Kediri (tahukediri.id) – Sekolah Rakyat Terintegrasi I Kabupaten Kediri memulai tahun ajaran baru 2026/2027 dengan total 248 siswa. Jumlah tersebut terdiri dari 23 siswa SD, 107 siswa SMP, dan 188 siswa SMA.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi I Kabupaten Kediri, Fadeli mengatakan sistem penerimaan siswa di Sekolah Rakyat berbeda dengan sekolah pada umumnya. Tidak ada proses pendaftaran maupun seleksi, melainkan penjangkauan langsung kepada calon siswa yang masuk kategori desil 1 dan desil 2.
“Ada data siswa miskin yang masuk dalam desil 1 dan 2. Jadi bantuan sosial turun ke Dinas Sosial Kabupaten melalui pendamping PKH, Dinas Sosial Kabupaten menjangkau, marani, memverifikasi ke alamat,” katanya.
Fadeli melanjutkan, tahun lalu Sekolah Rakyat Kabupaten Kediri dimulai dengan membuka jenjang SMA dengan 99 siswa kelas X. Tahun ini, sekolah mulai menerima peserta didik untuk jenjang SD, SMP, dan SMA.
Meski demikian, jumlah siswa saat ini masih di bawah kuota yang disediakan pemerintah. Awalnya setiap jenjang direncanakan menampung sekitar 90 siswa. Namun karena jumlah siswa SD yang bersedia tinggal di asrama masih sedikit, sebagian kuota dialihkan ke jenjang SMP dan SMA.
Fadeli menjelaskan, peluang penambahan siswa masih terbuka karena Sekolah Rakyat menerapkan sistem multi entry dan multi exit, sehingga peserta didik dapat bergabung setelah proses penjangkauan selesai.
Untuk jenjang SD, sebanyak 23 siswa memiliki rentang usia yang berbeda sehingga tidak seluruhnya berada pada kelas yang sama. Pihak sekolah berencana membagi mereka menjadi tiga kelompok belajar sesuai usia agar proses pembelajaran lebih efektif.
Sementara itu, fasilitas sekolah dan asrama disiapkan secara bertahap. Seluruh siswa dipastikan siap mengikuti pembelajaran. Namun khusus siswa SD, sementara akan menempati asrama SMP hingga pembangunan asrama SD rampung.
“Kalau pun yang SD kan asramanya belum belum belum 100%. Maka nanti kita titipkan di asrama SMP, kan enggak masalah. SMP asrama SMP masih kosong. Kan ini masih kelas pertama, kelas 7 saja. Jadi yang lain kan masih kosong, enggak masalah,” terangnya.
Di sisi lain, kebutuhan tenaga pendidik juga masih menjadi tantangan. Saat ini sekolah mendapat bantuan dari Pemerintah Kabupaten Kediri berupa enam guru kelas SD, satu guru PJOK, dan 13 guru mata pelajaran SMP sambil menunggu proses rekrutmen guru oleh Kementerian Sosial.
Salah satu wali siswa, Suprapti (45), warga Desa Bulupasar, Kecamatan Semen, mengaku bersyukur keponakannya bernama Ardigo dapat bersekolah di Sekolah Rakyat.
“Kan anaknya yatim piatu, tapi ikut saya sudah dari umur 8 bulan. Trus pas ditawari masuk sini (SRT Kabupaten Kediri) seneng banget dia, langsung mau,” ujarnya.
Supriati melanjutkan, menurutnya keponakannya yang duduk dibangku kelas 5 SD langsung tertarik masuk sekolah rakyat waktu diberi tahu PKH Desa.
“Tahunya kan dari PKH Desa, pas dikasih tahu video sekolah rakyat, anaknya langsung mau. Senang dia,” ungkapnya.
Ia berharap, keponakannya betah dan semangat belajar lagi dari sekolah sebelumnya.
“Harapan saya semoga lebih semangat belajar dan masa depannya lebih baik,” terangnya.
Sementara Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang mulai hari ini alan berlangsung hingga 31 Juli. Selanjutnya, selama Agustus para siswa akan mengikuti program matrikulasi untuk menyamakan kemampuan akademik sebelum pembelajaran reguler dimulai.
“1 Agustus nanti matrikulasi untuk penyamaan ibaratnya orang lari untuk menyamakan start. Kan mereka dari keluarga desil kan? Mungkin tidak sama. Maka nanti tanggal 1 sampai 31 Agustus itu program matrikulasi namanya. Kita memberikan kurang apa. Misal kalau yang SMA kelas 1, SMP-nya kurang pinter apa, kurang mengerti apa gitu,” tandanya. [nik/ang]

