Kediri (tahukediri.id) – Pagi di Dusun Kandat, Desa Kandat, Kecamatan Kandat, tak pernah benar-benar mudah bagi Sholikah. Di rumah sederhana yang sebagian atapnya mulai bocor itu, perempuan 50 tahun tersebut memulai hari dengan menyiapkan kebutuhan tiga cucunya yang kini tumbuh tanpa pelukan seorang ibu.
Sejak putrinya, Nurdika Natasya (25), meninggal dunia sebulan lalu akibat sakit lambung dan darah rendah, hidup Sholikah berubah total. Ia bersama suaminya, Putut Sri Hamismoro (56), harus menjadi tempat bersandar bagi tiga anak kecil yang masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang setiap waktu.
Arvino Ardiansyah yang baru berusia tujuh tahun kini berusaha memahami kehilangan ibunya. Sementara dua adiknya yang kembar, Arcelio Kiandra Ardianto dan Arsenio Giandra Ardianto, masih berusia dua tahun dan belum sepenuhnya mengerti mengapa sosok ibu tak lagi ada di rumah mereka.
Di tengah kesedihan itu, beban hidup semakin berat karena ayah ketiga anak tersebut disebut sudah sekitar satu tahun tidak memberikan nafkah.
Kondisi keluarga itu membuat Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana atau Mas Dhito turun langsung mengunjungi rumah mereka, Kamis (7/5/2026). Saat melihat kondisi keluarga tersebut, Mas Dhito menyampaikan ketegasannya terhadap orang tua yang menelantarkan anak.
“Maka kalau itu bapaknya ber-KTP Kediri, Pak Sekda, saya minta untuk tidak dilayani dalam kepengurusan kependudukan dan seluruh pelayanan publik yang ada di Kabupaten Kediri, karena bapaknya enggak mau menafkahi. Sudah setahun, bagi saya enggak ada toleransi seorang bapak tidak menafkahi anaknya,” tegasnya.
Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Kediri akan mengkaji pemberian sanksi bagi ayah yang tidak menjalankan tanggung jawab terhadap anak.
“Suami yang tidak menafkahi anak, itu kita akan kaji, akan ada punishment dari kita. Karena itu wajib hukumnya,” terangnya.
Namun di balik ketegasan itu, ada perhatian yang coba dihadirkan untuk meringankan beban Sholikah. Selama ini, nenek tersebut bertahan hidup dari usaha kecil-kecilan membuat sambal pecel dan madumongso. Dari jualan itulah ia membeli susu, popok, hingga kebutuhan sekolah cucunya.
Penghasilannya jauh dari cukup. Dalam sehari, uang yang didapat terkadang hanya Rp10 ribu sampai Rp20 ribu.
Melihat kondisi itu, Mas Dhito memastikan bantuan usaha akan diberikan secara cepat, mulai dari alat produksi hingga pendampingan agar usaha rumahan Sholikah bisa berkembang.
“Cuman yang enggak kalah penting, ibunya ini bisa bikin sambal pecel sama madu mongso. Nah, itu yang kita akan berikan secara masif. Jadi, artinya masif itu kita berikan secara cepat, kita awasi sampai ibunya bisa mengelola keuangan dengan baik, supaya mereka punya pendapatan,” ujarnya.
Tak hanya bantuan usaha, rumah keluarga tersebut juga akan diperbaiki. Sejumlah bagian rumah diketahui rusak dan bocor sehingga membahayakan ketika hujan turun.
Di hadapan rombongan pemerintah daerah, Sholikah tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Setelah sekian lama memikul beban sendiri, bantuan itu terasa seperti secercah napas baru bagi keluarganya.
“Alhamdulillah, dapat bantuan. Agak berkurang pikirannya, semua bebannya agak berkurang, semua kan yang mikir saya sendiri,” ungkapnya.
Meski hidup dalam keterbatasan, Sholikah tetap berusaha menjaga masa depan cucu-cucunya. Arvino kini tercatat sebagai siswa SD NU Ngadiluwih dan mendapat bantuan les gratis dari lembaga pendidikan setempat.
Bahkan, Arvino juga berpeluang melanjutkan pendidikan di program Sekolah Rakyat, sekolah bentukan pemerintah pusat bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Di rumah kecil itu, Sholikah masih menyimpan satu harapan sederhana: ketiga cucunya tumbuh sehat, sekolah tinggi, dan kelak memiliki kehidupan yang lebih baik daripada yang ia jalani hari ini. [nik/ang]

