Kediri (tahukediri.id) – Dusun Dorok, Desa Manggis, Kabupaten Kediri kembali menggelar Kirab Agung Budaya Dorok di kawasan Candi Dorok, Minggu (12/7/2026). Memasuki penyelenggaraan tahun kelima, kirab budaya ini menjadi puncak rangkaian tradisi Bulan Suro yang sarat nilai sejarah, budaya, dan toleransi antarumat beragama.
Anggota Pusaka Paguyuban Masyarakat Dhaha Kediri, Nila Yusia, mengatakan Kirab Agung Budaya telah menjadi agenda tahunan yang terus berkembang sejak pertama kali digelar lima tahun lalu.
“Alhamdulillah kita bisa mewujudkan Kirab Budaya Agung itu sendiri dengan kekompakan, dengan guyub, terlepas dari sebuah mungkin ada pro kontra tapi kami mensyukuri bahwa adanya dengan adanya kirab ini, kami semua masyarakat Dorok bisa menyatukan hal-hal perbedaan terlebih untuk menguatkan toleransi dan juga merekatkan dan mempersatukan kerukunan antar umat beragama,” ujarnya.
Kirab Agung Budaya Dorok selain menyuguhkan hasil bumi yang diarak dan dibagikan masyarakat juga terdapat ritual doa yang melibatkan tokoh dari berbagai unsur agama di kawasan candi sebagai wujud nyata toleransi yang selama ini terjaga di Dusun Dorok.

Menurut Nila, Candi Dorok memiliki filosofi sebagai simbol persatuan yang tidak dimiliki oleh satu golongan maupun satu agama saja. Keberadaan candi menjadi ruang bersama bagi masyarakat untuk menjaga, merawat, dan melestarikan warisan budaya.
“Jadi tidak hanya untuk golongan tertentu yang mana akhirnya kami itu bisa memaknai bahwa Candi Dorok ini adalah simbolis dan eh sesuatu yang bisa merekatkan dan mempersatukan perbedaan,” terangnya.
Kirab Agung Budaya Dorok juga sebagai penutup Bulan Suro, dimana pada 1 Suro digelar Nyadran di Punden Ringin Agung.
Sementara itu, Kepala Dusun Dorok, Nardiono, mengatakan seluruh warga dari 16 RT terlibat dalam kegiatan tersebut. Tahun ini terdapat delapan gunungan hasil bumi yang diarak sebagai simbol rasa syukur. Jumlah tersebut meningkat dibanding tahun sebelumnya yang hanya empat gunungan.
“Total gunungan delapan. Itu masih
berapa, ada peningkatan per tahun. Kemarin empat, sekarang sudah delapan. Nanti kalau semua RT itu guyub, nanti 16 lebih perkiraan,” ujarnya.
Ia menuturkan seluruh pembiayaan kegiatan berasal dari swadaya masyarakat yang didukung para donatur, peternak, serta sejumlah instansi.

“Tujuannya melestarikan. Ini kan kita menhuri-nguri budaya. Karena kita hidup di tanah Dusun Dorok ini kan kita tidak lepas dari leluhur kita. Gitu. Kalau kita ndak nguri-nguri, siapa lagi? Masa orang orang luar dari Dorok?,” tegas Nardiono.
Kegiatan tradisi tahunan sebagai wujud melestarikan budaya lokal itu pun mendapat apresiasi daei Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri.
“Kegiatan ini merupakan bukti nyata kepedulian masyarakat dalam menjaga sejarah sekaligus mempererat kerukunan warga. Semoga Kirab Agung Budaya Candi Dorok terus lestari dan menginspirasi generasi muda untuk semakin mencintai budaya lokal,” kata Staf Bidang Sejarah dan Purbakala, Achmad Khudori mewakili Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri.
Kirab Agung Budaya Dorok kini tidak hanya menjadi tradisi tahunan masyarakat Dusun Dorok, tetapi juga menjadi simbol kuat bahwa keberagaman dapat dirawat melalui budaya, gotong royong, dan penghormatan terhadap sejarah leluhur.
“Semoga kegiatan ini terus lestari dan menjadi inspirasi bagi generaai muda kita untuk mencintai budaya lokal,” tandas Khudori. [nik/ang]

