Kediri (tahukediri.id) – Rangkaian peringatan 1 Suro di Kabupaten Kediri ditutup dengan prosesi Ruwatan Massal Murwakala yang berlangsung khidmat di kawasan Petilasan Sri Aji Jayabaya, Dusun Kunir, Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Minggu (12/7/2026).
Kegiatan yang digelar Sanggar Aji Laras tersebut diikuti sekitar 150 peserta dan menjadi bagian dari upaya melestarikan tradisi budaya Jawa sekaligus ikhtiar spiritual memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Dalang sekaligus pemilik Sanggar Aji Laras, Ki Browdianto, menjelaskan bahwa penyelenggaraan ruwatan massal tahun ini merupakan kali kedua. Pada tahun sebelumnya, pihaknya menggelar ruwatan khusus untuk wayang.
“Dulu awalnya yang saya ruwat adalah wayang tahun 2025 dan tahun ini ruwatan massal yang diikuti kurang lebih 150 peserta ruwatan,” katanya.
Menurut Browdianto, Ruwatan Murwakala merupakan tradisi yang bertujuan membersihkan unsur sukerta yang dipercaya melekat pada diri manusia sejak lahir. Prosesi tersebut diwujudkan melalui doa dan berbagai ritual adat sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberikan keselamatan lahir batin, kesehatan, kelancaran rezeki, hingga kemudahan dalam menjalani kehidupan.
“Keselamatan lah intinya diberi kelancaran, keselamatan lahir batin di dunia, keselamatan rezekinya, yang belum kerja biar cepat kerja, yang belum nikah supaya cepat nikah, pokoknya intinya itu,” terangnya.

Prosesi ruwatan diawali dengan pagelaran wayang, kemudian dilanjutkan doa bersama, kenduri atau selamatan, serta pelepasan burung dan sejumlah hewan peliharaan sebagai simbol terbebas dari berbagai kesulitan hidup.
Para peserta juga diwajibkan membawa kain putih sepanjang satu meter, bubur beras merah, dan bubur beras putih sebagai bagian dari perlengkapan ritual.
Pada prosesi inti, peserta menjalani pemotongan rambut dan siraman menggunakan air yang berasal dari 11 sumber mata air di Kabupaten dan Kota Kediri, dipadukan dengan air dari Patirtan Situs Gunung Padang di Jawa Barat, Tirta Empul di Bali, serta air laut Pantai Selatan.
Air dari berbagai sumber tersebut melambangkan doa dan harapan agar peserta memperoleh berkah, keselamatan, serta kasih sayang Tuhan Yang Maha Esa. Sementara sesaji yang disiapkan meliputi tumpeng, jajanan pasar, kembang setaman, pisang raja, hingga aneka bumbu dapur yang menjadi bagian dari tradisi ruwatan.
“Kita sesajen atau penyajian kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan pertolongan Gusti Kamulan Agung diberi kelancaran untuk semuanya, kesehatannya, rezekinya dan sebagainya,” jelas Browdianto.
Salah seorang peserta, Zevita Vallen (43) asal Kecamatan Banyakan, mengaku telah beberapa kali mengikuti ruwatan. Baginya, tradisi tersebut menjadi sarana introspeksi diri sekaligus momentum memperbaiki kehidupan.
“Yang saya harapkan tahun ini saya mensuci lagi, nanti kehidupan saya lebih baik lagi, keluarga saya lebih tenteram, dan saya mendapatkan berkah, barokah serta hidayah dari Allah SWT. Alhamdulillah kalau tahun kemarin saya sekarang mendapat hidayah untuk menjadi mualaf,” ungkapnya.
Selain memiliki makna spiritual, Ruwatan Massal Murwakala juga menjadi bagian dari pelestarian budaya Jawa yang terus dijaga oleh masyarakat Kediri. Melalui kegiatan ini, nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, serta penghormatan terhadap tradisi leluhur diharapkan tetap hidup dan diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas budaya daerah. [nik/ang]

