Kediri (tahukediri.id) – Pemerintah Kota Kediri menambah ruang terbuka hijau (RTH) melalui kehadiran Taman Ramah IPLT Campurejo, yang tidak hanya berfungsi sebagai ruang rekreasi warga, tetapi juga sebagai sarana edukasi sanitasi bagi masyarakat. Taman ini berada di kawasan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) Campurejo dan diperkenalkan langsung oleh Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati (30/01).
Mbak Wali menjelaskan, pembangunan taman ramah yang terintegrasi dengan IPLT merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam mewujudkan kota sehat secara menyeluruh. Menurutnya, kesehatan masyarakat tidak hanya ditopang oleh gaya hidup sehat, tetapi juga oleh lingkungan dan sistem sanitasi yang aman.
“Ruang terbuka hijau ini kita hadirkan bukan hanya sebagai tempat rekreasi, tetapi juga sebagai taman edukasi. Masyarakat, termasuk anak-anak, perlu tahu apa itu IPLT dan bagaimana perannya dalam menjaga kesehatan lingkungan dan mencegah penyakit,” ujar Mbak Wali.
Ia menambahkan, IPLT memiliki peran penting dalam mendukung sanitasi layak di Kota Kediri. Pengolahan lumpur tinja yang aman dinilai dapat mencegah pencemaran air tanah dan menekan risiko berbagai penyakit. Karena itu, keberadaan IPLT perlu dikenalkan secara terbuka agar manfaatnya dipahami masyarakat.
Selain memperkenalkan fungsi IPLT, Mbak Wali juga mengajak warga sekitar untuk ikut menjaga keberadaan taman ramah tersebut. Mulai dari menjaga kebersihan, ketertiban, hingga keindahan taman agar dapat dinikmati bersama sebagai ruang publik yang berkelanjutan.
“Kita jaga bersama-sama. Taman ini untuk anak-anak, keluarga, dan masyarakat luas. Kebersihan dan keindahannya menjadi tanggung jawab kita semua,” katanya.

Sementara itu, Kepala DPUPR Kota Kediri, Endang Kartika Sari, menjelaskan bahwa Taman Ramah Campurejo merupakan fasilitas pendukung dari IPLT yang dibangun pada tahun 2024 melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Sanitasi. Pada tahun 2025, pemerintah juga membangun akses jalan menuju IPLT sebagai bagian dari persiapan operasional.
“Saat ini kami sedang menyiapkan operasional IPLT, termasuk pelatihan tenaga kerja yang akan dilatih oleh balai sanitasi. Targetnya, IPLT Campurejo bisa mulai beroperasi pada Maret,” jelas Endang.
IPLT Campurejo nantinya akan melayani sedot lumpur tinja terjadwal dengan kapasitas awal 15 meter kubik per hari dan ditargetkan mampu melayani sekitar 50.000 kepala keluarga.
Pemerintah Kota Kediri juga tengah menyiapkan pembentukan Unit Pelaksana Teknis (UPT) IPLT serta menyusun Peraturan Daerah tentang air limbah.
“Selama ini masyarakat belum banyak yang memahami bahwa tangki septik idealnya disedot setiap tiga sampai lima tahun. Jika tidak, ada risiko kebocoran dan pencemaran air tanah oleh bakteri seperti E. coli,” ujarnya.
Dari sisi layanan, tarif sedot lumpur tinja yang dikelola pemerintah dipatok lebih murah dibandingkan layanan swasta, yakni Rp35.000 per meter kubik. Kebijakan ini diharapkan mendorong masyarakat untuk memanfaatkan layanan resmi sekaligus mendukung pengelolaan sanitasi yang aman.
Dengan konsep ruang terbuka hijau yang terintegrasi dengan edukasi sanitasi, Taman Ramah IPLT Campurejo diharapkan menjadi ikon baru Kota Kediri, sekaligus contoh bagaimana infrastruktur sanitasi dapat dihadirkan secara terbuka, edukatif, dan ramah bagi masyarakat. [tan/ang]

