Kediri (tahukediri.id) – Kawasan Wisata Besuki masih menjadi destinasi unggulan di Kabupaten Kediri sekaligus penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar dari sektor pariwisata. Selama musim liburan, jumlah wisatawan yang berkunjung ke sejumlah destinasi wisata milik Pemerintah Kabupaten Kediri bahkan meningkat hingga lima sampai sepuluh kali lipat dibandingkan hari biasa.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri, Mustika Prayitno Adi, mengatakan lonjakan kunjungan selalu terjadi pada momentum libur panjang, termasuk saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) maupun libur nasional lainnya. Menurutnya, kawasan Besuki masih menjadi destinasi dengan capaian PAD tertinggi, disusul Gunung Kelud dan Taman Wisata Ubalan yang kini masuk dalam tiga besar objek wisata paling ramai dikunjungi.
“Saya lihat pada saat liburan Nataru dan libur, libur yang kemarin itu kenaikannya bisa sampai 5 sampai 10 kali lipat. Kalau biasanya hanya ratusan bisa sampai ribuan orang yang datang di tempat wisata yang kita kelola. Tapi kalau capaian PAD yang terbesar tetap di Besuki, Kelud dan Ubalan,” jelasnya.
Selain tiga destinasi tersebut, kawasan Simpang Lima Gumul (SLG) juga dipadati wisatawan saat musim liburan. Namun, jumlah kunjungannya belum dapat dihitung secara pasti karena pengelolaan kawasan beserta parkir dilakukan di beberapa titik yang berbeda.
Meski tren kunjungan wisata terus meningkat, Disparbud Kabupaten Kediri masih menyiapkan berbagai strategi untuk meningkatkan daya tarik destinasi. Salah satunya melalui penambahan atraksi wisata, terutama atraksi budaya pada momentum liburan, sehingga wisatawan memiliki lebih banyak pilihan kegiatan dan terdorong untuk menghabiskan waktu lebih lama di Kabupaten Kediri.
Di sisi lain, Museum Sri Aji Jayabaya mulai menunjukkan perkembangan positif. Museum yang masih dalam tahap pengembangan tersebut mencatat sekitar 1.000 kunjungan dalam satu bulan terakhir. Sebagian besar pengunjung berasal dari kalangan pelajar yang memanfaatkan museum sebagai sarana pembelajaran sejarah dan budaya.
Mustika menjelaskan museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan pelestarian artefak, tetapi juga menjadi media edukasi bagi generasi muda. Karena itu, Disparbud terus mendorong sekolah-sekolah di Kabupaten Kediri maupun daerah sekitar untuk memanfaatkan museum sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran.
“Memang kita mengharapkan dari anak-anak sekolah yang kita utamakan agar bisa berkunjung. Karena nilai edukasi dari museum itu yang kita tonjolkan. Selain museum fungsinya adalah pengamanan artefak yang ada di sana,” terangnya.
Pengembangan Museum Sri Aji Jayabaya masih dilakukan secara bertahap sesuai master plan yang telah disusun. Pemerintah Kabupaten Kediri menargetkan grand launching museum tersebut dapat dilaksanakan pada tahun 2027 setelah seluruh tahapan pembangunan rampung.
“Ini masih tahap pertama, nanti akan ada tahap berikutnya. Harapannya tahun 2027 bisa kita grand launching,” ujarnya.
Selain memperkuat atraksi wisata, Disparbud Kabupaten Kediri juga memprioritaskan peningkatan aksesibilitas dan amenitas di sejumlah destinasi unggulan. Perbaikan akan difokuskan pada kualitas jalan, pemasangan guardrail, rambu keselamatan, penataan toilet, restoran, kios, hingga berbagai fasilitas pendukung lainnya agar wisatawan memperoleh pengalaman berwisata yang lebih aman dan nyaman.
Kepala Bagian Pengembangan Pariwisata Disparbud Kabupaten Kediri, Husni, mengatakan pengembangan destinasi tahun ini diprioritaskan di kawasan wisata Gunung Kelud, Besuki, Taman Wisata Ubalan, dan Taman Wisata Corah.
Khusus di kawasan Gunung Kelud, akses jalan menuju kawah direncanakan mulai dikerjakan tahun ini oleh Dinas Pekerjaan Umum. Meski demikian, jalur tersebut belum dapat difungsikan karena masih membutuhkan penyempurnaan akses jalan dan sarana keselamatan bagi pengunjung.
Disparbud Kabupaten Kediri menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas destinasi wisata daerah agar mampu menarik lebih banyak wisatawan, tidak hanya dari Jawa Timur dan berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga wisatawan mancanegara.
“Jadi tampilannya nanti ke depan harus kita kita rubah. Jangan sampai ala kadarnya dalam tanda kutip, kalau ala kadarnya pasti tidak akan punya nilai jual lebih. Paling kita hanya bertahan pada ya wisatawan lokal ataupun regional saja, tapi tidak bisa lebih lagi ke nasional atau mancanegara. Jadi perlu kita tingkatkan dari semua sisi. Kita menyadari hal tersebut. Pinter-pinter mengelola bagaimana agar di masa efisiensi ini kita tetap bisa bertahan dan berbenah,” tandasnya. [nik/ang]

