Close Menu
tahukediri.idtahukediri.id
    What's Hot

    Dugaan Perusakan Fasilitas Kafe di Pare Diselesaikan Kekeluargaan, Ini Kesepakatannya

    14 Agustus 2026 - 18:32

    BPK Jatim Ungkap Tantangan Bersihkan Vandalisme Cikar Mbah Gleyor: Satu Roda Bisa 3 Jam

    14 Agustus 2026 - 17:55

    Dengarkan Pidato Kenegaraan, Wali Kota Kediri Serukan Persatuan dan Gotong Royong

    14 Agustus 2026 - 17:49
    Facebook X (Twitter) Instagram
    tahukediri.id
    • Beranda
    • News
    • Travel
      • Wisata
      • Kuliner
      • Seni & Budaya
    • Multimedia
      • Foto
      • Video
    • Tentang Kami
    • Kontak
    • Arsip
    Facebook X (Twitter) Instagram
    tahukediri.idtahukediri.id
    Home»News»BPK Jatim Ungkap Tantangan Bersihkan Vandalisme Cikar Mbah Gleyor: Satu Roda Bisa 3 Jam

    BPK Jatim Ungkap Tantangan Bersihkan Vandalisme Cikar Mbah Gleyor: Satu Roda Bisa 3 Jam

    Nanik Dwi JayantiNanik Dwi Jayanti News 14 Agustus 2026 - 17:55
    WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Pinterest Email
    BPK Jatim bersihkan cat bekas aksi vandalisme pada Cikar Mbah Gleyor Kediri
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Kediri (tahukediri.id) – Tampilan Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) cikar Mbah Gleyor di Dusun Kartosari, Desa Kandat, Kabupaten Kediri usai ditangani oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Timur kini tampak lebih bersih, cat putih, hijau dan coklat akibat kejadian vandalisme oleh Orang Dalam Gangguan Jiwa (ODGJ) beberapa waktu lalu terlihat memudar.

    Konservator BPK Jawa Timur, Ahmad Lutfi, mengatakan, proses pembersihan tersebut dilakukan secara bertahap. Tim terlebih dahulu menggunakan metode paling ringan sebelum mencoba bahan lain.

    “Pada prinsipnya kalau konservasi itu dicoba dari metode yang paling ringan dari bahan yang paling sederhana gitu. Makanya dicoba dari air dulu, baru kemudian alkohol, baru naik-naik lagi,” ujarnya.

    Dalam uji coba tersebut, lanjut Lutfi, cat berwarna putih akhirnya dapat dibersihkan menggunakan alkohol. Prosesnya dilakukan dengan menyikat permukaan sambil dibasahi alkohol, kemudian segera dilap. Tahapan tersebut dilakukan berulang hingga lapisan cat terangkat.

    Sementara untuk cat berwarna hijau dan cokelat, alkohol dinilai belum cukup efektif. Tim kemudian menggunakan etil asetat untuk membantu melunakkan lapisan cat sebelum dilakukan penyikatan dan pengelapan.

    “Coklatnya itu kami tambah menggunakan bahan etil asetat. Jadi di bagian itu dibasahi dengan sikat etil asetat sampai agak melunak,” jelasnya.

    Ahmad menegaskan, pemilihan bahan pembersih tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Setiap bahan harus disesuaikan dengan karakter cat sekaligus kondisi material kayu. Terlebih, tim tidak mengetahui secara pasti jenis cat yang digunakan pada objek tersebut.

    “Makanya dicoba dari air dulu, baru kemudian alkohol, baru naik-naik lagi. Nah, kebetulan tadi pakai alkohol saja sudah bisa untuk yang cat putih. Kemudian yang cat hijau dan coklatnya kita coba karena alkohol masih belum maksimal dipakai pakai etil asetat gitu. Nah, kebetulan sudah bisa ya sudah pakai bahan itu saja,” terangnya.

    Menurutnya proses pembersihan cat vandalisme itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Dalam proses uji coba tersebut, untuk satu bagian roda saja, prosesnya membutuhkan waktu sekitar 2,5 sampai 3 jam. Meski demikian, hasilnya belum sepenuhnya bersih karena masih terdapat sisa lapisan cat berwarna kehijauan.

    “Roda itu 2,5 jam. Dan hasilnya pun belum bersih sempurna ya. Bisa dilihat sendiri mungkin yang bagian bawah agak masih kehijauannya itu masih ada. Jadi, mungkin kalau untuk benar-benar bersih itu ya butuh 3 jam lebih,” ungkapnya.

    Dengan kondisi tersebut, pembersihan secara keseluruhan diperkirakan membutuhkan waktu hingga beberapa hari. Untuk bidang sekitar satu meter persegi, pengerjaan bisa memakan waktu tiga jam lebih, tergantung kondisi cat dan material kayu.

    Lutfi melanjutkan, dari tiga warna yang diuji, lapisan cat cokelat dan hijau disebut menjadi yang paling sulit dibersihkan. Tim menduga karakter kedua cat tersebut menyerupai cat minyak.

    “Yang cokelat sama hijau sih (yang paling sulit dibersihkan) kalau sekila, soalnya kayaknya cat minyak sepertinya,” ujarnya.

    Selain menghilangkan cat, tim juga memastikan proses tersebut tidak menyebabkan kerusakan pada kayu. Berdasarkan pengamatan sementara, tekstur dan kekuatan material setelah dilakukan uji coba masih relatif sama.

    Meski demikian, secara visual terdapat perubahan warna pada permukaan kayu setelah lapisan cat dibersihkan.

    “Kalau sekilas tampak ya yang barusan ya pasti warnanya agak berubah sih karena kan ya kita nggak bisa nggak bisa istilahnya nggak bisa mengembalikan seperti sediakala itu tidak bisa tapi ya kita bersihkan semaksimal mungkin saja. Mungkin kalau sekilas warna ada perubahan sedikit,” terangnya.

    Karena itu, proses pembersihan harus dilakukan secara hati-hati agar upaya menghilangkan cat justru tidak merusak material asli.

    BPK juga merekomendasikan bahan, alat, metode pengerjaan, hingga estimasi waktu yang diperlukan untuk membersihkan keseluruhan objek.

    “Ya nanti akan kami rekomendasikan untuk eh ya bahannya seperti yang tadi yang disebutkan ada alkohol, ada asetat, kemudian alat-alatnya pakai ya sikat nilon bias,” jelasnya.

    Setelah proses pembersihan selesai, BPK juga akan memberikan rekomendasi mengenai perawatan lanjutan. Salah satu metode yang dipertimbangkan adalah penggunaan bahan tradisional berupa air rendaman tembakau, cengkeh, dan pelepah pisang.

    Menurut Ahmad, metode tersebut telah digunakan dalam perawatan koleksi kayu di museum maupun rumah tradisional Jawa.
    Treatment tersebut bertujuan membantu menonjolkan tekstur kayu sekaligus memberikan perlindungan, termasuk untuk membantu mencegah serangan rayap.

    “Kalau yang untuk perawatan tadi yang pakai air rendaman tembakau, cengkeh dan pelepah pisang itu biasanya satu tahun sekali kalau yang itu kan diambil dari praktik di Jawa Tengah,” kata Lutfi.

    Selain penanganan khusus, perawatan rutin juga dinilai penting untuk menjaga kondisi Cikar Mbah Gleyor.

    BPK menyarankan agar objek tersebut dibersihkan secara rutin dari debu menggunakan kemoceng atau kuas halus. Perawatan sederhana tersebut dapat dilakukan setiap hari sambil terus memantau kondisi material.

    “Klau untuk yang pembersihan kering yang pakai kemoceng, pakai kuas, itu ya baiknya ya tiap hari sambil dipantau,” pungkasnya. [nik/ang]

    Berita Kediri BPK Jatim Cikar Mbah Gleyor Vandalisme
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleDengarkan Pidato Kenegaraan, Wali Kota Kediri Serukan Persatuan dan Gotong Royong
    Next Article Dugaan Perusakan Fasilitas Kafe di Pare Diselesaikan Kekeluargaan, Ini Kesepakatannya

    Info Lainnya

    Dugaan Perusakan Fasilitas Kafe di Pare Diselesaikan Kekeluargaan, Ini Kesepakatannya

    14 Agustus 2026 - 18:32

    Dengarkan Pidato Kenegaraan, Wali Kota Kediri Serukan Persatuan dan Gotong Royong

    14 Agustus 2026 - 17:49

    Kukuhkan Paskibraka 2026, Mas Dhito Soroti Bullying hingga Pernikahan Dini di Kalangan Pelajar

    14 Agustus 2026 - 07:28

    Kukuhkan Paskibraka, Mas Dhito : Jadilah Contoh dan Jaga Ideologi Pancasila

    14 Agustus 2026 - 07:21

    Mas Dhito Temui Marfel, Bocah 11 Tahun yang Rela Berbagi Waktu Sekolah dan Merawat Ibu

    14 Agustus 2026 - 07:17

    Empat Tahun Dinanti, Jembatan Garuda Merah Putih di Ngancar Kediri Kini Bisa Digunakan Warga

    14 Agustus 2026 - 07:11
    Leave A Reply Cancel Reply

    Info Menarik!

    Dugaan Perusakan Fasilitas Kafe di Pare Diselesaikan Kekeluargaan, Ini Kesepakatannya

    14 Agustus 2026 - 18:32

    BPK Jatim Ungkap Tantangan Bersihkan Vandalisme Cikar Mbah Gleyor: Satu Roda Bisa 3 Jam

    14 Agustus 2026 - 17:55

    Dengarkan Pidato Kenegaraan, Wali Kota Kediri Serukan Persatuan dan Gotong Royong

    14 Agustus 2026 - 17:49

    Kukuhkan Paskibraka 2026, Mas Dhito Soroti Bullying hingga Pernikahan Dini di Kalangan Pelajar

    14 Agustus 2026 - 07:28

    Kukuhkan Paskibraka, Mas Dhito : Jadilah Contoh dan Jaga Ideologi Pancasila

    14 Agustus 2026 - 07:21
    © 2026 TahuKediri.ID | serba tahu soal Kediri

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.