Kediri (tahukediri.id) – Hingga awal tahun 2026, Kabupaten Kediri tetap menemukan kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan sapi. Tercatat hingga 12 Januari kemarin, masih ada 48 kasus PMK dengan satu kasus kematian ternak di Kecamatan Tarokan.
Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri, Tutik Purwaningsih, menyampaikan, hari ini, Rabu (14/1/2026) tim dari Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates, yakni UPT dari kementerian melakukan surveilans di Kabupaten Kediri, khususnya di Kecamatan Wates yang sebelumnya dilaporkan memiliki sekitar 27 kasus PMK.
“Hari ini tadi, tadi pagi di Kantor di DKPP, kedatangan tim dari BP Vet yang dipimpin langsung Bapak Kepala Balai. Jadi, Dokter Hewan Sapto memimpin langsung tim, ada yang ke Tuban. Jadi, seluruhnya dilakukan surveilans atau monitoring,” ujarnya.
Lebih lanjut Tutik menjelaskan, surveilans yang dilakukan kali ini meliputi pengambilan sampel darah, baik dari yang terkena maupun desa wilayah lain yang masih steril guna
melihat efektivitas vaksin serta pengaruh lalu lintas ternak.
“Jadi terus dari pemerintah pusat maupun dari kami di kabupaten sendiri terus melakukan upaya pencegahan karena mengalami tahun 2022 kemarin petani peternak luar biasa dampaknya. Kita tetap waspada terkait dengan PMK,” imbuhnya.
Menurut Tutik, PMK merupakan penyakit hewan menular strategis yang pernah memberikan dampak ekonomi luar biasa, baik di Kabupaten Kediri maupun secara nasional sejak tahun 2022. Dan Pemkab Kediri terus meningkatkan kewaspadaan terhadap PMK yang masih ditemukan pada hewan ternak.
“Dari tahun 2022 sampai dengan sekarang, Kabupaten Kediri tetap mewaspadai dan melakukan kegiatan pencegahan. Vaksinasi terus dilakukan, kemudian sosialisasi, edukasi, keswan terpadu juga terus dilakukan,” katanya.
Meski kasus PMK masih ditemukan sepanjang 2024 hingga awal 2026, hal tersebut tidak menyurutkan upaya pemerintah dan masyarakat untuk terus waspada. Tutik menyebutkan, keberadaan virus PMK dipengaruhi berbagai faktor, di antaranya sifat virus yang masih bertahan serta tingginya lalu lintas ternak yang sulit dikendalikan.
“Ada beberapa hal yang mempengaruhi juga kenapa PMK juga memang masih ada karena sifat virus sendiri, kemudian juga lalu lintas saat ini agak apa ya, sulit terkendali karena banyak permintaan keluar masuk, juga ada dropping beberapa bantuan dan juga lalu lintas yang dari luar Kabupaten Kediri dan itu juga menjadi perhatian dari Kementerian Pertanian,” paparnya.
Tutik menambahkan, pada tahun 2025 hingga awal 2026, kasus PMK lebih banyak menyerang sapi potong dibanding sapi perah. Hal ini disebabkan tingkat mobilitas sapi potong yang jauh lebih tinggi, seperti perpindahan antar pasar hewan hingga pengiriman ke luar wilayah.
Selain itu, penurunan kesadaran sebagian peternak terhadap pentingnya vaksinasi juga menjadi tantangan.
“Tapi yang terakhir-terakhir ini yang banyak adalah sapi potong karena tadi, lalu lintas ternaknya luar biasa, kalau sapi perah jarang keluar masuk, tapi kalau sapi potong memang luar biasa,” tambahnya.
DKPP Kabupaten Kediri terus mengimbau peternak agar rutin melakukan vaksinasi, termasuk booster, serta tidak memperjualbelikan ternak yang sakit dan melakukan penyemprotan disinfektan setiap kali selesai angkut sapi pada angkutan maupun alas yang digunakan untuk meminimalisir terjadinya virus. Pengawasan di pasar hewan juga akan diperketat agar tidak menjadi sumber penularan PMK.
“Imbauan terkait dengan jangan menjual sapi yang sakit, itu terus, untuk edukasinya. Cuma terkait dengan pengamatan untuk sapi yang masuk, ini perlu kami tingkatkan lagi untuk terus menjaga pasar hewan, biar tidak menjadi tempat penularan,” pungkasnya. [nik/ang]

