Kediri (tahukediri.id) – Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) I Kabupaten Kediri pastikan tidak ada bullying maupun kekerasan selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang dimulai sejak kemarin, Selasa (14/7/2026).
Kepala SRT I Kabupaten Kediri, Fadeli mengatakan, pada masa pengenalan ini, sekolah memprioritaskan pembentukan karakter sosial dan spiritual peserta didik. Dalam hal ini, pembiasaan karakter menjadi fokus utama selama MPLS. Siswa dibimbing melalui berbagai aktivitas yang menanamkan nilai disiplin, kepedulian, hingga pembiasaan ibadah.
“MPLS ampai dengan tanggal 31 Juli. Nah, itu nanti fokus pada penanaman karakter, terutama karakter-karakter yang sifatnya karakter sosial, karakter spiritual, artinya kami latih yang mula-mula tidak salat, kami ajak salat. Yang mula-mula salatnya sendirian, kita ajak berjamaah,” jelasnya.
Selain itu, pihaknya juga memberikan perhatian serius terhadap pencegahan bullying, kekerasan fisik maupun seksual, serta intoleransi yang menjadi pelanggaran berat di lingkungan Sekolah Rakyat.
Lebih lanjut, Fadeli menjelaskan, untuk mencegah hal tersebut, sekolah menerapkan pola pendampingan penuh terhadap seluruh aktivitas siswa.
“Dosa besar yang ada di SR itu ada tiga. Satu bullying, kemudian kekerasan fisik maupun seksual, intoleransi. Nah, resep kami tidak satu tidak semenit pun anak tanpa kegiatan. Selalu ada kegiatan. Yang kedua, tidak sedetik pun kegiatan tanpa pendampingan. Udah itu aja,” tegasnya.
Menurutnya, seluruh kegiatan siswa telah disusun secara terjadwal, termasuk saat waktu istirahat dan makan. Bahkan kegiatan makan dilakukan dengan sistem makan terbimbing agar interaksi antar siswa tetap terpantau.
Guru dan pendamping juga diminta aktif mengamati kondisi psikososial peserta didik. Apabila ditemukan gejala seperti siswa yang mulai menyendiri atau hanya berinteraksi dengan kelompok tertentu, pihaknya akan segera melakukan pendampingan.
“Jadi tidak semenit pun anak tanpa kegiatan, enggak ada waktu luang, tidak sedetik pun kegiatan tanpa pendampingan dan saya ingin anak, teman-teman saya sampaikan, kalau melihat gejala sosial sekecil apapun, misalnya ada anak menyendiri, misalnya ada ke setiap satu dengan dua orang ini saja, ah ini pantau kita masuk. Itu antisipasi kami,” terangnya.
Pendekatan tersebut, lanjutnya, terbukti efektif. Selama satu tahun penyelenggaraan Sekolah Rakyat di Kabupaten Kediri, tidak ditemukan kasus bullying maupun kekerasan terhadap peserta didik.
“Alhamdulillah, setahun kemarin kita aman, ndak ada kekerasan, ndak ada bullying, bahkan bahkan anak-anak ini sudah nyaman,” ujarnya.
Terkait kurikulum, Sekolah Rakyat tetap mengacu pada Kurikulum Nasional dari Kementerian Pendidikan. Namun, penerapannya menggunakan sistem multi-entry dan multi-exit, sehingga penerimaan peserta didik dilakukan secara bertahap sesuai kesiapan masing-masing sekolah.
“Makanya ini kalau MPLS ini kan tanggal 14 ini yang MPLS Indonesia, tanggal 19. Mungkin nanti tanggal 31 Juli ada lagi MPLS angkatan kedua. Kemudian tanggal 15 Agustus ada lagi, 30 Agustus ada lagi. Melihat kesiapan masing-masing. Kesiapan maksudnya kesiapan sekolah masing-masing,” jelasnya.
Melalui sistem tersebut, Sekolah Rakyat Terintegrasi I Kabupaten Kediri berharap mampu menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, serta mampu membentuk peserta didik yang berkarakter dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi. [nik/ang]

