Kediri (tahukediri.id) – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) terus memperkuat peran zakat sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi umat melalui Program Z-Mart. Program tersebut resmi diluncurkan di Kota Kediri, Rabu (7/1), dengan salah satu penerima manfaat adalah Toko Ibu Wanti di Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Kota.
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengatakan, Program Z-Mart merupakan langkah strategis untuk mendorong masyarakat penerima zakat (mustahik) agar dapat naik kelas menjadi muzakki. Menurutnya, zakat tidak hanya berhenti pada penyaluran bantuan, tetapi harus mampu menciptakan kemandirian ekonomi.
“Program ini luar biasa karena tujuannya adalah pemberdayaan masyarakat. Harapannya, mustahik tidak selamanya menerima, tetapi suatu saat bisa menjadi muzakki,” ujar Mbak Wali.
Ia menyebutkan, di Kota Kediri terdapat 50 penerima Program Z-Mart. Ke depan, usaha yang dijalankan para penerima diharapkan mampu berkembang dan memberi manfaat lebih luas, termasuk mendukung pendidikan anak-anak dari keluarga kurang mampu.
“Nantinya, Z-Mart ini harus punya output yang jelas. Bagaimana hasil usahanya bisa membantu pendidikan, bahkan memberikan beasiswa sarjana bagi anak-anak di Kota Kediri,” imbuhnya.
Mbak Wali juga mendorong agar Z-Mart dapat menjadi etalase produk lokal Kota Kediri. Mulai dari kain batik, tenun, hingga produk olahan seperti tahu, sehingga mampu memperkuat ekonomi lokal berbasis potensi daerah.
Sementara itu, Ketua BAZNAS Kota Kediri, Drs. H. Dawud Syamsuri, menyampaikan bahwa Program Z-Mart yang diluncurkan kali ini menyasar 60 penerima manfaat, terdiri dari warga Kota dan Kabupaten Kediri. Program ini diharapkan membawa dampak keberkahan sekaligus menekan angka kemiskinan melalui zakat produktif.
“Z-Mart ini kami rancang sebagai upaya pemberdayaan kaum dhuafa agar memiliki usaha mandiri dan berkelanjutan,” jelasnya.
Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Hj. Saidah Sakwan, menegaskan bahwa zakat harus dikelola secara produktif agar benar-benar mampu menjadi penggerak ekonomi umat. Ia menyebut, angka kemiskinan nasional masih berada di kisaran 25,3 juta jiwa, sehingga dibutuhkan kolaborasi lintas sektor.
“Zakat tidak boleh hanya berhenti di penyaluran. Z-Mart ini adalah program produktif yang sejalan dengan prioritas pemerintah dalam pengentasan kemiskinan, termasuk kemiskinan ekstrem,” tegas Saidah.
Melalui pendampingan dan sistem distribusi berbasis digital, Z-Mart diharapkan mampu meningkatkan efisiensi usaha para mustahik. BAZNAS pun menargetkan para penerima manfaat dapat terus berkembang dan meningkatkan kualitas hidup keluarga mereka.
“Tujuan akhirnya bukan sekadar kaya, tetapi memiliki kualitas hidup yang lebih baik, pendidikan yang layak, dan kesehatan yang baik,” pungkasnya. [tan/ang]

