Kediri (tahukediri.id) – Berbeda dengan sekolah dasar lainnya yang melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), di SDN Gadungan 2, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri hanya melakukan Masa Pengenalan Lingkungan Kelas (MPLK). Hal tersebut lantaran untuk pertama kalinya sekolah yang berlokasi tepat di sebelah Kantor Desa Gadungan tersebut untuk pertama kalinya tidak ada siswa baru di tahun ajaran 2026/2027.
Plt. Kepala Sekolah SDN Gadungan 2 Nur Edy mengatakan, mengungkapkan bahwa minimnya minat masyarakat bukan terjadi secara tiba-tiba. Menurutnya, penurunan jumlah siswa sudah terlihat sejak beberapa tahun terakhir hingga akhirnya tahun ini tidak ada pendaftar sama sekali.
“Kami sendiri sudah upaya pendekatan dari orang tua, dari lingkungan sudah, dari penilik, pengawas TK itu ternyata keluhannya sama dari TK yang satu dengan yang lain itu sama. Jadi di sini tidak diurusi, tidak dipercaya oleh lingkungan dan sebagainya. Nah itu ternyata sudah lama, baru muncul kali ini,” ungkapnya.
Nur Edy menjelaskan, selain persoalan kepercayaan masyarakat, letak SDN Gadungan 2 yang berdekatan dengan beberapa sekolah dasar lain juga membuat calon siswa lebih memilih sekolah yang dianggap memiliki daya tarik lebih besar.
“Di sini antara SD yang satu dengan yang lain itu terlalu dekat. Iya, ini dari Gadungan 4 itu tidak ada 1 km. Dengan Gadungan 1 juga tidak ada 1 km, sehingga mereka pun banyak yang berlari ke lembaga-lembaga yang lain yang potensi dalam tanda kutip,” jelasnya
Saat ini, SDN Gadungan 2 hanya memiliki 31 siswa dari kelas II hingga kelas VI. Tidak ada siswa di kelas I. Kondisi tersebut diperparah dengan keterbatasan tenaga pendidik. Dari empat guru yang ada, dua di antaranya dijadwalkan memasuki masa pensiun dalam waktu dekat.
Guru kelas II dan III SDN Gadungan 2, Tria Tin, yang telah mengajar sejak 2016, mengaku sedih melihat jumlah siswa terus menurun. Saat pertama kali bertugas, jumlah murid masih sekitar 150 orang. Kini hanya tersisa sekitar 31 siswa.
“Saya merasa sedih ya, di masa paripurna saya ini harus menghadapi situasi seperti ini,” kata guru yang dalam waktu dekat tersebut akan paripurna.
Menurutnya, segala cara sudah dilakukan untuk menarik minat calon murid. Selama ini, ia juga kerap memberi masukan kepada kepala sekolah terdahulu.
“Di kepala sekolah yang dulu saya sudah kerap beri kemasukan apapun itu tapi yaa bgitulah, kurangnya kepercayaan masyarakat pada kita,” ujarnya.
Meski demikian, pihak sekolah menilai kualitas lulusan masih cukup baik. Seluruh siswa kelas VI tahun ini berhasil melanjutkan pendidikan ke sekolah negeri. Namun capaian tersebut belum mampu mengembalikan minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di SDN Gadungan 2.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Mokhamat Muhsin, mengatakan pihaknya akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sekolah-sekolah yang memiliki jumlah siswa sangat sedikit.
Evaluasi akan mencakup berbagai aspek, mulai dari standar guru dan tenaga kependidikan (GTK), sarana dan prasarana, hingga pelaksanaan kurikulum.
“Iya disdik akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sekolah yang muridnya sedikit, diantaranya evaluasi standar GTK, Sarpras, kurikulum dll,” ujarnya.
Selain itu, lanjutnya, Dinas Pendidikan juga tengah mempertimbangkan sejumlah alternatif solusi.
“Salah satu alternative solusi yang sedang dipertimbangkan adalah menempatkan guru berpengangaruh yang berasal dari Desa Gadungan, alternative lain seperti merger juga mjd pertimbangan dalam jangka panjang,” imbuhnya.
Menurut Muhsin, keputusan akhir, akan mempertimbangkan efektivitas layanan pendidikan sekaligus kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, pihak sekolah berharap seluruh pemangku kepentingan dapat bersinergi apabila SDN Gadungan 2 masih diproyeksikan untuk tetap beroperasi sebagai sekolah negeri di Kecamatan Puncu.
“Kalau harapannya ke depan itu paling enggak kalau memang lembaga ini mau dihidupkan dalam kata murid itu, kan ya harus sinergi lah antara pemerintah desa, lembaga, kemudian dari bidang yang terkait, yaitu bidang pendidikan, berkolaborasi. Tapi kalau memang di sini mungkin dihentikan dalam kategori karena sekarang kan modelnya di-marger gitu ya. Nah, di-marger itu kan tadi dihentikan kan. Itu monggo kebijakan dari dinas kan begitu,” pungkas Edy. [nik/ang]

