Kediri (tahukediri.id) – Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana bersama Kapolres Kediri dan jajaran Forkopimda memastikan pengamanan perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) di Kabupaten Kediri berjalan aman, tertib, dan kondusif. Hal tersebut disampaikan usai rapat koordinasi serta kunjungan langsung ke Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Segaran, pada Selasa (23/12/2025).
Mas Dhito, sapaan akrab Bupati Kediri, menjelaskan bahwa Polres Kediri telah menyiapkan enam titik pos pengamanan (pospam) yang tersebar di sejumlah lokasi strategis. Hingga saat ini, pelaksanaan pengamanan Nataru dinilai berjalan lancar tanpa kendala berarti.
“Alhamdulillah, sejauh ini tidak ada kendala yang signifikan. Jadi, kita bagi tugas, tugas saya, Pak Kapolres beserta Forkopimda adalah memastikan jalannya ibadah Natal dan tahun baru bisa berjalan dengan lancar dan Pak Pendeta nanti memimpin para jemaat untuk ibadah Natal dan sudah dimulai dari tanggal 8 Desember. Nanti puncaknya di tanggal 25 Desember jam 08.00 pagi,” paparnya.
Lebih lanjut Mas Dhito, sapaan akrabnya menjelaskan, bukan tanpa alasan pihaknya memilih GKJW Jemaat Segaran sebagai tempat kunjungan dalam patroli gabungan cipta kondisi Nataru tahun ini, karena menurutnya, gereja tersebut merupakan salah satu gereja tertua di Kabupaten Kediri yang berdiri sejak tahun 1887 atau berusia sekitar 138 tahun. Selain itu, Desa Segaran juga memiliki mayoritas penduduk umat Kristiani, yakni sekitar 1.800 dari total 2.000 jiwa.
“Jadi, ini salah satu gereja tertua di Kabupaten Kediri dan mayoritas penduduk. Mayoritas penduduk di Desa Segaran ini kurang lebih dari 2.000 penduduk, 1.800-nya adalah umat Kristiani. Maka tadi kita berkunjung ke sini dan memastikan insyaallah tidak ada kendala apapun,” jelasnya.
Mas Dhito juga menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Kediri telah memberikan bantuan sarana dan prasarana penunjang ibadah, seperti pendingin ruangan (AC). Sementara itu, untuk kebutuhan pembangunan pagar samping gereja direncanakan akan dibantu pada tahun 2026 mendatang.
Sementara itu, Pendeta GKJW Jemaat Segaran, Antonius Andix Nugroho, menyambut baik kunjungan Bupati Kediri beserta jajaran Forkopimda. Ia mengapresiasi inisiatif patroli gabungan dan pesan-pesan kebangsaan serta empati yang disampaikan kepada jemaat.
“Kami juga antusias untuk melakukan pesan-pesan yang disampaikan termasuk Salah satu pesan yang menurut kami baik adalah untuk berbela rasa pada saudara-saudara kita yang terkena bencana di daerah Sumatera dan Aceh. Untuk malam tahun baru tidak diadakan pesta kembang api,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa GKJW Jemaat Segaran secara berkelanjutan menjalankan pendidikan moral bagi anak-anak hingga orang dewasa melalui berbagai program pembinaan gerejawi.
“Iya, untuk pendidikan moral pada anak-anak kami sifatnya berkelanjutan. Jadi kami sudah lakukan, selalu kami lakukan perjenjangnya mulai dari usia ini ya kami menyebutnya ada usia pratama kemudian lebih gede sampai remaja sampai pemud,” imbuhnya.
Pada kesempatan tersebut, Bupati Kediri juga menegaskan bahwa, pemerintah Kabupaten Kediri memutuskan untuk meniadakan pesta kembang api pada malam tahun baru 2026, termasuk di kawasan Simpang Lima Gumul (SLG) yang direncanakan sebagai pusat perayaan tahun baru. Ia mengimbau seluruh masyarakat untuk memahami keputusan pemerintah daerah tersebut.
“Saya mengimbau kepada mengimbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Kediri untuk acara tahun baru. Pesta kembang api dengan berat hati saya putuskan untuk ditiadakan” ujarnya.
Menurutnya, sangat tidak etis merayakan selebrasi sementara saudara kita di tiga provinsi yakni Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh sedang mengalami kesulitan. Meski kembang api yang direncanakan sebagai perayaan tahun baru sudah dibelinya.
“Kembang apinya sudah kita beli sebenarnya, tapi kemungkinan tidak akan kita lakukan karena ini bagian dari bentuk empati kita terhadap saudara-saudara kita di Aceh, Sumut, dan Sumbar,” terangnya.
Sebagai gantinya, Pemkab Kediri akan menggelar doa bersama dan istigotsah pada malam pergantian tahun. Kegiatan tersebut juga akan melibatkan tokoh lintas agama sebagai wujud solidaritas dan kebersamaan.
“Dengan pertimbangan kita adakan doa dan istigozah, doa bersama, nanti Pak Pendeta juga mungkin bisa memimpin doa untuk bagian dari rasa empati kita terhadap saudara-saudara kita yang di Sumut, Sumbar, dan Aceh,” tandasnya. [nik/ang]

