Kediri (tahukediri.id) – Merasa tersisihkan atas kebijakan Dinas Kebudayaan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri, puluhan seniman jaranan yang tergabung dalam Dewan Kesenian Jaranan Wahyu Krida Budaya menggelar aksi damai di dua tempat, pada Jumat (27/3/2026).
Aksi pertama digelar di depan kantor Disbudparpora Kota Kediri, kemudian lanjut ke depan Kantor Pemerintahan Kota Kediri.
Sekretaris Umum Wahyu Krida Budaya, Dian Widiasmoro, menyampaikan bahwa aksi tersebut merupakan wujud keresahan para pelaku seni jaranan. Ia menilai adanya ketimpangan dalam kebijakan yang diterapkan oleh Kepala Dinas Kebudayaan, terutama terkait pembentukan organisasi baru yang dianggap tidak memiliki legalitas jelas.
“Ini adalah sebuah bentuk keresahan kita sebagai seniman jaranan dari Kota Kediri itu dengan kebijakannya Kepala Dinas Kebudayaan yang dijalankan oleh Kepala Dinas ini kan sangat tidak berimbang,” katanya.
Selain itu, pihaknya juga menyoroti dugaan penggunaan atribut organisasi Wahyu Krida Budaya oleh kelompok lain dalam pengurusan izin pementasan, meskipun kelompok tersebut bukan bagian dari organisasi resmi. Kondisi ini dinilai membingungkan sekaligus merugikan secara moral.
Dengan memegang sejumlah spanduk dan membakar dupa depan kantor, dalam aksi tersebut, para seniman juga menyampaikan aspirasi langsung kepada Wali Kota Kediri, yang mereka anggap sebagai figur orang tua bagi masyarakat. Mereka berharap adanya evaluasi terhadap kepemimpinan di Dinas Kebudayaan, serta menghadirkan sosok yang dinilai mampu mengayomi dan merangkul seluruh pelaku seni.
“Mulai dari awal itu tidak pernah kita ditemui, itu tidak. Nah, ini akhirnya ya, terpaksa kita mengadu ke ibunya, gitu loh. Ini ibu kita, orang tua kita, ya kita ngadu saja. Hanya mengadu saja, jadi tidak, istilahnya tanpa mengurangi rasa hormat toh juga kami selaku anak-anaknya ya, pasti menaruh hormat yang tinggi lah kepada beliaunya,” tegasnya.
Sementata itu, Pemerintah Kota Kediri yang diwakili Asisten Ekonomi Dan Pembangunan Hery Purnomo, mengatakan bahwa akan menindaklanjuti aksi damai tersebut dengan memfasilitasi pembahasan tersebut lebih lanjut dengan melibatkan teman-teman Wahyu Kridha Budaya dan dinas terkait, yaitu Disbudparpora.
“Kami akan menindaklanjuti aksi ini dan membahasnya lebih lanjut, insyaallah minggu depan. Tujuannya untuk memperjelas di mana letak permasalahan serta mencari solusi yang tepat,” terangnya.
Para seniman berharap forum tersebut dapat menjadi titik awal rekonsiliasi dan penyatuan kembali komunitas jaranan di Kota Kediri.
Saat ini, tercatat sekitar 61 kelompok jaranan telah menyatakan bergabung dengan Wahyu Krida Budaya secara resmi, sementara kelompok lainnya masih berada di posisi netral.
Kondisi ini dinilai berpotensi memecah solidaritas seniman jika tidak segera ditangani.
Para pelaku seni berharap, melalui dialog yang difasilitasi pemerintah, seluruh kelompok jaranan dapat kembali bersatu dalam satu wadah resmi demi menjaga kelestarian budaya sekaligus memperkuat identitas seni tradisional Kota Kediri.
“Jadi kami berharap Mbak Wali mengevaluasi, kalau bisa dicopot, digantikan orang lain yang memang benar-benar punya kompetensi, bagaimana mengakomodir orang-orang jaranan itu gampang, enak diajak omong, begitu,” tandas Widiasmoro. [nik/ang]

