Kediri (tahukediri.id) – Kawasan lereng Gunung Kelud di Desa Sempu, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, terkenal sebagai salah satu sentra penghasil nanas melimpah. Namun, melimpahnya produksi buah tersebut berbanding lurus dengan timbulan limbah kulit nanas yang selama ini terbuang sia-sia.
Merespon kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Universitas Kadiri (Unik) menghadirkan solusi kreatif dengan mengedukasi warga mengolah limbah kulit nanas menjadi sabun mandi bernilai jual, pada Kamis (27/8/2026).
Inovasi Praktis Berbahan Baku Potensi Lokal
Pemrakarsa kegiatan dari Fakultas Pertanian Program Studi Agroteknologi Universitas Kadiri, Akhiriyatul Hasanah, mengungkapkan bahwa ide ini lahir dari hasil observasi lapangan terhadap potensi serta masalah lingkungan di Desa Sempu.
“Di sini ada limbah nanas yang terbuang sia-sia dan belum ada yang mengolah sama sekali. Kami dan teman-teman mencari inspirasi kira-kira bisa diolah menjadi apa, hingga akhirnya menemukan ide pembuatan sabun mandi ini,” ujar Akhiriyatul.
Secara teknis, proses pembuatan sabun memanfaatkan kulit nanas yang masih menyisa sedikit bagian daging buahnya. Setelah bagian tajam dipisahkan, bahan dihaluskan dan dicampur beberapa tetes air jeruk nipis hingga merata. Adonan kemudian dituangkan ke dalam cetakan dan didiamkan beberapa hari hingga satu minggu sampai memadat sempurna.

Pelatihan yang digelar di Kantor Desa Sempu ini disambut antusias oleh warga, terutama kelompok ibu-ibu yang terlibat langsung dari tahap penyampaian teori hingga praktik mencetak sabun.
Dorongan Program Berkelanjutan dan Desa Binaan
Kepala Desa Sempu, Eko Suroso, S.Pd., menyampaikan apresiasinya atas kepekaan mahasiswa Unik yang cepat beradaptasi dengan kebutuhan warga. Ia berharap program pendampingan UMKM dan olahan limbah ini tidak terputus saat masa Kukerta berakhir.
“Harapan kami program Kukerta ini berkesinambungan dan terprogres ke depan. Jika desa kami masih dipercaya menjadi lokasi Kukerta berikutnya, programnya bisa berjenjang untuk mematangkan potensi olahan limbah ini,” harap Eko.
Dukungan senada disampaikan Rektor Universitas Kadiri, Ir. Djoko Rahardjo, M.P., yang hadir secara langsung didampingi Ketua LP3M Drs. Budi Heryanto, M.M. Rektor menegaskan bahwa Kukerta adalah wahana utama bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu kampus demi memecahkan masalah riil di tengah masyarakat.
“Mahasiswa harus menerapkan teori untuk pembangunan nyata di masyarakat. Keberhasilan Kukerta tidak hanya diukur dari bentuk fisik, tetapi juga hubungan erat yang terbangun. Ini titik awal yang baik agar ke depannya Desa Sempu bisa kita jadikan sebagai desa binaan Universitas Kadiri,” pungkas Djoko. [nik/ang]

