Kediri (tahukediri.id) – Menghadapi tantangan musim kemarau ekstrem yang diprediksi lebih panjang, Pemerintah Daerah melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri mempersiapkan berbagai langkah strategis mulai dari pembangunan ratusan sumur submersible, pengendalian hama, hingga percepatan program bongkar ratun tebu untuk meningkatkan produktivitas petani.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri, Sukadi, mengatakan prediksi musim kemarau panjang dari BMKG menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Karena itu, Pemkab Kediri menyiapkan dukungan infrastruktur air bagi petani tebu, padi, dan jagung.
“Jadi kendala di lapangan tahun ini BMKG memprediksi adanya kemarau ekstrem, kemarau panjang. Lah, ini yang kita antisipasi. Makanya dalam rangka mengantisipasi musim kemarau ini untuk penggarapannya, baik itu tebu, mungkin padi, jagung juga. Pemerintah Kabupaten Kediri dukungannya adalah membangun sumur bor submersible,” katanya.
Menurut Sukadi, pada tahun 2025 lalu pembangunan sumur telah dilakukan di sekitar 270 titik. Sementara tahun ini jumlahnya meningkat menjadi 286 titik yang tersebar di berbagai wilayah pertanian Kabupaten Kediri.
Pendanaan pembangunan sumur tersebut berasal dari berbagai sumber. Sekitar 75 titik didanai melalui APBN, hampir 200 titik melalui APBD Kabupaten Kediri, sedangkan sisanya diharapkan mendapat dukungan program CSR dari pabrik gula yang bermitra dengan kelompok tani tebu.
Selain persoalan ketersediaan air, Pemkab Kediri juga menyiapkan anggaran khusus untuk pengendalian hama uret yang selama ini menjadi salah satu ancaman bagi tanaman tebu.
Bantuan berupa jaring pengendali hama akan diprioritaskan pada wilayah yang memiliki tingkat serangan tinggi, seperti kawasan Ngadirejo dan Branggahan.
“Karena luasnya sebegitu besar, kami fokuskan pada daerah yang serangannya besar,” katanya.
Dispertabun Kabupaten Kediri juga berupaya memastikan hasil panen tebu petani dapat terserap secara optimal oleh pabrik gula.
Sukadi mengakui, pada musim giling sebelumnya masih terdapat tebu petani yang harus dibawa ke luar daerah karena keterbatasan kapasitas pabrik gula di Kediri. Kondisi tersebut membuat petani harus menanggung biaya tambahan dan berpotensi menerima harga yang lebih rendah.
Karena itu, pihaknya telah menjalin komunikasi dengan sejumlah pabrik gula di Kediri seperti PG Ngadirejo, PG Mrican dan PG Pesantren agar proses penyerapan tebu petani bisa lebih maksimal.
“Kemarin kami sudah berkomunikasi dengan teman-teman PG yang ada di Kediri, itu dari PG Mrican, PG Mrican, PG Ngadirejo sama Pesantren. Nanti sebelum itu tutup giling. Kami minta data-data yang di lapangan tebu itu sudah habis. Kalau belum habis, sekiranya kurang efektif, itu salah satu pabrik masih ada yang tetap buka. Begitu. Kami sudah sinergi, sudah komunikasi seperti itu,” jelasnya.
Tak hanya itu, Pemkab Kediri juga terus mendorong program bongkar ratun guna meningkatkan produktivitas tebu. Tahun 2026, Kabupaten Kediri ditargetkan melakukan bongkar ratun seluas 7.000 hektare.
Hingga saat ini, pemerintah daerah telah menerbitkan SK definitif untuk lahan seluas 2.149 hektare yang memuat data petani, luas lahan hingga kebutuhan benih yang harus dipenuhi pemerintah pusat.
Sukadi optimistis target tersebut dapat tercapai bahkan melampaui angka yang telah ditetapkan. Terlebih dalam waktu dekat sejumlah pabrik gula akan mulai memasuki masa giling sehingga percepatan program bongkar ratun dapat segera dilakukan.
“Insyaallah Kediri kalau 7.000 hektar, insyaallah lebih. Insyaallah lebih,” pungkasnya. [nik/ang]

