Kediri (tahukediri.id) – Di tengah hamparan perkebunan tebu yang membentang di lereng Gunung Kelud, tersembunyi sebuah kawasan hijau yang belakangan ramai dibicarakan warganet. Masyarakat sekitar mengenalnya sebagai Batu Cinta, sebuah hutan rindang di kawasan Hak Guna Usaha (HGU) Sumberlumbu yang dikelola PT SGN KSO Kebun Dhoho, Desa Margourip, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri.
Deretan pohon trembesi dan mahoni berusia puluhan tahun menjulang tinggi membentuk lorong-lorong alami yang teduh dan memanjakan mata. Cahaya matahari yang menembus sela dedaunan menciptakan panorama yang membuat siapa pun seolah berada di lokasi wisata hutan legendaris di Banyuwangi, yakni Djawatan Benculuk. Tak heran jika warganet kemudian menjulukinya sebagai “Djawatan Kediri”.
Popularitas kawasan ini semakin meningkat setelah berbagai foto dan video yang menampilkan keindahan hutan tersebut beredar luas di media sosial. Banyak pengunjung datang karena penasaran ingin melihat langsung suasana yang selama ini hanya mereka saksikan melalui layar ponsel.
Salah satunya Dina (20), warga Pare yang sengaja berkunjung setelah melihat sejumlah konten tentang Batu Cinta di TikTok.
“Taunya dari TikTok kak, ngide kesini karena penasaran parah,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Selasa (23/6/2026).
Rasa penasaran itu, menurut Dina, langsung terbayar begitu memasuki kawasan hutan. Pemandangan yang tersaji dinilainya tidak jauh berbeda dengan berbagai unggahan yang sempat viral di media sosial.
“Tempatnya bagus buat yang suka mengabadikan momen lewat foto atau video. Hawane yaa sejuk, udara masih asri,” katanya.
Lokasi Batu Cinta tidak jauh dari kawasan Sumberlumbu atau yang lebih dikenal warga sebagai Sumber 2028. Letaknya yang mudah dijangkau menjadikan kawasan ini alternatif wisata alam bagi masyarakat Kediri dan sekitarnya yang ingin menikmati suasana tenang tanpa harus menempuh perjalanan jauh.
Meski baru populer di media sosial dalam beberapa tahun terakhir, Batu Cinta sejatinya bukan destinasi baru bagi masyarakat sekitar. Warga setempat sudah lama mengenal kawasan ini sebagai tempat favorit untuk bersantai dan menikmati suasana alam.
Tun, atau yang akrab disapa Mak Tun, salah satu warga yang tinggal di sekitar kawasan pabrik, mengatakan Batu Cinta telah menjadi tujuan rekreasi warga sejak lama.
“Sudah lama ramai. Orang sini menyebutnya Batu Cinta karena banyak batu-batu besar, terus banyak muda-mudanya,” ujarnya sambil tersenyum.
Menurut Mak Tun, waktu favorit pengunjung biasanya menjelang sore ketika sinar matahari mulai redup dan udara terasa semakin sejuk. Namun tak sedikit pula yang datang sejak pagi untuk menikmati segarnya udara pegunungan.
Keindahan Batu Cinta tidak hanya menarik wisatawan biasa. Kawasan ini juga sering dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas luar ruang seperti berkemah, kegiatan komunitas, hingga sesi foto prewedding. Lanskap alami yang terbentuk dari pepohonan raksasa dan hamparan rumput hijau menciptakan latar yang unik dan fotogenik.
“Sering yang camping di situ, tapi akhir-akhir ini jarang. Kalau mau camping izin dulu ke pabriknya. Kapan hari orang Sambi juga foto prewed di situ,” imbuh Mak Tun.
Di tengah berkembangnya berbagai destinasi wisata buatan, Batu Cinta menawarkan sesuatu yang berbeda. Tidak ada wahana modern, tidak ada gemerlap lampu warna-warni, hanya keteduhan pepohonan tua, suara burung, semilir angin, dan suasana alam yang masih terjaga.
Keberadaan Batu Cinta menjadi bukti bahwa Kabupaten Kediri menyimpan banyak ruang hijau yang belum banyak diketahui publik. Di balik hamparan perkebunan tebu yang selama ini identik dengan aktivitas industri, tersimpan sebuah lanskap alami yang mampu menghadirkan ketenangan, kesejukan, dan pengalaman berwisata yang berkesan.
Bagi pencinta alam, fotografi, maupun pemburu destinasi unik yang sedang viral, Batu Cinta atau Djawatan Kediri layak masuk dalam daftar tujuan berikutnya saat berkunjung ke lereng Gunung Kelud. [nik/ang]

