Kediri (tahukediri.id) – Tahun baru di Kota Kediri ditandai dengan wajah baru Jembatan Brawijaya. Revitalisasi jembatan yang melintang di atas Sungai Brantas itu tak hanya menghadirkan perubahan fisik, tetapi juga menyematkan pesan simbolik melalui lima ornamen Aksara Kuadrat yang tertera di keempat pilarnya. Kehadiran aksara kuno tersebut sempat memantik salah sangka di ruang publik. Tak sedikit yang mengira tulisan itu sebagai aksara Thailand.
Di balik salah paham itu, tersimpan ikhtiar Pemerintah Kota Kediri untuk menegaskan kembali identitas kota, menghubungkan kejayaan masa lampau dengan arah pembangunan masa kini.
Lima kalimat Aksara Kuadrat yang terpasang di pilar-pilar Jembatan Brawijaya masing-masing mengandung filosofi tersendiri. Kalimat pertama, Djojo Ing Bojo, bermakna berjaya di atas marabahaya. Frasa ini bukan sekadar kutipan, melainkan telah lama menjadi bagian dari identitas Kota Kediri karena tertera pada pita lambang Pemerintah Kota Kediri. Dalam konteks tersebut, Djojo Ing Bojo dimaknai sebagai bahan pengikat atau pemersatu, lambang persatuan masyarakat Kediri.
Kalimat kedua, Jer Basuki Mawa Beya, mengandung pesan bahwa setiap keberhasilan memerlukan pengorbanan. Sementara kalimat ketiga, Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa, menegaskan nilai pluralisme dan toleransi, bahwa perbedaan tidak meniadakan persatuan dan kebenaran tidak bersifat mendua.
Dua kalimat lainnya memperluas narasi itu. Tara Graha Tekanan Nagara Sésâneka Mukhyân Daha, yang diambil dari naskah Negarakertagama era Majapahit, menempatkan Daha sebagai kota penting di antara wilayah-wilayah lain. Sedangkan kalimat terakhir, “Membangun Kota Kediri yang MAPAN”, merangkum visi pembangunan Kota Kediri: Maju, Agamis, Produktif, Aman, dan Ngangeni.
Arkeolog Steven Juan Susilo, perancang ornamen Aksara Kuadrat di Jembatan Brawijaya, menjelaskan bahwa tulisan tersebut kerap disalahartikan karena bentuknya yang mirip dengan aksara Thailand kuno. Menurutnya, Aksara Kuadrat merupakan salah satu bentuk atau gaya penulisan dari Aksara Jawa Kuno, yang juga dikenal sebagai Aksara Kawi.
“Aksara Jawa Kuno itu dipakai dari sekitar abad ke-7 hingga abad ke-14, bahkan sampai akhir Majapahit. Aksara Kuadrat ini sebenarnya sama tulisannya, hanya bentuknya lebih tebal, lebih kotak, dan terkesan ‘ngebut’,” ujar Juan.
Ia menjelaskan, kemiripan dengan aksara Thailand kuno bukanlah hal yang keliru, sebab keduanya berakar dari sistem penulisan yang sama dan berkembang di wilayah Asia Tenggara pada masa lampau. “Tulisan Thailand kuno itu secara bentuk memang sangat mirip. Tapi justru dari situ terlihat bahwa aksara ini bagian dari memori kolektif kita sendiri,” katanya.
Juan menambahkan, penggunaan Aksara Kuadrat bukan tanpa alasan. Gaya tulisan ini juga ditemukan di Goa Selomangleng, situs bersejarah di Kediri yang jejaknya membentang dari era Kerajaan Kahuripan pada masa Raja Airlangga hingga Majapahit. Dari sengkalan dan relief yang ada di situs tersebut, dapat ditelusuri kesinambungan penggunaan aksara itu selama berabad-abad.
Pemilihan Aksara Kuadrat di Jembatan Brawijaya, menurut Juan, merupakan hasil diskusi panjang lintas tim di lingkungan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Kediri. Tulisan dipilih karena menjadi medium penting dalam pendokumentasian pengetahuan dan pertumbuhan peradaban.
“Jembatan ini melewati Sungai Brantas, yang pada masa lalu menjadi jalur vital perdagangan dan penghubung peradaban. Jadi secara simbolik, jembatan ini menghubungkan kejayaan Kediri di masa lalu dengan kehidupan kota hari ini,” ucapnya.
Lebih dari sekadar ornamen, keberadaan Aksara Kuadrat itu juga diharapkan menjadi pemantik pengembangan identitas dan pariwisata Kota Kediri. Selama ini, citra Kediri kerap dilekatkan pada industri tahu dan rokok. Sementara potensi sejarah dan budaya belum sepenuhnya terangkat.
Dengan hadirnya aksara kuno di ruang publik modern, Pemerintah Kota Kediri berharap muncul rangsangan untuk mengembangkan wisata berbasis sejarah, budaya, dan ekonomi kreatif, terutama dengan dukungan infrastruktur baru seperti Bandara Dhoho.
“Memang masih banyak yang belum paham. Tapi setiap orang yang melintas dari kulon kali ke etan kali, secara tidak langsung diingatkan bahwa kota ini punya sejarah panjang,” kata Juan.
Disangka asing, Aksara Kuadrat di Jembatan Brawijaya justru membuka percakapan tentang siapa Kediri hari ini dan dari mana ia berasal. Sebuah penanda bahwa di atas beton dan besi, sebuah kota sedang berusaha mengingat dirinya sendiri. [tan/ang]

