Kediri (tahukediri.id) – Masjid Tua Baiturrahman di Dusun Tambakrejo Kidul, Desa Tambakrejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, menjadi saksi sejarah pelarian prajurit Pangeran Diponegoro setelah perang Jawa pada abad ke-19. Berdiri sekitar tahun 1830, masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat penyebaran Islam di wilayah tersebut.
Masjid bersejarah ini didirikan oleh Kiai Abdurrahman, seorang mursyid Tarekat Naqsyabandiyah sekaligus prajurit Diponegoro yang menetap di Kediri setelah sang pangeran ditangkap dan diasingkan oleh pemerintah kolonial.
Zeni Thoyyib, keturunan keempat Kiai Abdurrahman, mengatakan leluhurnya datang ke Kediri ketika pasukan Diponegoro tercerai-berai usai kekalahan perang.
“Setelah Pangeran Diponegoro tertangkap, diasingkan lalu prajuritnya kocar-kacir ya kan, tentara perjuangannya kocar-kacir, dari salah satunya yang ini dari semua keluarganya kesini ya termasuk itu kakek buyut saya,” jelasnya, Kamis (19/2/2026).
Menurutnya, Kiai Abdurrahman memilih menetap di wilayah yang dulu dikenal sebagai Dawuhan atas perintah gurunya. Ia juga membangun bendungan kecil di dekat sungai untuk mengairi persawahan dan perkebunan warga.

“Datang kesini pertama di sebelah sana, di perbatasan sana dekat jalan raya sana cuman dipesan sama gurunya, kalau kamu mau ilmu jangan disitu, kalau kamu mau ilmu milih ya di sebelah timur jangan di ujung barat, akhirnya milih ilmu dia, terus tempatnya disini,” kata Zeni.
Seiring waktu, banyak santri berdatangan untuk belajar agama, bahkan dari luar daerah seperti Purworejo, Jawa Tengah. Masjid ini pun berkembang menjadi pusat pendidikan keagamaan.
Masjid Baiturrahman memiliki ornamen arsitektur sarat makna, salah satunya ukiran lafaz “Lillah” di berbagai bagian bangunan yang mengajarkan keikhlasan dalam beribadah.
“Lillah itu itu memberi kesan, kalau beribadah ke Allah ke masjid itu ya semua beribadah harus didasarkan dengan Lillah tanpa pamrih apa-apa jadi tanpa mengharap pahala segala macam, yang ikhlas,” katanya.
Selain itu, ornamen bundaran pada kayu penyangga melambangkan ajakan untuk bertawakal kepada Allah hingga iman menjadi kuat.
“Terus kalau bundar-bundar itu pesannya adalah beribadahlah kepada Allah, bertaufidlah kepada Allah sampai ibaratnya bundar seperti bulan. Kalau sampai itu, maka insya Allah itu imannya kuat,” tuturnya.

Awalnya bangunan masjid berukuran kecil dan berada di bagian belakang area. Generasi penerus kemudian memperluas bangunan tanpa mengubah struktur utama yang masih dipertahankan hingga kini.
“Pugaran ini yang kedua, kan tadinya posisinya kecil, ini agak besar, di tambah besar. Dari dulu gak berubah cuman ada perubahan paling itu keramik yang bawah itu aja, kalau yang semuanya yang atas gak ada kalau pian itu dari dulu, genting pernah diganti,” ujarnya.
Di sekitar masjid juga terdapat madrasah tempat anak-anak belajar mengaji pada sore hari. Pada masa lalu, kawasan ini dikenal sebagai pondok besar sebelum berdirinya pesantren di wilayah Bendo, Pare.
Kini, di usia yang telah mencapai hampir dua abad, Masjid Tua Baiturrahman tetap dirawat oleh keturunan pendirinya sebagai simbol perjuangan, penyebaran ilmu, dan ketulusan iman yang diwariskan lintas generasi. [nik/ang]

