Kediri (tahukediri.id) – Sejarah tak harus selalu dipelajari lewat buku atau ruang kelas. Di Kabupaten Kediri, jejak masa lalu kini dikemas dengan cara yang lebih dekat dengan generasi muda: melalui kamera dan video.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri menggelar rangkaian kegiatan Bulan Kemerdekaan melalui Lawatan Sejarah dan Cagar Budaya Masuk Sekolah yang dikemas dalam bentuk lomba fotografi dan video reel.
Kegiatan yang dipusatkan di eks Karesidenan Pare tersebut bukan hanya menyuguhkan hasil visual berbagai jejak sejarah, tetapi peserta diajak menyusuri peninggalan masa kolonial yang masih dapat ditemukan di wilayah tersebut.
Kepala Bidang Sejarah, Cagar Budaya, dan Permuseuman Disparbud Kabupaten Kediri, Eko Priatno, mengatakan konsep kegiatan sengaja dibuat berbeda dari lawatan sejarah sebelumnya yang cenderung bersifat klasikal.
“Jadi kegiatan ini harapannya akan menambah kawasan sejarah bagi masyarakat khususnya di wilayah Pare dan sekitarnya. Jadi kita mencoba membuat format baru terhadap lawatan sejarah dan cagar budaya masa sekolah yang awalnya klasikal, kita coba mengajak para peserta untuk aktif aktif melakukan kegiatan dan kita mencoba melokalkan sejarah lokal,” jelasnya saat ditemui disela-sela kegiatan pameran dan lomba photography, Selasa (11/8/2026).
Menurutnya, masih banyak cerita sejarah lokal di Kabupaten Kediri yang perlu diangkat dan dikenalkan kepada masyarakat. Terlebih, sejarah tersebut memiliki keterkaitan erat dengan tumbuhnya berbagai kawasan dan kehidupan masyarakat saat ini.
“Jadi banyak cerita-cerita sejarah lokal yang butuh kita tampilkan, kita tumbuhkan.
untuk apa? Sekali lagi untuk menumbuhkan semangat kecintaan terhadap Indonesia, khususnya Kediri dan lebih khusus lagi Pare dan sekitarnya,” ujarnya.
Pemilihan Pare sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Kawasan ini menyimpan banyak jejak perkembangan ekonomi dan infrastruktur pada masa kolonial.
Eko menjelaskan, setelah diberlakukannya Undang-Undang Agraria 1870, sejumlah industri berkembang di wilayah Kediri. Pare menjadi salah satu kawasan yang turut merasakan perkembangan tersebut. Mulai dari industri gula, jaringan kereta api, hingga berbagai fasilitas umum peninggalan kolonial masih meninggalkan jejak di kawasan Pare dan sekitarnya.
Salah satunya adalah eks Stasiun Kediri Stoomtram Maatschappij. Selain itu, terdapat pula jejak bekas pabrik gula di wilayah Badas serta sejumlah bangunan fasilitas umum yang masih dapat ditemui hingga sekarang. Di Tulungrejo, misalnya, masih terdapat bangunan rumah sakit yang berkaitan dengan Ziekenhuis dan Handle Vereeniging Amsterdam (HVA).
“Jadi banyak cerita-cerita sejarah lokal yang butuh kita tampilkan, kita tumbuhkan.
untuk apa? Sekali lagi untuk menumbuhkan semangat kecintaan terhadap Indonesia, khususnya Kediri dan lebih khusus lagi Pare dan sekitarnya,” terangnya.
Eko melanjutkan, Kabupaten Kediri memiliki sejarah yang tersebar di berbagai wilayah. Karena itu, pelokalan sejarah menjadi salah satu upaya untuk membuat cerita sejarah lebih dekat dengan masyarakat setempat.
“Jadi banyak peristiwa-peristiwa yang memang pantas dan wajib kita kita lestarikan dan kita teruskan informasi kepada generasi muda kita,” jelasnya.
Menurutnya, fotografi dan video reel dipilih karena dianggap dekat dengan keseharian generasi muda yang tidak lepas dari perangkat digital dan media sosial.
“Jadi dunia digital adalah sebuah keniscayaan. Kita ajak teman-teman generasi muda memanfaatkan gadget-gadget yang mereka punya untuk berekspresi dengan latar belakang sejarah. Contoh dengan cara membuat reel, dengan fotografi melalui media-media eh yang yang sekarang sudah populer di media sosial,” jelas Eko.
Staf Bidang Sejarah, Cagar Budaya, dan Permuseuman Disparbud Kabupaten Kediri, Lala Amelia, mengatakan lomba fotografi terbuka bagi masyarakat umum maupun pelajar. Pengambilan gambar dilakukan di sejumlah kawasan eks Karesidenan Pare, seperti distrik Pare, Kecamatan Badas, dan Kecamatan Kepung.
“Jumlah keseluruhannya itu 101, tapi yang diundang di award ini ada 30 besar,” katanya.
Lala menuturkan, untuk menentukan peserta terbaik, panitia menetapkan sejumlah kriteria penilaian. Di antaranya kesesuaian dengan tema kolonial, narasi yang dibangun melalui foto, serta aspek visualisasi.
Peserta yang masuk 30 besar kemudian mengikuti agenda awarding. Selain pengumuman pemenang, kegiatan tersebut juga diisi dengan pembahasan sejarah Kota Pare serta materi teknik fotografi.
Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat menyasar kawasan lain, seperti eks Karesidenan Ngadiluwih maupun eks Karesidenan Papar.
“Pasti ke depannya akan penginnya akan diadakan lagi dan lebih besar dari yang ini. Terus nanti kita juga mau ke kecamatan lain-lain, enggak cuma di Pare saja. Nanti juga ngajak komunitas lain yang ada di kecamatan-kecamatan lain,” ujar Lalal.
Dengan pendekatan tersebut, sejarah diharapkan tidak berhenti sebagai informasi, tetapi dapat diolah menjadi konten kreatif yang menarik sekaligus edukatif. [nik/ang]

