Kediri (tahukediri.id) – Di tengah menjamurnya kedai kopi di Kota Kediri, Kedai Kopi Papa Liem memilih berjalan dengan caranya sendiri. Mengusung nuansa Pecinan jadul, Papa Liem menyajikan menu halal berbasis resep keluarga yang telah diwariskan lintas generasi.
Berlokasi di Jalan Dhoho No.137, kedai kopi ini menempati bangunan yang menyimpan sejarah panjang keluarga pemiliknya. Tempat tersebut dulunya merupakan toko perhiasan milik kakek dan nenek owner, yang kemudian sempat beralih menjadi toko sepeda. Setelah para orang tua pensiun dan bangunan lama itu cukup lama tak terpakai, keluarga melihat peluang baru.
“Banyaknya resep turun-temurun favorit keluarga serta ketersediaan lokasi membuat owner berinisiatif membuka usaha ini. Saat itu tren kedai ala kopitiam juga sedang naik dan dirasa pas dengan menu serta lokasi yang ada,” ujar Savitri, cucu Papa Liem, pada Jumat (16/1/2026)
Menariknya, jejak masa lalu bangunan tersebut masih dipertahankan. Plang nama asli toko perhiasan lama masih bisa dijumpai pengunjung di lorong belakang menuju toilet, menjadi penanda perjalanan panjang ruang usaha keluarga ini.
Kedai Kopi Papa Liem resmi dibuka pada Februari 2023. Sejak awal, konsep branding dan storytelling yang diusung mengajak pengunjung untuk menikmati menu keluarga dalam suasana yang hangat dan akrab, layaknya berkunjung ke rumah sanak saudara.
Meski kental dengan nuansa Pecinan, seluruh menu di Papa Liem dipastikan no pork, no lard, dan halal. Konsep ini menjadi prinsip penting yang terus dijaga, agar semua kalangan dapat menikmati sajian tanpa rasa ragu.
“Seluruh menu kami homemade. Mulai dari proses awal hingga penyajian akhir, kualitasnya kami cek secara rutin untuk menjaga konsistensi rasa,” kata Savitri.
Sejumlah menu signature menjadi daya tarik utama Papa Liem, di antaranya kopi gu you, teh tarik, kaya butter toast, dan mi charsiu. Selain itu, terdapat pula menu hidden gem seperti telur rebus setengah matang, nasi ayam Kanton, egg tart, hingga mi kuah mala.
Dari berbagai menu tersebut, es teh tarik dan kaya butter toast menjadi yang paling banyak diminati pelanggan. Selai kaya yang digunakan pun bukan produk pabrikan, melainkan resep keluarga yang hingga kini masih diproduksi oleh saudara owner.
Di tengah tren kopi yang terus berkembang, Papa Liem memilih fokus pada konsistensi sebagai kunci bertahan. Mulai dari bahan baku, proses produksi, hingga penyajian, semuanya dijaga agar cita rasa tetap sama dari waktu ke waktu.
Soal promosi, kehadiran media sosial belum menjadi faktor utama yang mendatangkan pelanggan. Banyak pengunjung justru mengetahui Papa Liem dari lokasi kedai yang berada di jalan utama serta rekomendasi dari mulut ke mulut.
“Kami saat ini fokus menjaga kualitas dan harga. Itu yang kami pegang,” ujarnya.
Terkait menjamurnya usaha perkopian di Kota Kediri mulai dari kafe modern, kedai kopi, warkop, hingga fenomena starling (starbucks keliling), Kedai Kopi Papa Liem memandang kondisi tersebut sebagai peluang.
“Animo masyarakat dengan budaya ngopi yang besar membuat bisnis kopi semakin ramai. Ini peluang, karena semakin banyak orang mencari kedai kopi sebagai tempat melakukan berbagai aktivitas,” jelas Savitri.
Namun, di tengah persaingan yang kian ketat, Papa Liem percaya ada satu kunci utama agar tetap bertahan. “Komitmen untuk konsisten,” tegasnya.
Dengan mengandalkan resep turun-temurun, konsep halal, serta nuansa Pecinan yang otentik, Kedai Kopi Papa Liem menegaskan posisinya bukan sekadar tempat ngopi, tetapi ruang yang merawat cerita, rasa, dan ingatan keluarga di tengah denyut Kota Kediri. [tan/ang]

