Kediri (tahukediri.id) – Di balik capaiannya diterima melalui jalur prestasi SNBP di Universitas Negeri Malang, terdapat usaha dan perjuangan Tsany Zahratussita, atlet Kriket Kabupaten Kediri dengan segudang prestasi baik daerah maupun kanca nasional.
Sita, sapaan akrabnya, mulai mengenal kriket pada Mei 2020, berawal dari ajakan gurunya untuk mencoba cabang olahraga yang saat itu masih terbilang baru. Meski sempat ragu karena belum mengenal kriket, ia memberanikan diri untuk berlatih.
Hanya dalam waktu tiga bulan, bakatnya mulai terlihat hingga akhirnya terpilih menjadi atlet dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2025 dan berhasil meraih perunggu di ajang olahraga bergengsi tersebut.
“Awalnya saya bingung, apa itu kriket? Terus beliau bilang (sang Guru), ayo ikut aja dulu, Jadi saya ikut latihan selama kurang lebih 3 bulan. Lalu alhamdulillah terpilih menjadi atlet Porprov,” kenangnya saat ditemui dikediamannya di Jl. Swakarya, Desa Gadungan, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri.
Prestasinya tak berhenti di situ. Hanya selang satu bulan setelah Porprov, ia mengikuti pelatihan di Malang untuk persiapan kejuaraan nasional di Bali, tepatnya di Universitas Udayana. Dalam ajang tersebut, Sita berhasil meraih medali perak, prestasi yang hingga kini menjadi salah satu pencapaian paling berkesan dalam hidupnya.
Di penghujung tahun 2025, Sita kembali menorehkan prestasi membanggakan dengan membawa tim sekolahnya meraih medali emas dalam kejuaraan wilayah di Malang. Prestasi gemilang yang dibawanya dalam tim yang tergolong baru.
Berkat prestasinya, ia diterima di Universitas Negeri Malang jurusan Ilmu Komunikasi melalui jalur SNBP, bidang yang juga menjadi minatnya tahun ajaran 2026/2027 ini selain keolahragaan.
“Saya mengikuti SNBP, saya memilih Ilmu komunikasi di pilihan pertama saya, dan ilmu keolahragaan saya taruh di pilihan kedua. Alhamdulillah, saya terpilih dan saya lolos di ilmu komunikasi,” jelasnya.
Namun, besaran UKT (uang kuliah tunggal) sebesar Rp 4.750.000 per semester menjadi tantangan tersendiri bagi keluarganya.
“Ketika mengetahui UKT saya terbilang cukup tinggi, perasaan saya justru sedih, bingung juga. Bagaimana?,” ungkapnya.
Sita tinggal bersama sang ibu bernama Maukhatul Khoiriyah yang kini tengah berjuang melawan tumor otak, sementara ayahnya telah meninggal. Kondisi ini mendorong Sita untuk menjadi sosok mandiri.
Dalam keseharian Sita membantu pekerjaan rumah ibu seperti memasak, memenuhi kebutuhan rumah, termasuk merawat tanaman mawar yang dijualnya di depan rumah, usaha yang telah dijalankan selama kurang lebih dua tahun terakhir.
Terdapat aneka jenis bunga mawar hasil budidaya sendiri yang dijual, seperti jenis mawar Kalimantan tanpa duri, Malang dan lokal dengan harga bervariasi mulai Rp 15.000 hingga Rp 40.000 per tanaman.
Sita juga belajar meronce bunga untuk menambah penghasilan demi kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikannya kelak.
“Saya ingin sambil bantu-bantu mencari uang untuk melanjutkan kuliah di Malang nantinya, seperti bayar kontrakan atau uang untuk kehidupan sehari-hari,” ujar perempuan berusia 18 tahun tersebut.
Menurutnya sosok yang ibu yang menjadi tulang punggung keluarga menjadi motivasi besar dalam setiap langkahnya.
“Motivasi saya untuk terus berjuang adalah ibu saya, karena ibu saya dalam kondisi apa pun tetap berjuang demi anak-anaknya,” katanya.
Meski dua semester awal kuliahnya telah terbantu, Sita mengaku masih merasa khawatir menghadapi biaya UKT di semester berikutnya.
Karena itu, Ia terus berusaha mencari beasiswa dan peluang lain demi melanjutkan pendidikannya. Sita berharap ada perhatian dari pemerintah maupun pihak terkait untuk memberikan bantuan beasiswa agar ia bisa fokus menempuh pendidikan.
Baginya, pendidikan menjadi jalan untuk mengubah kondisi hidup keluarganya ke depan.
Perempuan berusia 18 tahun itu berharap bisa terus berkembang dan suatu saat menjadi atlet profesional, bahkan pelatih. Ia juga bertekad melanjutkan kariernya sebagai atlet kriket di Kota Malang.
Sementara itu Maftukhatul Khoiriyah menjelaskan jika ia mengidap tumor sekitar 4 tahun yang lalu. Kala itu ia merasa gejala awal seperti kejang dan beberapa bagian tubuh tidak bisa di gerakkan.
“Seperti tangan dan kaki bagian kanan tidak bisa bergerak, alhamdulillah ini sudah bisa beraktivitas,” jelasnya.
Tukah berharap dengan kondisinya saat ini tidak menyurutkan semangat anak-anaknya untuk bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan hingga meraih cita-cita.
Di tengah kondisinya yang juga masih berjuang, Sita tetap berpesan pada atlet maupun calon atlet agar jangan patah semangat dalam mencapai mimpi yang didinginkan.
“Halo dari saya untuk semuanya, bagi atlet maupun calon atlet, untuk terus semangat.
Latihan, apapun itu keadaannya, entah itu di-support ataupun tidak, tetap terus latihan dan semangat,” tutupnya. [nik/ang]

