Kediri (tahukediri.id) – Satu lagi masjid jejak laskar Pangeran Diponegoro di Kabupaten Kediri, yakni Masjid Ash-Sholihin yang berlokasi di Jl. Pamenang IX, Dusun Ngasem Kecamatan Ngasem. Masjid kuno ini tetap teguh lintas generasi.
Takmir Masjid Ash-Sholihin, Suyono menuturkan, sesuai namanya, masjid tersebut didirikan oleh seorang tokoh bernama Sholihin. Meski tidak bisa dipastikan kapan berdirinya, tapi masjid berasitektur klasik tersebut diyakini memiliki kaitan erat dengan laskar Pangeran Diponegoro, tokoh besar perlawanan Jawa pada abad ke-19. Hal ini dilihat dari adanya beberapa pohon sawo disekitar area masjid.
“Semua laskar prajurit Diponegoro kan buyar. Ya, jadi Pak Sholihin ini aslinya dari Kanigoro (Blitar) sana. Terus tinggal di sini, kawin sama orang sini,” kata Suyono, Kamis (26/2/2026).
Menurut Suyono, ciri khas majid peninggalan laskar Diponegoro adalah dengan adanya pohon sawo. Dulu ada sekitar 50 pohon sawo di area masjid, kini hanya tiga pohon yang tersisa.
Pohon yang usianya kurang lebih 200 tahun tahun tersebut dibiarkan bertahan sebagai tanda jejak laskar pahlawan Jawa pada masanya.
“Iya, memang biar orang-orang itu semua tahu kalau di mana-mana ada masjid yang ada pohonnya sawo ini, itu termasuk laskar Diponegoro,” ungkap takmir berusia 74 tahun itu.

Tak hanya pohon sawo, masjid ini juga masih menyisahkan bedug tua yang sudah ada sejak lama. Bangunan utama pun tetap dipertahankan keasliannya. Renovasi yang dilakukan selama sekitar 50 tahun terakhir hanya berupa penambahan dan perluasan, terutama di sisi selatan, tanpa mengubah bentuk asli masjid.
Dahulu, tempat wudu masih berupa “jedengan” sederhana. Kini, fasilitas tersebut telah diperbarui, namun tetap menjaga nuansa tradisional.
“Aslinya di sini dulu jedengan. Terus dibangun, sekarang sudah jadi begini,” ujarnya.
Masjid Ash-Sholihin kini telah memasuki generasi ketiga pengelolaannya. Generasi pertama adalah Sholihin sendiri, disusul putranya, Abdurrahman Syafi’i. Kini, tongkat estafet diteruskan kepada cucunya, M. Sururi.
Lebih dari sekadar bangunan, masjid ini adalah warisan sejarah dan spiritual yang dijaga lintas generasi. Di bawah naungan pohon sawo yang tersisa, Masjid Ash-Sholihin berdiri sebagai pengingat bahwa perjuangan tak selalu tercatat dalam buku sejarah, kadang ia hidup dalam cerita rakyat, dalam akar pohon tua, dan dalam dinding-dinding masjid yang tetap teguh menolak lupa. [nik/ang]

