Kediri (tahukediri.id) – Kenaikan harga kedelai impor dalam beberapa hari terakhir mulai dirasakan para pengrajin tempe di Kota Kediri. Lonjakan harga bahan baku dari kisaran Rp10.500 menjadi Rp12.000 per kilogram memaksa sebagian pelaku usaha melakukan penyesuaian harga jual untuk menjaga keberlangsungan produksi.
Salah satu yang merasakan dampaknya adalah Mahmudi (39), pengrajin tempe asal Desa Tempurejo, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Meski belum mengganggu aktivitas produksinya secara signifikan, kenaikan harga kedelai tetap memengaruhi margin keuntungan usaha yang telah digelutinya selama lebih dari satu dekade.
Harga Tempe Naik Ikuti Kenaikan Bahan Baku
Mahmudi mengaku mulai menaikkan harga jual tempe setelah harga kedelai impor mengalami kenaikan. Saat ini, tempe bungkus daun yang diproduksinya dijual seharga Rp13.000 per kilogram, sedangkan tempe kemasan plastik dibanderol Rp15.000 per kilogram.
Menurutnya, penyesuaian harga menjadi langkah yang sulit dihindari karena kedelai merupakan komponen utama dalam produksi tempe. Ketika harga bahan baku naik, biaya produksi otomatis ikut meningkat.
“Harga kemarin pertama masuk Rp12.000 itu harga kedelai di bawah Rp10.000, sekarang di atas, saya naikkan jadi Rp13.000,” ujarnya, Rabu (10/6/2026).
Tempe merupakan salah satu sumber protein nabati yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia karena harganya relatif terjangkau. Karena itu, perubahan harga kedelai kerap berdampak langsung terhadap harga tempe dan tahu di tingkat konsumen.
Produksi Skala Besar Dinilai Lebih Mampu Bertahan
Meski harga bahan baku naik, Mahmudi mengaku kondisi tersebut belum memberikan dampak besar terhadap volume produksinya. Menurutnya, pelaku usaha dengan kapasitas produksi besar masih memiliki ruang untuk menyesuaikan biaya operasional dibandingkan pengrajin skala kecil.
“Kalau dari dampak, produksi yang kecil itu terasa. Kalau saya kan produksinya banyak, jadinya enggak begitu ngaruh,” katanya.
Sebagai pengrajin yang telah menekuni usaha tempe sejak 2012, Mahmudi memiliki jaringan pemasaran yang cukup luas. Selain memasok ke berbagai pasar tradisional, ia juga menjadi pemasok bahan pangan untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kondisi tersebut membuat permintaan produknya relatif stabil meskipun terjadi fluktuasi harga bahan baku.
Kenaikan Saat Ini Dinilai Masih Wajar
Mahmudi menilai kenaikan harga kedelai saat ini masih tergolong wajar jika dibandingkan beberapa tahun lalu. Ia mengingat kembali periode ketika harga kedelai sempat menembus Rp15.000 per kilogram dan memberikan tekanan lebih besar terhadap pelaku usaha tempe.
Menurutnya, masyarakat pada akhirnya akan menyesuaikan diri terhadap perubahan harga yang terjadi, sebagaimana yang pernah terjadi pada periode sebelumnya.
“Harga kedelai naik sampai Rp15.000, terus saya naikin harga tempe, masyarakat sudah menikmati biasa. Dan berjalannya waktu saya kira itu biasa. Cuma awalan saja,” katanya.
Namun demikian, ia mengakui bahwa naik turunnya harga kedelai tetap berpengaruh terhadap keuntungan usaha. Ketika harga bahan baku meningkat, margin keuntungan menjadi lebih tipis meskipun penyesuaian harga jual telah dilakukan.
Ketergantungan pada Kedelai Impor Jadi Tantangan
Kenaikan harga kedelai yang terjadi saat ini kembali menunjukkan tingginya ketergantungan industri tempe nasional terhadap pasokan kedelai impor. Sebagian besar kebutuhan kedelai untuk industri pengolahan pangan di Indonesia masih berasal dari luar negeri, sehingga rentan terpengaruh fluktuasi harga global, nilai tukar rupiah, dan kondisi perdagangan internasional.
Bagi pelaku usaha kecil dan menengah, perubahan harga bahan baku yang terjadi secara tiba-tiba dapat memengaruhi perencanaan produksi dan stabilitas usaha. Karena itu, stabilitas pasokan dan harga kedelai menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan industri tempe yang menyerap banyak tenaga kerja dan menjadi bagian dari ketahanan pangan nasional.
Meski kenaikan harga kedelai impor belum berdampak signifikan terhadap produksi tempe skala besar di Kota Kediri, para pengrajin tetap berharap harga bahan baku dapat kembali stabil agar margin usaha tetap terjaga. Dengan tingginya konsumsi tempe di masyarakat serta peran pentingnya sebagai sumber protein terjangkau, kestabilan harga kedelai menjadi faktor penting bagi keberlanjutan industri tempe dan daya beli masyarakat.
Ke depan, pelaku usaha berharap adanya kondisi pasar yang lebih kondusif sehingga produksi dapat terus berjalan optimal tanpa harus membebani konsumen dengan kenaikan harga yang terlalu tinggi. [nik/ang]


