Kediri (tahukediri.id) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas III Dhoho Kediri memprediksi potensi hujan di wilayah Kediri Raya masih akan berlangsung hingga akhir tahun 2025. Masyarakat diimbau tetap waspada, terutama menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Dhoho Kediri, Lukman Soleh, melalui Ketua Tim Kerja Meteorologi Publik, Satria Kridha Nugraha, menjelaskan bahwa dalam beberapa hari ke depan hingga tanggal 25 Desember hujan masih berpotensi terjadi, namun belum mengarah pada hujan lebat.
“Tanggal 22 mungkin sampai tanggal 25, ini tetap ada potensi hujan, tapi enggak yang sampai lebat sekali. Kemungkinan besarnya seperti itu, tapi tanggal 25 ke atas sampai akhir tahun itu ada potensi curah hujannya cenderung meningkat lagi,” terangnya, Senin (22/12).
Satria menambahkan, kondisi cuaca yang sempat relatif kering beberapa hari lalu disebabkan oleh pengaruh tidak langsung bibit siklon tropis 93S. Namun, seiring pergerakan siklon yang semakin menjauhi wilayah Indonesia, efek tarikan massa udara basah pun berkurang dan kondisi cuaca kembali ke pola normal musim hujan. “Jadi, ini sekarang sudah kembali normal. Jadi, normalnya musim hujan,” imbuhnya.
Lebih lanjut Satria menjelaskan adanya potensi peningkatan curah hujan mulai tanggal 25 Desember tersebut akibat pengaruh fenomena gelombang Rossby. Fenomena ini dapat meningkatkan pertumbuhan awan konvektif, khususnya awan kumulonimbus (CB), yang berpotensi memicu hujan sedang hingga lebat.
“Gelombang Rossby itu, jadi setiap apa ya, dia selalu berkering karena adanya efek Coriolis ya. Coriolis itu efek karena gaya putar bumi, jadi ada menghasilkan namanya gelombang Rossby itu. Jadi gelombangnya selalu berputar mengitari bumi. Itu akibatnya jadi meningkatkan pertumbuhan awan konvektif, dan awan konvektif itu biasanya menjadi awan kumulonimbus atau awan CB. Akhirnya terjadi hujan dengan intensitas sedang, tinggi,” paparnya.
Selain itu, BMKG juga mencatat bahwa saat ini Indonesia sedang dipengaruhi fenomena La Nina dan Indian Ocean Dipole (IOD) negatif. Kondisi tersebut menyebabkan suhu permukaan laut di sekitar Indonesia lebih hangat dari normal, sehingga meningkatkan potensi curah hujan hingga 20–40 persen di atas rata-rata.
Karena itu, BMKG Kediri menghimbau seiring libur Natal dan Tahun Baru yang cukup panjang, agar lebih berhati-hati, khususnya bagi yang beraktivitas di wilayah pegunungan, daerah rawan longsor, maupun di sekitar aliran sungai.
“Maka dari itu, untuk yang bepergian di wilayah pegunungan atau di wilayah apa yang dekat dengan aliran sungai yang cukup deras, itu harus benar-benar dipertimbangkan dulu. Kalau memang terpaksa sudah harus ke sana, ya harus benar-benar waspada. Kalau misalkan sudah mulai ada hujan, ya segera meninggalkan lokasi,” terangnya.
Selain itu, bagi pengendara juga diingatkan untuk mewaspadai risiko aquaplaning, terutama saat melintas di jalan tol atau jalan dengan kecepatan tinggi saat hujan lebat. Imbauan batas kecepatan saat hujan di jalan tol harus dipatuhi demi keselamatan bersama.
“Jadi kalau misal bepergian, kemudian di terutama di tol ya, dengan kecepatan tinggi, itu kemudian ada hujan lebat. Nah, itu kan biasanya ada imbauan tuh di tol juga. Saat hujan lebat kecepatan maksimal berapa? Nah, itu harus diwaspadai jangan sampai tidak dipatuhi karena itu sangat berbahaya, tidak hanya membahayakan diri sendiri tapi orang lain juga,” tegastegasnya.
Sebelumnya BPBD Kabupaten Kediri juga menegaskan akan menyiagakan personil di tempat-tempat wisata Kabupaten Kediri pada saat libur Natal dan Tahun Baru. Mengingat Jawa Timur memasuki puncak musim penghujan, di mana pada masa itu rawan sekali bencana baik itu longsor maupun banjir.
“Untuk tempat wisata, nanti kami menyiagakan personil di tempat wisata pada waktu Natal maupun tahun baru,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kediri Stefanus Djoko Sukrisno saat ditemui usai Apel Kesiapsiagaan Operasi Lilin Semeru 2025, Jumat (19/12).
BMKG menekankan bahwa meskipun secara teori siklon tropis jarang melintasi wilayah Indonesia, beberapa kejadian seperti Siklon Seroja dan Cempaka menjadi bukti bahwa perubahan iklim membuat potensi tersebut semakin nyata.
“Secara teori memang wilayah indonesia tidak memungkinkan untuk dilalui siklon tropis, namun dengan adanya beberapa kejadian (siklon seroja, siklon cempaka dan senyar) membuktikan bawa teori tersebut sudah tidak relevan, hal tersebut dikarenakan perubahan iklim. Jadi mulai sekarang kita harus lebih waspada terhadap pertumbuhan siklon tropis di dekat indonesia,” tandasnya. [nik/ang]

