 10 kilo. Biasanya bisa 15 kilo, tapi stok berkurang dan permintaannya banyak,” katanya.
Menurut Totok, meningkatnya permintaan sayur salah satunya dipicu oleh Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program tersebut membuat kebutuhan sayuran, termasuk wortel, menjadi lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. “Permintaannya banyak, termasuk dari MBG,” ungkapnya.
Meski demikian, Totok mengaku tidak ikut menyuplai kebutuhan MBG. Ia menilai sistem harga yang telah ditentukan serta mekanisme pembayaran yang dilakukan di akhir menjadi pertimbangan bagi pedagang kecil.
“Sempat ditawari, tapi saya tidak mau. Pembayarannya di akhir, beberapa minggu sekali. Kalau pedagang kecil, perputaran uangnya berat,” jelasnya.
Selain wortel, Totok menyebut harga sejumlah komoditas lain relatif stabil di awal 2026.
Harga bawang putih naik dari Rp28 ribu menjadi Rp32 ribu per kilogram, sementara bawang merah justru turun dari sebelumnya Rp50 ribu menjadi sekitar Rp30-32 ribu per kilogram karena faktor panen.
Sementara itu, harga tomat saat ini berada di kisaran Rp8 ribu per kilogram, naik dibandingkan sebelumnya Rp5-6 ribu per kilogram. Kenaikan tersebut dipengaruhi faktor musim.
Untuk cabai, penjualan per hari berkisar 8-10 kilogram dengan keuntungan sekitar Rp5 ribu per kilogram. Totok juga menyebut daya beli masyarakat cenderung menurun, meski harga bahan pokok tidak mengalami lonjakan signifikan, termasuk saat momentum Natal dan Tahun Baru lalu.
“Daya beli sekarang berkurang. Waktu Nataru kemarin juga tidak terlalu naik,” pungkasnya. [tan/ang]

