Kediri (tahukediri.id) – Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Kediri mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai tren penyalahgunaan narkoba jenis baru yang kini dikemas dalam bentuk liquid vape pada kesempatan sosialisasi pada Masa Perkenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di sejumlah sekolah.
Penyuluh Narkoba Ahli Muda BNN Kabupaten Kediri, Rusdi Danurwindo, mengatakan penyuluhan ini bertujuan membekali para pelajar dengan pengetahuan mengenai bahaya narkoba sejak dini, terutama karena modus peredarannya terus berkembang.
“Sekarang kan tren narkoba itu berubah. Kalau zaman dulu mungkin berbentuk serbuk, berbentuk pil, berbentuk tanaman seperti ganja. Sekarang itu kan diolah menjadi yang kemarin yang tren di Indonesia adalah liquid vape atau cairan vape. Makanya kami memberikan informasi kepada adik-adik semua tentang bahaya narkoba jenis baru yang berbentuk cairan liquid atau cairan vape,” ujarnya saat ditemui usai melakukan sosialisasi di SMAN 1 Plosoklaten, Rabu (15/7/2026).
Ia menjelaskan, penyuluhan antinarkoba tidak hanya dilakukan saat MPLS. BNN Kabupaten Kediri secara rutin menyambangi sekolah-sekolah mulai jenjang SD, SMP hingga SMA melalui program Ananda Bersinar (Anak Indonesia Bersih Narkoba).
Untuk siswa sekolah dasar, materi disampaikan melalui metode yang lebih menarik seperti dongeng dan video animasi. Sedangkan bagi siswa SMP dan SMA, materi diberikan melalui penyuluhan langsung maupun saat upacara bendera.
Menurut Rusdi, respons para pelajar selama mengikuti sosialisasi cukup positif. Apalagi pihak sekolah juga meminta siswa menyimak sekaligus membuat rangkuman materi sehingga pesan yang disampaikan lebih mudah dipahami.
“Jadi kami sangat berterima kasih kepada pihak-pihak sekolah yang mengundang kami dalam MPLS ini dan memerintahkan siswanya untuk membuat rangkuman materi. Nah itu yang sangat amat membantu untuk kami,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, BNN juga mengingatkan agar pelajar tidak mencoba rokok, vape maupun minuman keras karena dapat menjadi pintu masuk penyalahgunaan narkoba. Selain itu, siswa diminta selektif memilih lingkungan pergaulan, fokus mengejar cita-cita serta aktif mengikuti berbagai kegiatan positif di sekolah maupun masyarakat.
“Kalau kami, pelajar kan ditekankan jangan pernah mencoba narkoba dimulai dari rokok, dari liquid. Karena kan ya kita ndak tahu cairan liquid itu nanti isinya apa kan ndak tahu, apalagi kan banyak liquid yang dijual secara online. Nah, itu yang kita takutkan seperti itu. Kalau di toko-toko resmi ada cukainya, aman InsyaAllah, tapi kan yang secara online yang tidak ada cukainya. Nah, itu kan yang berbahaya,” jelasnya.
Rusti menambahkan, meski hingga saat ini belum ditemukan kasus pelajar di Kabupaten Kediri yang menggunakan liquid vape mengandung narkoba. Namun, kewaspadaan harus terus ditingkatkan menyusul keberhasilan BNN RI menggagalkan penyelundupan sekitar 3,37 ton kuncup bunga ganja (cannabis bud) yang diduga akan diolah menjadi liquid vape sebelum diedarkan pada awal Juli lalu.
Sementara itu, Kepala SMAN 1 Plosoklaten, Eka Prayitna, mengatakan edukasi bahaya narkoba menjadi bagian penting dalam MPLS sebagai upaya membangun ketahanan lingkungan sekolah terhadap berbagai ancaman, termasuk penyalahgunaan narkoba.
“Harapan kami, 350 siswa baru yang mengikuti MPLS ini memiliki pemahaman sejak awal sehingga tidak pernah mencoba narkoba dalam bentuk apa pun. Ini bagian dari membangun ketahanan Wiyatamandala di lingkungan sekolah,” katanya.
Selain penguatan karakter, SMAN 1 Plosoklaten juga terus menyiapkan lulusan yang siap melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.
Di antaranya dengan menggandeng sejumlah universitas ternama untuk memberikan binaan atau pelatihan mandiri menuju dunia kerja, seperti ITS dengan program double track school, UMM dengan program persiapan kerja ke Jepang yang memberikan pembekalan bahasa, budaya, pelatihan hingga sertifikasi bagi siswa setelah lulus, UNP dan UIN dengan support pengajarannya.
Berbagai program ekstrakurikuler dan pembinaan prestasi juga terus diperkuat. Tahun ini, sekolah bahkan mengirimkan enam tim untuk mengikuti Olimpiade Sains tingkat nasional sebagai bagian dari upaya mencetak lulusan yang berkarakter, berprestasi, dan bebas narkoba.
“Ini langkah inovatif, jadi yang bertanggung jawab terhadap kelulusannya bukan hanya SMK, maka saya pun Kepala Sekolah SMA juga bertanggung jawab memberikan mereka, menjamin mereka bekerja,” tandasnya. [nik/ang]

